Skip to main content

siapa takut main di sektor mikro?

Mainan baru bank Jepang di mikro
Oleh Fahmi Achmad
Bisnis Indonesia

Mimik Akihiro Miyamoto begitu serius menjelaskan lingkungan bisnis Indonesia yang dihadapi manajemen bank yang dipimpinnya. Dirut Bank Resona Perdania ini mengungkapkan persaingan antarbank asal Jepang yang semakin ketat.
Miyamoto pun tegas mengatakan bank yang dipimpinnya akan memperbanyak nasabah perusahaan lokal dan sektor mikro terutama pelaku usaha mikro, kecil menengah di Indonesia dibandingkan dengan perusahaan manufaktur asal Jepang.
“Anda tahu kalau selama tahun lalu investasi baru dari perusahaan manufaktur asal Jepang di Indonesia sudah semakin terbatas. Tentu kami harus melihat peluang lain,” ujarnya.
Pemetaan lingkungan bisnis yang dilakukan Miyamoto cukup beralasan bila melihat fakta kinerja Resona Perdania yang berusia setengah abad masih segitu-gitu saja dibandingkan dengan megabank Jepang lainnya seperti The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd (BTMU) atupun Mizuho dan Sumitomo Mitsui Bank Corporation (SMBC).
Alasan terbatasnya investasi Jepang tentu mengandung perdebatan. Selama 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara, total jumlah investasi Jepang mencapai sebesar US$40 miliar, dan hubungan perdagangan kedua negara masih memberikan surplus bagi Indonesia sebesar US$14,2 miliar .
Di sisi lain, peringkat Indonesia sendiri dalam satu dekade ini memang merosot di mata investor Jepang, meski Negeri Sakura itu tetap menjadi penanam modal terbesar dan mitra dagang utama Indonesia.
Tahun-tahun sebelumnya Indonesia selalu menduduki peringkat nomor dua atau tiga dari negara tujuan investasi Jepang. Namun sejak beberapa tahun belakangan negara-negara tetangga seperti Vietnam, dan Thailand terus menduduki peringkat lebih baik ketimbang Indonesia.
Survei terbaru Japan Bank for International Cooperation (JBIC) menempatkan Indonesia di urutan kedelapan dari daftar negara tujuan investasi Jepang, yang berarti naik satu tingkat dari posisi sebelumnya.
Bahkan, perusahaan Jepang sedang mempertimbangkan berbagai investasi senilai800 miliyar yen atau senilai US$7 miliar selama 5 tahun ke depan. Hasil survei JETRO terhadap perusahaan Jepang di kawasan Asia yang diterbitkan pada April 2007, bahwa 50% responden di Indonesia merencanakan perluasan selama 2-3 tahun mendatang.
Sebanyak 131 perusahaan Jepang memposisikan Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi kuat di pasar domestik dan juga merupakan negara tujuan investasi yang penting.
Kondisi tersebut paling tidak melegakan bagi bank-bank penyedia solusi keuangan. Miyamoto mengakui pihaknya masih memiliki 400 nasabah dari 875 perusahaan patungan Jepang-Indonesia di Tanah Air.
Manajemen Bank Resona menilai upaya menjaga loyalitas nasabah korporasi asal Jepang tak sia-sia dan membuat laba bersih terus meningkat 10%-15% tiap tahun pada lima tahun terakhir.
Bagi pebisnis adalah sah untuk mengejar keuntungan di segmen lain meskipun lahan sendiri belum digarap maksimal. Bank-bank asal Jepang ini tentu tak mau kalah dengan bank asing dan campuran lain yang ingin mengejar nasabah lokal terutama sektor mikro.
Data BI menunjukkan margin bunga bersih bank-bank asing dan campuran berkisar 4% dan itu di bawah rata-rata industri yang sebesar 5,70%. Bank seperti HSBC, Rabobank dan Commonwealth tentu ingin merasakan gurihnya NIM seperti BRI dan Danamon yang mencetak margin di atas 10% dengan bermain di sektor mikro.
BRI jelas menjadi raja pencetak profit tertinggi dalam beberapa tahun terakhir sementara Danamon melalui Danamon Simpan Pinjam dan didukung Adira Finance meraih laba dua kali lipat per September menjadi Rp1,6 triliun.
Segmen ekonomi yang sering kali disebut UMKM ini dinilai menguntungkan karena rasio kredit bermasalahnya tak besar karena ada skema penjaminan serta margin besar dari penerapan bunga yang tinggi.
Kemudahan regulasi juga diberikan Bank Indonesia dengan mengganjar fasilitas penurunan kewajiban Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) menjadi 30% bagi bank yang menggunakan skema penjaminan dan pembinaan pelaku usaha UMKM.
Tiga megabank asal Jepang lainnya yaitu BTMU, Mizuho dan SMBC pun tak ingin ketinggalan. Lihat bagaimana BTMU dengan Acom Co berkolaborasi menguasai mayoritas saham PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk (BNP).
Acom merupakan perusahaan yang berkedudukan di Tokyo, Jepang. Perusahaan itu bergerak dalam bidang industri jasa pembiayaan dengan menyediakan pinjaman kepada individu atau perusahaan kelas menengah dan kecil.
Perusahaan itu sebelumnya bergerak di Thailand, kemudian melihat peluang di Indonesia. Adapun BTMU merupakan salah satu bank berkelas internasional dari Jepang yang juga berkedudukan di Tokyo dengan kegiatan utama usaha perbankan komersial.
Direktur BNP Nani Wirianti Sugata mengatakan, akuisisi diharapkan dapat membuat bank tersebut lebih maju dan mendukung pengembangan usaha kecil dan menengah. Pada 2007, sebesar 66,36% kredit BNP disalurkan pada usaha semacam itu.
Tak main-main, gebrakan pertama BTMU melalui Bank Nusantara Parahyangan adalah meluncurkan produk kredit tanpa agunan mulai tahun ini. Kemunculan BTMU paling tidak membuat genderang kompetisi semakin riuh.
Fenomena masuknya pemain besar di lahan mikro disikapi Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Abdul Salam sebagai hal positif. Dia menyebutkan persoalan tumpang tindih dan persaingan antarbank di daerah merupakan sesuatu yang tak bisa dihindari.
Abdul Salam menyebutkan pasar pembiayaan mikro cukup luas dan belum maksimal digarap bank. “Saat ini ada 48 juta UMKM dan baru 18 juta yang dilayani. Semua bank saya kira masih bisa memaksimalkan perannya,” ujarnya.
Abdul Salam mengatakan antarbank umum pun saling sikut-sikutan untuk pembiayaan mikro meskipun menghadapi risiko penurunan margin.
Sikap tak gentar pun dinyatakan Budi G. Sadikin, Direktur PT Bank Mandiri Tbk yang menilai masuknya pemain-pemain asing mencerminkan dukungan industri perbankan terhadap sektor riil. “Semakin banyak semakin bagus,” katanya.
Tapi, partisipasi megabank asal Jepang di segmen mikro mungkin malah membuat kalangan BPR dan BPD semakin meradang tersikut ketatnya persaingan dan kalah bersaing dari sisi modal.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...