Skip to main content

Wapres minta Bulog operasi khusus

Wakil Presiden Boediono menginstruksikan pada perum Bulog melakukan operasi khusus untuk mengatasi harga gabah kering panen yang diterima petani saat ini yang masih lebih rendah dari ketentuan harga pembelian pemerintah (HPP).

Menurut Wapres Boediono instruksi tersebut terkait dengan pentingnya masalah ketahanan pangan dalam negeri. Sesuai dengan kesepakatan, Indonesia tidak akan tergantung soal makanan dan pangan dari pasokan luar negeri, bahkan berupaya menggenjot untuk menciptakan swasembada. Sehingga rakyat tidak terombang ambing gejolak harga komoditas dunia.
“Masalah harga turun [harga gabah kering panen yang diterima petani] barangkali kepala Bulog tanyakan. Kalau perlu ada operasi khusus,” kata Wapres Boediono menjawab keluhan para gubernur dalam acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Tingkat Nasional (Musrenbangnas) 2010 di Bidakara hari ini.

Masalah anjloknya harga gabah kering panen di bawah HPP yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp2.640 per kg, jelasnya, memang tidak bisa dipukul rata terjadi di semua daerah di Indonesia. Namun ada daerah yang menjadi sasaran sebagai penghasil utama gabah, sehingga harus menjadi perhatian semua pihak terutama Bulog dan Kementerian Pertanian.

Terkait dengan pertanyaan gubernur soal keluhan petani yang makin tertekan penghasilannya akibat pemerintah menaikkan harga pupuk, Wapres mengatakan kemungkinan bisa diberikan kompensasi dalam betuk lain kepada petani.

“Pupuk memang harganya[naik karena] biayanya naik. Jadi barangkali kita bisa kompensasi dengan bantuan lain kepada para petani. Tidak harus dalam bentuk pupuk tapi bentuk lain dari segi program,” kata Wapres.
Sementara dalam kesempatan sama Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan meski harga pupuk dinaikkan dari Rp1.200 menjadi Rp1.600 per kg, jika harga gabah kering panen dijalankan sesuai HPP sebesar Rp2.640 per kg, maka petani masih bisa menambah penghasilannya.

“Penyesuaian harga pupuk menjadi Rp1.600 akan menambah beban petani kira-kira Rp 200.000 per hektar. Maka akan tetap ada tambahan petani dengan menaikkan HPP gabah kering panen [Rp2.640 per kg] sekitar Rp1 juta [per hektar],” kata Hatta.
Keluhan HPP Rp 2.640 per kg yang tidak dinikmati petani saat panen dikemukakan oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo.
"Harga gabah kering panen [yang diterima petani saat ini] jatuh hanya Rp 2.100-Rp2.200 per kg yang seharusnya Rp2.640 sehingga menimbulkan kepedihan petani pada harga," kata Soekarwo.
Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo juga mengeluhkan pembelian harga gabah panen yang diterima petani yang mengalami penurunan, dan mempertanyakan fungsi Perum Bulog dalam menangani masalah tersebut.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...