Media asuransi tak hanya arisan para ibu

26 Oktober 2007
Oleh Fahmi Achmad
Wartawan Bisnis Indonesia

Kiprah asuransi di Tanah Air telah memiliki usia hampir satu abad namun perkembangannya terus terang masih lambat. Padahal produk jasa pengalihan risiko ini selalu berhubungan dengan aspek bisnis dan aspek kehidupan masyarakat.
Pada dua dekade terakhir, misalnya, banyak orang mengambil sikap menghindar bahkan alergi bila ditawari produk asuransi. Banyak faktor bisa diungkapkan sebagai biang keladi pertumbuhan asuransi yang tak segemerlap industri jasa keuangan lain.
Sosialisasi dan edukasi menjadi dua kata kunci dalam menelaah lemahnya penetrasi asuransi di masyarakat. Kekurangpahaman orang dan kurang aktifnya kegiatan promosi dari pemerintah dan perusahaan asuransi juga menjadi penyebab utama.
Lakunya penjualan polis selama ini lebih banyak didukung kemampuan para agen asuransi meyakinkan masyarakat. Komunitas-komunitas seperti arisan para ibu menjadi media sekaligus ajang yang diandalkan perusahaan asuransi dalam menjual polis, terutama asuransi jiwa.
Berkembangnya kebutuhan masyarakat seharusnya bisa ditangkap perusahaan asuransi dalam penyediaan yang sesuai serta perlu didukung dengan pola komunikasi yang efektif menyentuh kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Hingga kini, orang membeli polis asuransi karena sosialisasi dari mulut ke mulut. Fenomena yang seharusnya tidak bisa begitu saja dibanggakan. Lihat saja, begitu banyak pertanyaan dari calon tertanggung kepada agen karena banyak kejadian ketiadaan manfaat yang diperoleh seperti yang diperjanjikan semula.
Sosialisasi dari mulut ke mulut mungkin cocok dan tak sulit dilakukan para agen dari perusahaan yang sudah memiliki nama dan citra yang baik, tapi bagaimana dengan perusahaan menengah ke bawah yang merek dagangnya belum melekat kuat di benak masyarakat?
Edukasi menjadi tantangan tersendiri. Dahulu, banyak agen asuransi yang mengeluhkan sikap satu kelompok etnis masyarakat yang begitu alergi terhadap produk asuransi jiwa. Bagi mereka, soal jiwa dan nyawa pantang dibisniskan apalagi dipertanggungkan. Repot bukan?
Pola promosi modern mungkin baru-baru ini saja dilakukan. Perkembangan teknologi dan multimedia serta semakin banyaknya media massa menjadi katalisator bagi pencitraan asuransi yang semakin baik.
“Lima tahun lalu masyarakat sangat jarang melihat iklan asuransi di media massa maupun televisi dan radio. Tapi sekarang sudah membaik, tapi memang masih kurang,” ungkap Reza Manggus, Direktur Relife.
Para perusahaan asuransi masih menaruh asa kepada pemerintah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Tapi, harapan tersebut sulit terwujud maksimal bila mereka sendiri tak turun tangan mengubah nasibnya.
Tak banyak perusahaan asuransi yang berani jor-joran menaruh pos anggaran besar untuk promosi dan edukasi. Sebagian besar dari sekitar 40 perusahaan asuransi jiwa di Indonesia menganggarkan biaya promosi berkisar Rp1 miliar hingga Rp3 miliar.
Nilai biaya tersebut boleh dikatakan masih minim. Tapi sekali lagi, perusahaan asuransi masih berkilah pertumbuhan premi tiap tahun selalu baik dan berkisar 20%-30% tiap tahun. Asuransi jiwa pun menepuk dada mencatatkan produksi premi yang lebih baik dibandingkan dengan asuransi kerugian.
Padahal sudah banyak tulisan ilmiah maupun pandangan para pakar pemasaran yang menganalisa terjadinya korelasi positif dari peningkatan biaya promosi dengan lonjakan produksi premi tiap tahun.
Sikap perusahaan untuk memilih tak jor-joran dan tak pula hemat mengeluarkan biaya edukasi dan sosialisasi mungkin bisa dimaklumi bila beralasan anggaran lebih tersedot untuk peningkatan kemampuan tenaga pemasaran ataupun biaya underwriting.
Namun, jasa asuransi yang notabene merupakan bisnis janji rasanya tak cukup hanya mengandalkan penawaran mulut ke mulut bila ingin melihat nasabah tertanggung mengantri layanan seperti yang ditawarkan perbankan.

Comments

Popular posts from this blog

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Dengan Vaksinasi, Ekonomi Bertumbuh, Ekonomi Tangguh

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi