Skip to main content

TPI Pailit & Mbak Tutut

Siti Hardianti Rukmana (Mbak Tutut) menolak gugatan pailit yang diajukan oleh Literati Capital Investments Limited (Literati), karena menjadi penjamin pribadi atas utang PT Citra Industri Logam Mesin Persada (CILMP) sebesar Rp 1,6 triliun.

Demikian disampaikan oleh Kuasa Hukum Mbak Tutut, Benny Ponto dalam jawabannya kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, menjawab tuntutan pailit yang diajukan Literati, Senin (8/3/2010).

"Termohon (Mbak Tutut) dengan ini memberikan tanggapan, atas permohonan pemohon (Literati). Termohon dengan tegas menyatakan menolak seluruh dalil permohonan pemohon kecuali yang diakui oleh termohon, atau terbukti kebenarannya menurut hukum," ujar Benny dalam jawaban tertulisnya.

Mbak Tutut menyampaikan 4 alasan kenapa tuntutan pailit itu tidak dapat dilakukan. Pertama, tidak ada legal standing dari tuntutan yang diajukan oleh Literati kepada putri sulung Mantan Presiden RI Soeharto.

Kedua, unsur adanya utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih tidak terpenuhi.

"Termohon tidak mempunyai utang apapun yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih kepada pemohon," jelasnya.

Benny mengatakan, piutang Literati diperoleh melalui pengalihan hak tagih dari PT Berkah Karya Bersama pada 18 November 2009.

"Berdasarkan perjanjian pengalihan piutang tertanggal 18 November 2009, faktanya berkas tidak memiliki piutang atau tagihan terhadap Citra Industri Logam Mesin Persada (CILMP), utang CILMP kepada BII (Bank Internasional Indonesia) yang kemudian diambil alih oleh BPPN dan dijual kepada Berkah merupakan bagian dari penyelesaian utang TPI (PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia) yang harus dilakukan oleh Berkah selaku investor di TPI berdasarkan Investment Agreement tanggal 22 Agustus 2002 antara Berkah dengan TPI dan para pemegang saham TPI termasuk termohon," papar Benny.

Di dalam investment agreement tersebut telah disepakati antara lain, Berkah bersedia menyediakan dana buat TPI hingga sejumlah US$ 55 juta yaitu perinciannya US$ 25 juta untuk ambil saham mayoritas di TPI sebesar 75% dari seluruh modal saham, dan US$ 30 juta untuk pembiayaan kembali pengambilalihan dan restrukturisasi utang-utang TPI.

Ketiga, adanya kreditur lain yang didalilkan oleh Literati tidak terbukti.

"Termohon tidak punya utang apapun yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih kepada Ellistar Investment Ltd, bagaimana telah didalilkan pemohon dalam permohonan bahwa yang dianggap sebagai piutang Ellistar Investment Ltd kepada termohon diperoleh Ellistar investment Ltd melalui pengalihan hak tagih dari Berkah ke Ellistar tanggal 16 November 2009. Faktanya Berkah tidak memiliki piutang atau tagihan terhadap TSJP (PT Trihasra Sarana Jaya Purnama (TSJP), bekas kreditur di PT Bank Bumi Daya/BBD) ," jelasnya.

Keempat, tentang pembuktian yang tidak sederhana (summir) yakni tidak ada perjanjian jual beli piutang dan tidak ada bukti pembayaran oleh pemohon dan kreditur lain kepada Berkah mengenai aliran dananya atas pembelian utang CIMLP dan TSJP. Pemohon harus terlebih dahulu membuktikan Berkah memiliki tagihan terhadap CIMLP dan TSJP.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut, maka Benny mengajukan 3 hal kepada Majelis Hakim:

1. Menerima dan mengabulkan seluruh tanggapan termohon nyonya Siti Hardianti Rukmana
2. Menolak seluruh permohonan pernyataan pailit yang diajukan pemohon Literati Capital Investment Ltd
3. Menghukum pemohon Literati Capital Investment Ltd untuk membayar biaya perkara.


Sidang ini rencananya akan dilanjutkan pada hari Kamis (8/3/2010) untuk mendengar putusan Majelis Hakim terhadap jawaban yang diajukan oleh Kuasa Hukum Mbak Tutut.

Seperti diketahui, Literati Capital Investments Limited (Literati) menggugat pailit pengusaha yang akrab disapa Mbak Tutut itu lantaran ia menjadi penjamin pribadi atas utang PT Citra Industri Logam Mesin Persada (CILMP) sebesar Rp 1,6 triliun.

Selain kepada CILMP, lanjut Andi, Mbak Tutut juga menjadi penjamin utang PT Trihasra Sarana Jaya Purnama (TSJP), bekas kreditur di PT Bank Bumi Daya (BBD) dengan besaran utang sebesar Rp 1,047 triliun. Pemegang hak tagih terakhir utang tersebut adalah Ellistar Investments Ltd.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...