Skip to main content

XL Axiata hedging 80% utang

PT XL Axiata Tbk melakukan lindung nilai (hedging) terhadap 80% total utang asing, yang posisi (outstanding) akhir tahun lalu nilainya berkisar US$642,59 juta atau sekitar Rp6 triliun.

Direktur Keuangan PT XL Axiata Tbk Johnson Chan mengatakan lindung nilai tersebut dilakukan dengan membeli kontrak derivatif untuk meminimalisir risiko kurs, karena perseroan menanggung beban utang asing yang besar dengan pendapatan dalam rupiah.

“Sekitar 80% utang dalam dolar memang telah di-hedging, namun nilai kontraknya beragam. Preminya per tahun berkisar antara 2,5% hingga di atas 3%, yang harus dibayarkan per semester. Namun, tidak ada yang mencapai 4%,” tuturnya kepada Bisnis, sore ini.

Johnson belum bisa menyebutkan nilai total biaya yang harus dikeluarkan per tahun untuk membayar premi kontrak derivatif tersebut. Dalam laporan keuangan per Desember 2009, nilai kewajiban perseroan dalam kurs dolar mencapai US$642,59 juta.

Untuk terus menyusutkan kewajiban dolarnya, anak perusahaan XL yakni Excelcomindo Finance Company B.V. telah membeli kembali (buyback) sisa surat utang (obligasi) senilai US$250 juta. Nilai pembelian 18 Januari 2010 itu mencapai US$59,43 juta pada harga 103,563% dari nilai nominal.

Bisnis mencatat pada awal tahun ini, perseroan telah menandatangani kontrak derivatif dengan Standard Chartered Bank dan JP Morgan Chase Bank senilai total US$32,73 juta. Tahun lalu, perseroan tercatat juga melakukan kontrak derivatif dengan JPMorgan Securities Ltd dan PT DBS Bank Indonesia.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...