Monday, November 14, 2011

Berlusconi, Invisible hand, Investor sepak bola




Di era globalisasi, sepak bola tak lepas dari skema pasar bebas. Arus modal dan pemain tak lagi dikungkung dengan batas-batas negara.

Namun jangan memaksa semua ide globalisasi sepak bola kepada Sandro Rosell. Sepak bola tak sekedar bicara uang. Ada rasa kebanggaan, perasaan, dan tentunya identitas yang kuat bagi sang Presiden klub Barcelona-Spanyol tersebut.

Pekan ini, Rosell meneriakkan keprihatinan terhadap tren kepemilikan investor asing di sejumlah klub sepak bola terkemuka dunia, seperti di liga Inggris dan Prancis.

"Barcelona bukanlah sebuah bisnis, ini soal perasaan. Kami tidak dimiliki oleh siapa pun. Kami tidak mempunyai klien. Selama saya jadi presiden, Barcelona tak akan dan tak pernah dijual," kata Rosell seperti dikutip Daily Mail.

Di Spanyol, Rosell tak sendirian. Dua bulan lalu, Presiden klub Real Madrid Florentino Perez bersuara lantang terhadap kepemilikan investor asing dan menolak aksi akuisisi paksa (hostile takeover).

"Miliuner akan datang seperti di Inggris dan Prancis, dan adanya dukungan dari para anggota pemilik saham, mereka akan menguasai klub ini. Itu bikin khawatir dan kami akan mengubah status dan menjaga hal tersebut tak terjadi," kata Perez seperti dilansir Bloomberg.

Presiden FIFA Sepp Blatter juga ikut bicara. Blatter yang baru menjadi anggota kehormatan Real Madrid, menilai cara-cara akuisisi investor itu harus dicermati.

"Ada sejumlah organisasi yang tidak transparan, banyak dari mereka bermarkas di Karibia, Kepulauan Virgin, Inggris, Gibraltar, dan Kepulauan Cayman. Ini merupakan masalah sangat sulit dan kami memerlukan bantuan badan yudisial di semua negara untuk menanganinya."

Real Madrid dan Barcelona punya kesamaan dari sisi kepemilikan. Jika Madrid memiliki 90.000 pemilik saham, Barcelona mempunyai 180.000 kepemilikan individu yang punya wewenang memilih presiden dan direktur klub untuk masa 4 tahun.

Rosell dan Perez sebenarnya bukan membenci pasar bebas di dalam sepak bola. Mereka sadar benar olah raga terpopuler di bumi itu tetap membutuhkan modal sebagai pelumas. Sponsor dan kontrak besar juga menjadi kunci kesuksesan.

Madrid memiliki daftar kontrak sponsor dan iklan yang panjang, mulai dari Coca Cola di Amerika Latin hingga produk kacang Indonesia. Barcelona pun menerima fulus sponsor yang tak sedikit.
Pada September 2011, Rosell mendapatkan persetujuan untuk melanjutkan kerja sama dengan Qatar Foundation dengan nilai 171 juta euro sejak 2010 hingga 2015.

Namun, persetujuan itu taklah mudah diteken Rosell. Dari 809 para pemilik suara yang terdaftar hadir di rapat pemegang saham, Rosell didukung 697 suara, 76 menentang dan 36 tak menyatakan pendapat agar Qatar Foundation tertera di kostum Lionel Messi dkk.

Klub yang berusia lebih dari 100 tahun itu memang baru 2010 menggunakan logo sponsor di kostum pemain.
Bagi klub-klub kecil di La Liga, Barcelona dan Real Madrid boleh saja teriak soal anti investor asing karena keduanya klub kaya. Bagi Levante, Real Betis dan kawan-kawan, aliran modal asing itu bak oase di padang pasir.

Sudah bukan rahasia, klub-klub di Spanyol tak seperti di Inggris dan Italia yang sedikit lebih adil dari sisi pembagian hak siar televisi. Tak heran, klub seperti Malaga Club de Futbol langsung jadi sasaran investor asing.

Malaga dimiliki miliuner Qatar bernama Sheikh Abdullah bin Nasser bin Abdullah Al Ahmed Al Thani yang pada Juni 2010 membeli kepemilikan klub dari Lorenzo Sanz (mantan presiden Real Madrid) dengan nilai akuisisi 36 juta euro.

Sheik Abdullah Al Thani seakan ingin menyaingi Qatar Investment Authority yag membeli Paris Saint-Germain pada Mei 2011, dan ingin sukses seperti Sheikh Mansour Bin Zayed Al Nahyan, pemilik Manchester City.

Kondisi yang terjadi di Spanyol pun nyaris sama dengan di Italia. Mayoritas klub adalah dimiliki pengusaha lokal yang memang secara tradisional lebih diterima para fan dan tentu pemerintah setempat. Tapi itu masa lampau.

Klub ibu kota Italia, AS Roma menjadi tim pertama di Italia yang dikuasai grup investor Amerika Serikat yang berbasis di Boston pimpinan Thomas DiBenedetto. Sang taipan juga salah satu mitra utama John W. Henry yang memiliki klub bisbol Boston Red Sox dan klub Inggris Liverpool.

Tak tanggung-tanggung DiBenedetto menarik eks bintang Barcelona Luis Enrique menjadi pelatih dan striker mungil Bojan Krkic mendampingi pangeran Roma, Francesco Totti. Hasilnya? i Giallorossi masih belum jua di puncak klasemen Serie-A.

Kini, AC Milan dikabarkan juga siap bersanding dengan investor asing. Faktor Silvio Berlusconi dan kondisi keuangan memprihatinkan yang dialami Fininvest, membuat AC Milan jadi incar miliuner Rusia dan Timur Tengah.

Apalagi Berlusconi dan partai Forza Italia kini tengah limbung di peta politik Negeri Pisa tersebut. Ekonomi Italia yang terkena krisis utang luar negeri bisa menjadi katalis. Dan sepak bola ternyata memang tak bisa dipisahkan dari invisible hand mekanisme pasar bebas.
(fahmi.achmad@bisnis.co.id)

No comments: