Skip to main content

Sehari bersama Boediono

Apa jadinya jika seorang kepala negara diganggu saat sedang menyampaikan pidatonya? Pengalaman itu dialami Wakil Presiden Boediono saat berpidato di Puskesmas Tambora, Jakarta Barat, Kamis (11/3/2010). Bukan siapa-siapa, hanya seekor kucing gendut berwarna kuning yang dengan tenangnya melintas di depan podium tempat Wapres pidato.

Meski hanya seekor kucing, wejangan Wapres di hadapan para petugas pelayanan Keluarga Berencana dan kesehatan se-Provinsi DKI Jakarta kontan terhenti. ”Seekor kucing tampaknya juga ingin berkunjung ke puskesmas. Tampaknya hamil ya dan ingin melahirkan. Sayang, tak ikut KB di puskesmas,” kata Boediono sambil senyum-senyum.

Sejurus kemudian, satu anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) bergerak menangkap kucing ”nakal” yang melintas sembarangan itu. Gerakan Paspamres itu dipicu komentar Wapres tadi. Tak langsung tertangkap, upaya Paspampres sempat gagal, sebelum akhirnya kucing itu disingkirkan ke luar puskesmas.

Di Kantin Kejujuran SMA Negeri 40 Pademangan, Jakarta Utara, Wakil Presiden Boediono, yang kini tengah disorot pascakeputusan Rapat Paripurna DPR tentang kasus Bank Century, menuliskan kata-kata yang amat bijak.

”Kejujuran adalah bagian dari watak pemimpin bangsa. Lanjutkan! Kantin Kejujuran,” demikian pinta Boediono dalam pesan tertulis di atas kertas putih sebelum meninggalkan Kantin Kejujuran SMA Negeri 40, Pademangan, Jakarta Utara, Kamis (11/3/2010) siang ini.

Peninjauan Wapres ke kantin kejujuran merupakan bagian dari kunjungan kerja setengah hari ke SMA Negeri 40 Pademangan dan Puskesmas Tambora di Jakarta Barat.

Sebelumnya, saat memberikan pengarahan di SMA Negeri 40, Pademangan, Boediono menyatakan, pemimpin bangsa di Indonesia tidak cukup hanya memiliki keterampilan saja, tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan kejujuran, kecintaan terhadap negeri, serta seiya sekata dalam perbuatan.

Kantin kejujuran adalah proyek percontohan peningkatan kejujuran di DKI Jakarta dan di Indonesia. Di SMA Negeri 40, kantin tersebut baru terbentuk pada awal Maret lalu sebelum kedatangan Wapres. Di kantin itu, siswa membeli dengan mengambil makanannya sendiri, membayar sendiri, dan mengambil uang kembalian sendiri, tanpa melalui penjaga kantin.

Dalam kunjungan itu, Boediono didampingi empat menteri kabinet, yaitu Menko Kesra Agung Laksono, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Menteri Pendidikan Nasional M Nuh, dan Menteri Agama Suryadharma Ali.

Boediono juga mengajak pejabat lain, di antaranya Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Dalam kunjungan ini, Wapres disambut oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 40 Matalih.

akil Presiden Boediono menyatakan, pemimpin bangsa di Indonesia tidak cukup hanya memiliki keterampilan saja, tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan kejujuran, kecintaan terhadap negeri, serta seiya sekata dalam perbuatan.

Hal itu disampaikan Boediono dalam pengarahannya saat kunjungan kerja Boediono selaku pelaksana tugas sehari-hari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis (11/3/2010) pagi ini di SMA Negeri 40 Pademangan, Jakarta Utara.

Dalam acara itu, Boediono didampingi empat menteri kabinet, yaitu Menko Kesra Agung Laksono, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Menteri Pendidikan Nasional M Nuh, dan Menteri Agama Suryadharma Ali. Boediono juga mengajak pejabat lain, di antaranya Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

”Selain keterampilan untuk menjadi pemimpin bangsa, seseorang juga harus memiliki kecintaan terhadap Tanah Air, kejujuran, dan seiya sekata dalam perbuatan,” ungkap Boediono.

Menurut Boediono, watak dan karakter bangsa, seperti kejujuran, kecintaan terhadap Tanah Air, dan seiya sekata, harus dibentuk sejak dini dari lingkungan keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Setelah bersilaturahim dengan perwakilan pelajar se-DKI Jakarta Utara di SMA Negeri 40 Pademangan, Jakarta Utara, Boediono juga akan mengunjungi petugas pelayanan Keluarga Berencana dan kesehatan se-Provinsi DKI di Puskesmas Tambora, Jakarta Barat.

Kunjungan kerja Wakil Presiden Boediono, selaku pelaksana tugas sehari-hari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis (11/3/2010) pagi ini, sarat dengan berbagai bantuan cuma-cuma, selain juga menggelar acara dialog.

Bantuan yang disampaikan Boediono tercatat bukan hanya bantuan yang selama ini sudah diberikan pemerintah, seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS) lewat APBN, tetapi juga bantuan lainnya, seperti dari kalangan perbankan dan kementerian.

Berdasarkan data yang diterima Kompas, selain bantuan komputer senilai Rp 50 juta dari masing-masing bank pemerintah, juga bantuan beasiswa dari Menteri Agama dan Mendiknas senilai puluhan miliar serta bantuan rehabilitasi ruang kelas dan peningkatan sarana serta prasarana madrasah, tsanawiyah, dan ibtidaiyah senilai Rp 600 juta ke sekolah.

Tercatat, dalam pemberian bantuan itu langsung diserahkan oleh para menteri dan direksi lima bank, yaitu Dirut Bank Negara Indonesia (BNI) Gatot Soewondo, Wakil Dirut Bank Mandiri Wayan Martoyoso, Dirut Bank Tabungan Negara (BTN) Iqbal Matanro, Direktur UMKM Bambang Soepono, dan Dirut Bank Syariah Mandiri Yuslam Fauzi.

Empat menteri mendampingi Wakil Presiden Boediono, selaku pelaksana tugas sehari-hari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam kunjungan kerja ke kawasan Pademangan, Jakarta Utara, Kamis (11/3/2010).

Empat menteri itu adalah sebagian menteri yang ”tersisa” dari yang disertakan dalam kunjungan kenegaraan Presiden ke Australia dan Papua Niugini. Dalam kunjungan tersebut, Presiden mengajak 12 menteri atau sepertiga dari 35 anggota kabinet.

Keempat menteri itu adalah Menko Kesra Agung Laksono, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Menteri Pendidikan Nasional M Nuh, dan Menteri Agama Suryadharma Ali. Boediono juga mengajak pejabat lain, di antaranya Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

Selain bersilaturahim dengan perwakilan pelajar se-DKI Jakarta Utara di SMA Negeri 40 Pademangan, Jakarta Utara, Boediono juga akan mengunjungi petugas pelayanan Keluarga Berencana dan kesehatan se-Provinsi DKI di Puskesmas Tambora, Jakarta Barat.

Meskipun naik bus yang berbeda dengan Wakil Presiden Boediono, para wartawan peliput kegiatan Wapres di Gedung SMA Negeri 40 Pademangan, Jakarta Utara, dan Puskesmas Tambora, Jakarta Barat, Kamis (11/3/2010), harus menjalani pemeriksaan ketat dari seorang anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Bahkan, bukan hanya tubuh wartawan, akan tetapi juga tas bawaan para wartawan. Tas para wartawan diperiksa di atas bus, yang sudah ditinggalkan para wartawan di kursi karena adanya pemeriksaan mendadak Paspampres. Sedangkan pers, yang sebelumnya sudah naik ke bus yang diparkir di depan rumah dinas Wapres di Jalan Diponegoro diminta turun dan diperiksa satu persatu sebelum naik kembali ke atas bus.

"Karena teman-teman pers akan meliput kegiatan Wapres dan masuk ke Ring 1 atau wilayah Very Very Important Person (VVIP), maka sesuai dengan prosedur pengamanan teman-teman dan tas bawaan harus diperiksa dulu," ujar seorang perwira berpakaian TNI-AD, yang saat itu menjabat sebagai Komandan Kompleks (Danpleks).

Para wartawan, Kepala Biro Pers dan Media Massa Wapres Isbudi Santoso serta sejumlah staf Biro Pers, yang sebelumnya sudah duduk di bus, kemudian turun dan meninggalkan tas bawaannya.

Seorang petugas Paspampres berpakaian safari didampingi Danpleks kemudian memeriksa satu per satu tas yang ditinggalkan wartawan di kursi. Pemeriksaan dilakukan dari kursi depan ke belakang bus.

Setelah selesai, barulah wartawan diperkenankan naik ke bus. Sebelum naik, pers diperiksa tubuhnya oleh Paspampres satu per satu. Setelah menjalankan tugasnya, sang Danpleks kemudian mengucapkan terima kasih kepada pers atas kerjasamanya.

Sejumlah wartawan mengakui, pemeriksaan wartawan yang ikut dalam kunjungan Wapres, meskipun naik bus yang berbeda dengan bus yang ditumpangi Wapres dan rombongan menteri, diakui baru pertama kali terjadi selama peliputan di Istana Wapres. Bahkan, disebut-sebut baru terjadi sejak era Orde Baru.

"Tidak apa-apa sih. Mungkin karena baru ada penggerebekan teroris kali ya...," komentar seorang wartawan.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...