Peta saham telekomunikasi

Peta saham telekomunikasi


Tiga pemain utama penyedia jasa seluler diperkirakan masih mendominasi industri layanan telekomunikasi ini pada 2010. Persaingan ketat diduga terjadi di lini kedua, antara PT Indosat Tbk dan PT XL Axiata Tbk.
Untuk memetakan posisi ketiga pemain utama penyedia layanan seluler tersebut, Citi Investment Research menjalankan survei di lima kota nasional, yakni Jakarta (Jawa), Bali, Makassar (Sulawesi), Balikpapan (Kalimantan), dan Medan (Sumatra).
Survei terhadap 150 orang dengan rata-rata usia 29 tahun tersebut menunjukkan tiga pemain besar masih mendominasi terutama di Jawa dan Sumatra yang menjadi tempat hidup 80% populasi Indonesia.
Riset Citigroup tersebut menunjukkan belum ada tanda perubahan posisi di antara tiga operator besar. Di antara ketiga pemain besar tersebut, XL dinilai sebagai calon kuat penantang posisi kedua, dengan tarif layanan suara yang stabil dan terjangkau.
“Pertanyaan utama pada 2010 adalah apakah Indosat akan menyerahkan posisi kedua [berdasarkan pangsa pasar] yang didudukinya sekarang kepada XL Axiata, atau melakukan pembalikan kinerja,” tutur analis PT Citigroup Global Markets Karen Ang, Mohit Jain, dan Anand Ramachandran dalam laporan riset per 4 Februari.
XL Axiata, lanjut mereka, mempersempit jarak dengan Indosat sejak dua tahun terakhir. Pada triwulan III/2009, XL mengejar pangsa pasar pelanggan Indosat sebesar 150 basis poin (bp) dibandingkan dengan posisi pada triwulan I/2008 sebesar 590 bp.
Berdasarkan survei tersebut, anak usaha operator telekomunikasi Malaysia Axiata Group Berhad ini dinilai memiliki pangsa pasar terbesar di Jakarta dan Bali, dan mayoritas responden menganggapnya sebagai merek paling inovatif di antara ketiga pemain besar.
Secara umum, survei tersebut menunjukkan Jakarta yang merupakan pasar paling kompetitif tidak dikuasai oleh operator tertentu. Menurut survei itu, Telkomsel yang selama ini menjadi penguasa pasar operator seluler tercatat hanya mendominasi pasar luar Jawa.
Di Makassar, Balikpapan, dan Medan, Telkomsel menjadi pemimpin utama dengan andalan jaringan luas. Tidak heran, Telkomsel dinilai sebagai merek premium dan XL menjadi alternatif telepon murah meski sebenarnya tarif mereka tidak jauh berbeda dari kedua pesaingnya.
“Di Jakarta, tiga pemain besar hanya menyisakan 5% pangsa pasar untuk operator seluler kecil, kecuali untuk Esia milik Bakrie Telecom yang memiliki traksi terbesar. Kami menilai pendatang baru terlambat membangun jaringan di luar Jawa, menyulitkan mereka meraih pangsa pasar,” ungkap analis broker asing tersebut.

Faktor harga
Dalam survei tersebut, Citi mencatat lebih dari separuh responden mengaku memiliki dua atau lebih kartu SIM. Mereka membelanjakan 5%-8% pendapatan bulanan untuk membayar jasa komunikasi seluler.
Faktor harga selama ini menjadi pertimbangan utama berlangganan operator seluler. Para responden Citi mengaku enggan menjadi pelanggan layanan telepon seluler yang memiliki durasi tarif promosi beragam dan justru membingungkan.
“Kami yakin stabilitas harga akan bertahan sepanjang 2010, dengan beberapa operator berupaya menaikkan harga meski tidak signifikan. Pada 2009, tiga pemain utama fokus menaikkan harga, dengan Telkomsel dan XL bergerak lebih agresif dari Indosat,” komentar Citi.
Berdasarkan perbandingan posisi harga pada Desember 2009 dan September 2008, Indosat tercatat lebih stabil menjaga harga mengingat posisi harganya memang sudah lebih tinggi dibandingkan dengan para kompetitornya.
Ceruk baru yang dinilai terbuka dan berpotensi memperkuat kinerja adalah bisnis layanan data nirkabel. Semua responden mengaku familiar dengan layanan broadband nirkabel, dan 53% di antaranya mengaku telah menggunakan jasa tersebut.
“Kejutan besar timbul di Sulawesi ketika 90% responden menggunakan layanan tersebut, sedangkan Kalimantan memiliki penetrasi broadband nirkabel terendah. Pemain kunci di bisnis tersebut adalah Indosat dan Telkomsel, terutama Indosat yang mendominasi bisnis tersebut,” papar Citi lagi.
Di antara para responden, Indosat menyumbang 40%-50% pangsa pasar di Jakarta, Bali dan Kalimantan. Di sisi lain, Telkomsel mendominasi Sumatera dan Sulawesi masing-masing sebesar 72% dan 78%. Operator CDMA Smart, yang mengoperasikan teknologi EV-DO meraup 15%-17% pangsa pasar di Jakarta, Bali dan Sumatra.

Peringkat
Berdasarkan survei lapangan tersebut, Citi memertahankan peringkat beli saham Telkom dengan risiko rendah, dan menaikkan peringkat Indosat menjadi beli dengan risiko medium dari sebelumnya tahan.
“Kami yakin lingkungan kompetitif mendukung pertumbuhan pendapatan digit ganda pada 2010, memperkuat pandangan positif kami. Kami memperkirakan pertumbuhan pendapatan sebesar 10% untuk tiga peman utama industri tersebut, dengan pertumbuhan laba bersih berkisar 10%-15%,” ujar ketiga analis broker asing tersebut.
Pertumbuhan pendapatan industri seluler pada 2009 hanya 4,9% dan kenaikan pendapatan pemain tiga besar mencapai 3,8%. Tahun ini, Citi memperkirakan ketiga pemain tersebut membukukan kenaikan pendapatan sebesar 11,8%.
Pertumbuhan tersebut jauh melampaui kawasan, memberi landasan pemberian valuasi premium terutama untuk Telkom. Indosat dinilai memiliki pertumbuhan terkuat berdasarkan upaya pembalikan posisi.
Saham berkode ISAT tersebut saat ini diperdagangkan di bawah diskon historis saham Telkom, jika dilihat dari sisi rasio harga saham dibandingkan dengan laba bersih per saham (price to earning ratio/PER) dan rasio nilai perusahaan terhadap laba sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EV/EBITDA). Laba bersih perusahaan yang kini dikendalikan Qtel tersebut dinilai sensitif terhadap kenaikan pendapatan.
Tiap 1% kenaikan pendapatan akan menaikkan laba bersih sebesar 4%, dibandingkan dengan posisi 2,3% untuk saham PT Telkom. “Namun kami yakin saham Indosat sewajarnya tetap di posisi diskon terhadap Telkom, karena pengembalian investasinya yang lebih rendah. Dengan target harga Rp6.500 untuk Indosat, kami menilai harga tersebut pada posisi 6 kali EV/EBITDA, diskon 21% terhadap harga saham Telkom Rp10.500,” tulis Citigroup. (arif.gunawan@bisnis.co.id)

Comments

Popular posts from this blog

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Dengan Vaksinasi, Ekonomi Bertumbuh, Ekonomi Tangguh

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi