Ketika ATM BCA ngadat

21 Juli 2007
Oleh Fahmi Achmad
Wartawan Bisnis Indonesia

Ketika ATM BCA ngadat

Anjungan tunai mandiri atau yang biasa disebut ATM saat ini telah menjadi alat utama bagi kebutuhan penyelesaian transaksi keuangan, baik untuk menarik duit ataupun membayar tagihan-tagihan bulanan.

Tak terbayang bila si mesin pintar ini mogok beroperasi atau macet ketika digunakan, berapa banyak sumpah serapah dari masyarakat serta kekecewaan nasabah pengguna jasa layanan perbankan tersebut.

Kemarin, menjadi hari yang menjengkelkan bagi sebagian besar pengguna ATM milik PT Bank Central Asia (BCA) Tbk. Maklum saja, masih banyak masyarakat yang melakukan pembayaran tagihan listrik tiap tanggal 20 yang merupakan tenggat pelunasan yang diberikan Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Salah satu satpam di kantor besar BCA di jalan S. Parman Jakarta Barat mengungkapkan banyak nasabah sejak pagi ‘kecele’ tak bisa melakukan transaksi pembayaran tagihan, baik listrik, telepon ataupun kartu kredit.

“Baru bisa untuk penarikan saja mas, silahkan ke teller saja di dalam. Belum tahu kondisi normalnya sampai kapan,” kata dia mengingatkan ketika saya mau masuk ke salah satu dari dua bilik ATM di samping kantor BCA tersebut.

Di BCA cabang Wisma 46 deretan mesin ATM yang tersedia malah sama sekali tak berfungsi. Fatkul, karyawan sebuah perusahaan penerbitkan menuturkan, seluruh mesin baik ATM Tunai, Non Tunai, maupun Cash Deposit Machine tertempel tulisan: Rusak!.

Sekretaris Perusahaan BCA Raymon Yonarto menjelaskan tidak normalnya fungsi ATM dan juga kantor cabang, dikarenakan soal teknis gangguan listrik pada kantor pusat di bilangan jalan Sudirman.

“Persoalan listriknya sejak jam 4 pagi dan hingga siang ini sudah lebih dari 90% layanan kami berjalan normal tapi memang beberapa di remote area masih belum jalan. Semestinya hari ini [kemarin] sudah pulih semuanya,” kata dia ketika saya hubungi.

Dia sekaligus menyampaikan permohonan maaf resmi kepada seluruh nasabah seraya memberikan garansi seluruh pemimpin cabang akan mengurusi kebutuhan transaksi nasabah yang mendesak dan memerlukan perhatian khusus.

Tergangunya layanan ATM di BCA bisa dikatakan cukup mengecewakan, mengingat bank nasional ini merupakan ikon pemilik ATM terbanyak dan memiliki fasilitas yang lengkap tak hanya untuk penarikan dana.

BCA yang memiliki 5.147 mesin uang ini, menggungguli bank-bank lain terutama soal jaringan dan kemudahan bertransaksi. Nasabah pemegang Paspor BCA bisa melakukan transfer dana, pembayaran tagihan dari listrik, air, pembelian/penjualan saham, hingga membeli tiket moda pengangkut seperti pesawat terbang.

Data per Maret 2007, menunjukkan jumlah transaksi lewat ATM di BCA mencapai 163,3 juta dengan nominal Rp149 triliun, atau naik 18,1% dari periode sama tahun lalu. Hal itu jauh dibandingkan jumlah transaksi lewat mobile banking 9,7 juta (Rp9,9 triliun) dan internet banking 17,4 juta atau dengan nominal Rp114,5 triliun.

Dengan transaksi tahunan mencapai Rp149 triliun, berarti setiap harinya ATM BCA melayani transaksi Rp409 miliar perhari dari 446.657 transaksi. Berani bertaruh, tak satupun bank lain bisa menyaingi transaksi di ATM milik bank yang sering dipelsetkan jadi Bank Capek Antri ini.

Tak pelak, BCA menjadi bank yang mendulang pendapatan non bunga dari komisi jasa layanan ini yang cukup besar. Per Maret 2007, dari total laba bersih Rp1,1 triliun, sekitar Rp637 miliar merupakan kontribusi pendapatan non bunga.

Karena itu, bagi BCA, menjaga loyalitas dan memanjakan nasabah dari sisi ketersediaan layanan ATM merupakan hal utama, agar tidak tersaingi bank-bank lain yang telah bergabung dalam fasilitas ATM Bersama (LINK), atau jaringan Alto dan Cirrus.

Bank Mandiri selaku bank terbesar nasional pun tengah menggenjot jumlah ATM-nya dari saat ini 2.664 ATM. Sebanyak 4,9 juta pemegang kartu ATM Mandiri bahkan terkoneksi dalam jaringan LINK yang memiliki jumlah mesin uang sebanyak 6.121 ATM.

Bank besar lainnya seperti BNI juga memperbaiki fasilitas layanan anjungan tunai mandiri dengan menata dan mereposisi ATM-ATM-nya di lokasi remote area. “Kami satu-satunya yang punya ATM di pulau Natuna dan kini kami coba memfokuskan semuanya pada wilayah Jabodetabek saja,” kata Dirut BNI Sigit Pramono, baru-baru ini.

BNI yang memiliki 2.325 mesin dengan nilai investasi hampir US$15.000 ini, oleh manajemen akan diciutkan dan terkonsentrasi pada wilayah-wilayah yang dinilai memiliki jumlah transaksi besar dari 9 juta nasabahnya.

Jadi, bagi BCA, permohonan maaf saja atas ketidaknyamanan nasabah, rasanya tidak akan cukup bila tidak diiringi perbaikan teknis dan penyempurnaan sistem teknologi. Toh, nasabah sekarang memiliki banyak pilihan ATM. (fahmi.achmad@bisnis.co.id)

Comments

Popular posts from this blog

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Dengan Vaksinasi, Ekonomi Bertumbuh, Ekonomi Tangguh

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi