Skip to main content

Energi alternatif di Semen Gresik

PT Semen Gresik (Persero) Tbk tahun ini memperbesar penggunaan energi alternatif limbah pertanian guna mengurangi pemakaian batu bara di pabrik semen Tuban yang berkapasitas 9 juta semen ton per tahun, dimana peran energi terbarukan itu kini baru 1%.
Ditargetkan penggunaan energi alternatif dapat ditingkatkan menjadi 5% pada 2015, tetapi BUMN industri semen itu terkendala sulitnya mengumpulkan limbah pertanian.
Dirut PT SG Tbk Dwi Soetjipto mengatakan diversifikasi energi itu telah dirintis sejak 2007 melalui penggunaan limbah pertanian a.l. sekam padi, suatu langkah mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar batu bara yang kebutuhannya mencapai 1,2 juta ton per tahun.
Menurut dia, penggunaan energi alternatif lebih murah dibandingkan batu bara yang harganya cenderung fluktuatif (mengikuti harga internasional). SG dalam memenuhi kebutuhan batu bara menjalin kontrak jangka panjang maupun spot dengan para pemasok bahan bakar tersebut.
"Ke depan, penggunaan bahan bakar alternatif di pabrik Tuban terus ditingkatkan hingga mencapai 5% pada 2015 dan kami tahun lalu telah merampungkan pemasangan peralatannya. Tinggal mengumpulkan limbah pertanian dalam jumlah besar," ujarnya di sela-sela penyaluran beasiswa terhadap 110 mahasiswa dari 10 perguruan tinggi negeri, kemarin.
Dwi menambahkan potensi limbah pertanian di Jawa Timur cukup besar, tetapi pola pengumpulannya masih cukup sulit, sehingga volume bahan bakar itu yang diserap SG masih rendah. Peran energi alternatif dalam pengoperasian pabrik semen Tuban -yang berkapasitas 9 juta ton/tahun-hingga akhir 2009 masih 1% hingga 2%.
Sejak 2007 SG telah menyerap limbah pertanian dari Kab. Tuban dan sekitarnya, setelah memodifikasi peralatan di pabrik semen Tuban. Selain sekam padi, peralatan energi alternatif bisa diisi dengan sisa rajangan tembakau dari pabrik rokok.
Kelompok tani maupun koperasi disebutkan bisa berperan sebagai pemasok limbah pertanian kepada SG dengan volume tanpa batas, sehingga BUMN industri semen itu tidak perlu menyerap secara langsung dari para petani.
"Manajemen pengumpulan limbah pertanian ini masih menjadi problem bagi kami, tetapi kami sedang merancang pengoperasian pusat penampungan limbah melalui kerja sama dengan pemda kabupaten/kota," tuturnya.
Menurut Dwi, fluktuasi harga batu bara cukup menyulitkan perencanaan biaya energi pabrik semen. Untuk itu, SG selama ini mengoptimalkan kontrak jangka panjang saat harga batu bara mengalami kenaikan dan ketika harga bahan bakar itu turun dioptimalkan kontrak spot.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...