Skip to main content

Pelunasan obligasi Mobile-8 Telecom

PT Mobile-8 Telecom Tbk siap melunasi gagal bayar (default) bunga obligasi ke-12 tahap I/2007 dan denda ke-9 tahap kedua obligasi I/2007 dengan menggunakan dana internal paling lambat 14 hari sesudah jatuh tempo.

“Fokus perseroan saat ini adalah melunasi default itu [bunga obligasi ke-12 tahap I/2007 dan denda ke-9 tahap kedua obligasi I/2007] Pelunasan sepenuhnya dengan kemampuan internal, di ambil dari kas internal,” ujar Corporate Secretary Mobile-8 Chris Taufik kepada Bisnis kemarin.

Chris mengatakan pihaknya akan segera melunasi gagal bayar tersebut paling lambat 14 hari kerja sesudah jatuh tempo pembayaran pada 15 Maret lalu sesuai dengan janjinya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) selaku otoritas. Artinya, sebelum 2 April Mobile-8 harus membayar lunas kewajibannya tersebut.

Ketika ditanyai perihal jumlah kas internal perseroan saat ini serta apakah Mobile-8 akan menggelar Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) terkait dengan masalah gagal bayar tersebut, Chris enggan memberi komentar.

Akibat kegagalan gagal bayar tersebut, BEI membekukan perdagangan obligasi ke-12 tahap I/2007 itu sekaligus menghentikan sementara transaksi saham perseroan berkode FREN tersebut. Pembekuan transaksi itu dilakukan menyusul adanya laporan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang menunjukkan emiten obligasi dan saham itu belum melunasi kupon obligasi.

Saat di suspend, harga saham FREN berada pada Rp51 per lembar, harga itu naik Rp1 dari harga perdagangan hari sebelumnya yang senilai Rp50, sehingga kapitalisasi pasarnya senilai Rp1,68 triliun.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito mengatakan pihaknya masih menantikan janji Mobile-8 tersebut. “Kami [BEI] masih melihat perkembangan yang ada. Jika suspend FREN mau dicabut maka pertama-tama mereka harus membayar dulu obligasinya,” ujar Eddy

Lebih lanjut Eddy mengatakan jika dalam 14 hari sesudah jatuh tempo, pihak Mobile-8 tidak segera melunasi pembayaran bunga obligasi ke-12 tahap I/2007 dan denda ke-9 tahap kedua obligasi I/2007 maka BEI selaku otoritas akan memanggil perseroan untuk meminta penjelasannya.

“Mereka kan janji bisa menyelesaikan itu dalam 14 hari, jadi ya kami menunggu saja. Kalau mereka minta perpanjangan ya kami perpanjang. Tapi kami lihat dulu perkembangannya,” tutur Eddy.

Terkait dengan rencana Group Sinarmas yang mengkaji ulang rencana menaikkan kepemilikan saham menjadi mayoritas di Mobile-8 terkait default, Chris berujar, “Kami belum tahu lebih jauh tentang rencana itu. Yang kami tahu mereka akan menambah porsi kepemilikan sahamnya sesudah restrukturisasi kami selesai. Kepemilikan Sinarmas hanya 3%. Kami belum tahu mereka akan tambah berapa.”

Berdasarkan data BEI 15 Maret, porsi kepemilikan saham Mobile-8 terbesar dikuasai Jerash Investment dengan 19,60%, diikuti Corporate United Investment Limited dengan 12,67%, dan PT Etrading Securities yang memiliki 11,97%.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...