Siapa calon pemilik baru Hypermart ?

Permintaan yang terus meningkat, mengikuti pertumbuhan pendapatan masyarakat, menjadi penentu bagi prospek bisnis ritel di Tanah Air. Tak terkecuali bagi PT Matahari Putra Prima Tbk.

Saat ini, investor menunggu nasib Hypermart, lini bisnis yang dimiliki Matahari, selepas negosiasi dengan empat peritel global. Kabar perihal pinangan empat peritel global terhadap Hypermart itu memang sontak menuai pertanyaan dari investor.

Ada beragam pertanyaan seperti apa yang akan terjadi dengan Hypermart, siapa invesor yang nanti berpotensi menggantikan posisi PT Multipolar Tbk sebagai induk Matahari, kapan transaksi ini selesai, dan lain sebagainya.

Sebelumnya sejumlah nama peritel kelas dunia disebut-sebut masuk dalam barisan pihak yang mengajukan penawaran. Empat nama memiliki basis yang sama dengan Matahari yakni Lotte Shopping Co dari Korea Selatan, Wal-Mart Stores Inc dari Amerika Serikat, Casino Guichard-Perrachon SA dari Prancis, dan Hong Kong's Dairy Farm International Holdings Ltd. Satu nama, Carlyle Group, bergerak di ranah perusahaan investasi.

Lotte bisa dibilang sebagai pihak yang paling percaya diri dalam transaksi ini. Lotte, seperti dikutip Bloomberg, telah mengajukan penawaran final pada Jumat, 7 Januari lalu. Kabar ini disambut positif oleh pasar. Pada 11 Januari, saham Lotte di Bursa Efek Korea naik 1,2% ke level 462.000 won.

Jauh sebelum itu, Hwang Kag Gyu, Executive President of International & News Business Planning Lotte, mengatakan dana tidak menjadi masalah karena perseroan didukung oleh likuiditas yang berlimpah.

Di Indonesia, pihak Matahari juga bersiap. Dua syarat yang diajukan oleh investor global ini, menjadi pemegang saham mayoritas dan divestasi aset non-inti, tampaknya akan dipenuhi.

Director & Head of Corporate Communication Matahari Danny Kojongian menyebutkan pihaknya mulai mempersiapkan pelepasan aset non-inti, di antaranya toko buku Times, pusat hiburan Time Zone, dan usaha kuliner di bawah bendera PT Prima Cipta Lestari.

Danny memilih tidak berkomentar mengenai syarat untuk menggeser Multipolar. "Berapa besaran saham yang diambil alih menjadi domain Multipolar. Kami hanya fokus pada persyaratan divestasi aset. Ibaratnya, kami baru menutup chapter satu dan kini masuk ke chapter dua."

Multipolar, pemilik 50,23% saham Matahari, juga segendang sepenarian, bersiap menyambut investor anyar. Dua pekan lalu, Multipolar telah menunjuk Merrill Lynch (Singapore) Pte Ltd sebagai penasihat penasihat keuangan untuk menindaklanjuti penawaran peritel global terhadap Hypermart.

Penunjukan Merrill Lynch sebagai penasihat keuangan bertujuan untuk memfasilitasi pola kerja sama yang pas, optimum, dan efektif, serta menguntungkan tiap-tiap pihak.

Setelah ini, Merrill Lynch akan melakukan kajian menyeluruh dan memberikan proposal lanjutan yang lebih konkret dan detail yang akan menjadi landasan pengambilan keputusan bagi Multipolar.

Sebelumnya, Merrill Lynch telah menyelesaikan kajian strategis terhadap kegiatan bisnis Matahari dan menelurkan rekomendasi untuk bekerja sama dengan peritel global guna memperkuat pengoperasian bisnis Hypermart.

Ketika Januari belum berakhir dan pembicaraan seputar akuisisi Hypermart masih hangat, Matahari merilis laporan keuangan yang telah diaudit untuk periode 2010. Ini di luar kebiaasaan peresroan.
Laporan keuangan periode 2009 dipublikasikan pada 31 Maret 2010. Tahun sebelumnya, Matahari baru menyebarluaskan laporan pada 1 April 2009.

Untuk tahun buku 2010, laba bersih perseroan melonjak signifikan hingga 1.833,32% menjadi Rp5,80 triliun dibandingkan dengan laba bersih pada 2009 yang mencapai Rp300,03 miliar.

Laba bersih terdongkrak karena perseroan mengantongi Rp5,73 triliun sebagai hasil dari divestasi Matahari Department Store (MDS) pada April tahun lalu.

Bagaimana dengan performa penjualan? Setelah divestasi saham Matahari Department Store, divisi Matahari Food Business (MFB) praktis menjadi tulang punggung perseroan. Tahun lalu, divisi ini mendulang peningkatan penjualan 16,92%, kenaikan tertinggi dalam sejarah Matahari Food Business, menjadi Rp7,6 triliun dibandingkan dengan Rp6,5 triliun.

Mengilapnya performa MFB tidak menggenjot penerimaan secara keseluruhan. Penjualan bersih turun 6,88% menjadi Rp8,54 triliun dibandingkan dengan penjualan pada 2009 sebesar Rp10,28 triliun.
Laba usaha perseroan pada tahun lalu juga anjlok 89,30% menjadi Rp53,96 miliar dibandingkan dengan Rp504,27 miliar pada 2009.

Yang perlu menjadi catatan, laporan keuangan MDS tentu saja tidak lagi dikonsolidasi dalam laporan keuangan perseroan setelah transaksi divestasi rampung.

Namun, kinerja Matahari pada tahun lalu ditambah belum pastinya ujung dari transaksi akuisisi Hypermart ternyata tak memudarkan optimisme analis terhadap performa Matahari ke depan.

Chichen TN, analis PT Indo Premier Securities, dalam riset yang dipublikasikan 5 Januari 2011, menyebutkan optimismenya bersumber dari tiga hal.

Tiga hal tersebut yakni pertumbuhan konsumsi yang antara lain didorong oleh perbaikan pendapatan di rural area, peningkatan bisnis ritel akibat perubahan gaya hidup, dan iklim ekonomi, sosial, serta politik yang kondusif.

"Kami memproyeksikan perseroan akan membukukan penjualan sebesar Rp10,1 triliun pada tahun ini. Sebanyak 95% berasal dari bisnis MFB," tuturnya.

Bagaimana transaksi akuisisi Hypermart akan berujung? Kita tunggu saja chapter berikutnya.

Comments

Popular posts from this blog

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Dengan Vaksinasi, Ekonomi Bertumbuh, Ekonomi Tangguh

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi