Wednesday, November 9, 2011

Impor gula mentah & industri rafinasi domestik


Kementerian Pertanian mengusulkan kebutuhan gula oleh industri kecil dan rumah tangga 278.652 ton dipasok dari gula lokal mulai tahun depan bukan dari gula rafinasi.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan keputusan itu akan disampaikan dalam rapat koordinasi di Menko Perekonomian. Pasar gula industri kecil dan rumah tangga yang selama ini dipasok oleh gula kristal rafinasi akan diisi oleh gula lokal.

“Ini akan berdampak pada pengurangan volume impor raw sugar. Akan dirapatkan dulu di Menko Perekonomian,” ujarnya, Selasa 09 November 2011.

Menurutnya, saat ini masih ada wilayah abu-abu (tidak jelas) pasar gula, yaitu segmen industri kecil dan rumah tangga yang masih dipasok oleh gula rafinasi.

Suswono menjelaskan selama ini industri kecil dan rumah tangga menggunakan gula lokal.

Selama ini, kebutuhan gula industri kecil dan rumah tangga dipasok oleh gula rafinasi. Padahal, menurutnya, industri kecil dan rumah tangga menggunakan gula produksi lokal. Oleh karena itu, kuota imppor gula mentah oleh pabri gula rafinasi menjadi lebih besar.

“Terkait konsumsi gula industri rumah tangga selama ini masih dipasok oleh gula rafinasi. Di lapangan industri rumah tangga dipenuhi oleh gula kristal putih.”

Menurutnya, keputusan itu untuk menghindari penghitungan ganda yang berpengaruh terhadap kuota impor gula mentah.

Mentan menegaskan keputusan industri kecil dan rumah tangga dipasok gula lokal tidak akan menyebabkan peningkatan konsumsi gula lokal, karena selama ini memang sudah dipasok gula petani. Konsumsi langsung gula 2,7 ton per tahun.

Kebutuhan gula untuk industri rumah tangga 278.652 ton. “Nanti industri rumah tangga itu akan digantu dengan usaha rumah tangga.”

Produsen gula kristal rafinasi menilai pasar gula rafinasi untuk industri kecil, menengah dan rumah tangga sebanyak 600.000 ton per tahun yang kemungkinan dapat masuk ke pasar eceran, kendati pemerintah telah membuat aturan secara ketat.

Sebelumnya, Sekjen Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Suryo Alam mengatakan 25% gula rafinasi diperuntukkan bagi industri kecil (UKM) dan industri rumah tangga yang dipasarkan melalui distributor.

Menurutnya, pemerintah telah memberikan izin impor gula mentah yang memang diperuntukkan bagi industri makanan dan minuman, sehingga jumlah impor telah disesuaikan dengan kebutuhan.

Apalagi, sekitar 75% produksi gula rafinasi di dalam negeri, kata dia, telah dilakukan kontrak dengan produsen makanan dan minuman skala besar, sehingga telah memiliki pasar yang jelas.

Pemerintah mengalokasikan impor gula mentah tahun ini sektar 2,4 juta ton dan jika diproduksi menjadi gula rafinasi menjadi sekitar 2,2 juta ton.

Menurut Suryo, produksi gula rafinasi sebanyak 2,2 juta ton itu diperuntukkan bagi industri makanan dan minuman skala besar sebanyak 1,6 juta ton, sedangkan industri kecil dan rumah tangga sebanyak 600.000 ton.

Dia menjelaskan peruntukkan gula rafinasi bagi industri kecil yang disalurkan melalui distributor telah diatur oleh regulasi dan diperbolehkan oleh pemerintah.

Saat ini terdapat 8 produsen gula rafinasi yang terdiri dari PT Makasar Tene di Makasar, dan PT Sugar Labinta di Lampung, 5 pabrik di Banten, dan 1 pabrik di Cilacap Jawa Tengah.

Selain gula kristal putih (GKP) yang merupakan gula konsumsi langsung untuk masyarakat, juga terdapat gula kristal rafinasi (GKR) yang peruntukannya bagi industri makanan dan minuman.

GKP diproduksi oleh sekitar 58 pabrik gula yang merupakan BUMN dibawah binaan PT Perkebunan Nusantara, PT Rajawali Nusantara dan pabrik gula swasta. Gula kristal putih tersebut berasal dari tebu yang ditanam petani di dalam negeri.

Adapun, gula rafinasi yang diproduksi oleh 8 pabrik gula rafinasi itu berbahan baku gula mentah impor.

Delapan pabrik gula rafinasi itu antara lain PT Angels Products, PT Jawamanis Rafinasi, PT Sentra Usahatama Jaya, PT Permata Dunia Sukses Utama, PT Dharmapala Usaha Sukses, PT Sugar Labinta, PT Duta Sugar Internasional, dan PT Makasar Tene. Izin impor raw sugar pada tahun lalu sebanyak 2,1 juta ton.

No comments: