Skip to main content

Beda Widodo dan Anggito

Oleh Fahmi Achmad

Salah satu momen terbaik bagi pecinta sepakbola Indonesia adalah ketika Indonesia mampu bermain apik di luar negeri. Momen Piala Asia 1996 merupakan contoh bagaimana permainan tim Merah Putih Indonesia begitu membanggakan.

Pada 4 Desember 1996, di Stadion Syekh Zayed Abu Dhabi Uni Emirat Arab, sekitar 3.000 orang penonton menjadi saksi bagaimana tendangan salto menggunting (bycicle kick) Widodo Cahyono Putro hasil umpan Ronny Wabia, merobek gawang Kuwait pada menit ke-20.

Lalu 20 menit berikutnya, giliran Ronny Wabia mencetak gol dari tendangan pojok. Para penonton bergemuruh. Di Indonesia, masyarakat berteriak gembira menyaksikan tayangan siaran langsung pertandingan itu di televisi.

Hasilnya boleh cuma 2-2 karena Kuwait berhasil memaksakan hasil seri pada babak kedua, dan satu golnya hasil penalti Yousif Al-Dakhi. Pulang ke Tanah Air, Widodo dan Ronny jadi pahlawan.

Nama Widodo kembali mentereng ketika pekan lalu. Ketua Badan Tim Nasional (BTN) Iman Arief mengatakan Widodo bersama Wolfgang Pikal terpilih menjadi asisten pelatih timnas Indonesia untuk mendampingi pelatih kepala Alfred Riedl.

Timnas dibawah pelatih Alfred Riedl ditargetkan mampu membawa timnas Indonesia baik senior dan U-23 menjuarai beberapa kejuaraan intenasional di antaranya Piala AFF dan SEA Games 2011.

Ada tiga pertimbangan dipilihnya Widodo Cahyono Putro yaitu mantan pelatih, mantan asisten pelatih timnas dan masih berusia muda. Hal itu sesuai dengan keinginan Riedl.

Widodo juga dikenal sebagai pemain yang tidak bertemperamental. Dia tidak pernah mendapat kartu merah dan hanya satu kali mendapat kartu kuning. Nyaris sama dengan Gary Lineker (mantan striker utama Inggris) yang merupakan salah satu dari sedikit pemain di dunia yang tak pernah diberi kartu kuning atau kartu merah.

Keputusan PSSI ini sempat menjadi perdebatan karena Widodo menyingkirkan nama-nama besar seperti Jaya Hartono, Herry Kiswanto, Fachri Husaini dan Danurwindo eks pelatihnya di timnas PSSI 1996.

Terlebih lagi, Widodo dinilai tak terlalu muda dan sempat gagal lalu dipecat di Persela Lamongan pada 12 Maret 2010. Di 'Laskar Joko Tingkir' itu, Widodo menggantikan Mohammad Basri yang dipecat musim sebelumnya.

Kala itu, Widodo hanya berujar “Saya diberitahu pengurus soal pemecatan itu Kamis [11 Maret] malam sekitar pukul 23:00 WIB. Sebagai pelatih profesional, saya menerima keputusan itu karena memang risikonya seperti itu,".

Mantan penyerang tim nasional ini mengakui, penampilan Persela memang mengalami penurunan, padahal kondisi internal tim sangat kondusif. "Saya tidak mau menyalahkan siapa-siapa, ini semua menjadi tanggung jawab saya," tutur Widodo.

Lain Widodo lain pula Anggito Abimanyu karena memang beda nama beda pula kontroversinya. Pelantikan Agus Martowardojo sebagai menteri keuangan dan Anny Ratnawati sebagai wakil menkeu menyisakan kecewa bagi Anggito.

Rasanya kekecewaan adalah manusiawai. Anggito Abimanyu yang sebelumnya digadang-gadang jadi wakil menkeu, tiba-tiba hilang dan digantikan Anny Ratnawati. “Saya senang dengan Pak Agus, saya kira dia Menkeu yang tepat untuk melanjutkan dan melaksanakan apa yang dilaksanakan Menkeu,” kata Anggito kepada pers yang dilansir salah satu media digital.

Mundur menjadi pilihan sang pemain flute ini. “Saya sudah 10 tahun. (Pengunduran) ini sudah saya pikirkan masak-masak. Tapi saya belum ada action apa-apa, saya mau silaturahmi dulu ke Pak Agus untuk ngobrol-ngobrol dulu lah,” ujarnya

Jadi bukan karena tak dipilih? “Saya sudah lama ingin mundur, namun keduluan Ibu SMI (Sri Mulyani). Jadi bulan lalu saya sama istri ke pertemuan ADB dan umroh. Namun saya sudah bikin surat (pengunduran diri),” katanya.

Melalui pengunduran dirinya, Anggito akan segera kembali mengajar di UGM. “Saya ingin mengajar lagi, sudah 10 tahun saya tidak mengajar,” tuturnya.

Apapun dalihnya, Anggito juga layak kecewa kepada lingkungan istana karena tidak ada konfirmasi dan pemberitahuan kepada dirinya soal pembatalan dirinya menjadi wakil menteri keuangan.

Padahal Anggito sudah menandatangani pakta integritas dan kontrak kinerja soal penunjukkannya sebagai wakil menteri keuangan.

“Saya bukan kecewa kepada Menkeu dan Wamenkeu terpilih, tapi saya kecewa karena tidak dikasih tahu, tidak ada pemberitahuan. Tidak ada pejabat di lingkungan istana yang memberitahu kepada saya,” tegasnya.

Menurut Anggito, seharusnya ada pemberitahuan yang jelas, karena Anggito pernah diumukan menjadi Wakil Menkeu tapi pelantikannya ditunda karena Anggito belum memiliki golongan eselon I di Kementerian Keuangan.

“Harusnya diberitahu saja dengan jelas kenapa, saya sudah mengurus semuanya. Bahkan saya sudah menandatangani kesepakatan kepangkatan,” ujarnya.

Bagaimana sikap istana? Tidak terpilihnya Anggito Abimanyu bukan disebabkan karena alasan politik. Pemilihan Anny Ratnawati sebagai Wakil Menteri Keuangan disebabkan karena alasan kompetensi.

"Tidak ada urusan, tidak ada kait-mengkait dengan politik. Ini memang adalah soal memilih dari yang bagus-bagus itu," ujar Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

Hatta mengatakan, dalam proses pemilihan nama-nama wakil menteri keuangan, semua calon-calon yang ada sangat bagus sehingga Presiden melakukan pemilihan di antara semua calon yang berkompetensi di bidangnya.

“Wamenkeu cuma satu, semua (calon) bagus-bagus, Anggito bagus. Presiden juga bilang Anggito bagus, jadi harus dipilih salah satu. Ya barangkali kalau menterinya tadinya adalah perempuan. Barangkali kalau Wamenkeunya perempuan ya baik juga, kebetulan sama-sama kualitasnya,” tuturnya.

Anggito juga wajar mengatakan kalau sebagai profesional dia tak terima dikatakan dengan dekat dengan petinggi parpol. “Tetapi kalau dibumbui bahwa ada komentar-komentar seperti itu, buktikan yang mana,” katanya.

Anggito juga membantah pernah diundang Golkar sebelum Presiden menunjuk Agus menjadi menkeu yang baru. "Tidak benar itu, enggak ada. Enggak pernah saya diundang Golkar membicarakan itu. Enggak pernah. Itu fitnah," katanya.

Sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Anggito sempat tidak merasa nyaman dengan isu-isu yang menerpa dirinya.

“Yang tidak senangnya adalah saya dikait-kaitkan dengan parpol itu sama sekali tidak benar, apakah itu dengan Golkar, apakah dengan PAN, itu sama sekali tidak ada. Itu yang membuat saya sedih. Itu fitnah, " kata dia mencurahkan isi hati.

“Awalnya kita (PAN) memang salah satu yang ikut mendorong Anggito, untuk menjadi Menkeu. Kami menganggap, Anggito sudah tune in lebih dulu. Tapi, keputusan tetap ditangan Presiden SBY yang memiliki hak prerogatif menunjuk pembantunya di kabinet, maka kita tentu mendukung Agus Martowardojo," ujarnya anggota Fraksi PAN,Michel Ichlas El Qudsi.

Bagaimana tanggapan Sri Mulyani? “Saya telah mendengar dan dilapori oleh Sekjen Mulia Nasution," kata Sri Mulyani seusai mengikuti pelantikan Menkeu baru, Agus Martowardojo di Istana Merdeka, Jakarta.

Menurut dia, surat pengunduran diri Anggito ditujukan kepada Menteri Keuangan. Namun, Sri Mulyani mengaku belum membaca surat pengunduran diri tersebut karena tadi pagi ke rapat paripurna DPR. “Surat diberikan Sekjen kepada saya dalam perjalanan dari Kementerian Keuangan ke Istana.”

Karena masa jabatannya sebagai Menkeu telah habis, Sri Mulyani akan menyampaikan surat tersebut kepada Menkeu baru Agus Martowardojo.

Tentang duet baru di Lapangan Banteng? Sri Mulyani menjawab, “Itu cocok karena sudah tahu kondisi di dalam Kementerian Keuangan.” Sri Mulyani menilai duet Agus dan Anny adalah kombinasi yang sangat baik. “Ini akan sangat luar biasa.”

Setiap keputusan memang tidak akan menyenangkan semua orang dan seperti kata Managing Director World Bank, Sri Mulyani Indrawati, “Saya menghormati setiap keputusan orang (Anggito).” (fahmi.achmad@bisnis.co.id)

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...