Skip to main content

Ada apa dengan Liverpool ???


Angka di pojok kiri layar teve saya menunjukkan 92:40 dan gambar menunjukkan sejumlah pendukung Liverpool mengangkat syal merah The Kops di atas kepala merah. Skor masih tetap 3-0 untuk tuan rumah di City of Manchester Stadium, 23 Agustus 2010 malam.

Manchester City, sang pemilik kandang, malam itu memetik hasil gemilang di pekan kedua Liga Inggris.

Hasil 3-0 atas Liverpool menjadi capaian hebat buat Citizens mengingat di Liga Inggris mereka belum pernah menang atas The Reds di kandang sendiri sejak tahun 2005 lalu. Kemenangan ini sekaligus membayar keraguan banyak pihak setelah pada pekan pertama lalu mereka cuma bisa bermain 0-0 dengan Tottenham Hotspur.

City tampil dominan atas tamunya. Bermain penuh percaya diri, anak didik Roberto Mancini membuka keunggulan melalui Gareth Barry di menit 13. Carlos Tevez menyempurnakan hari City dengan golnya di menit 52 dan penalti di menit 68.

Tiga poin dari laga ini mengantar City naik ke posisi empat klasemen dengan total poin dikumpulkan berjumlah empat, sama dengan Manchester United. Sementara dengan satu poin didapat, anak didik Roy Hodgson terdampar di urutan 17.

Buat Liverpool, kekalahan ini membuat mereka belum meraih satupun kemenangan di Liga Inggris musim ini. Pada laga perdana pekan lalu, 'Si Merah' diimbangi Arsenal di kandang sendiri.

Di layar teve saya, wajah Roy Hodgson begitu merah, mirip Alex Ferguson kala MU tak bisa menang lawan Fulham malam sebelumnya. Meski begitu, Roy Hodgson menilai kalau The Reds cuma sedikit tidak beruntung dan tak layak menelan kekalahan.

Skor laga tersebut sepenuhnya menunjukkan jalannya laga, yang didominasi The Citizens. Permainan The Reds dalam laga di City of Manchester Stadium tersebut jauh dari memuaskan, mereka kalah determinasi, penguasaan bola, terlalu sering membuat kesalahan dan tak mampu mengembangkan permainan.

Namun Hodgson ternyata tak sependapat dengan hal tersebut. Dia menganggap tim asuhannya tak selayaknya kalah dengan skor setelak itu karena skuadnya cuma sedikit tidak beruntung.

"Kami sedikit tidak beruntung dikalahkan dengan telak seperti ini. Saya pikir kami tidak layak mendapatkannya, kalah tiga gol dan tak mampu membalas. Pepe Reina tak sering bekerja sekeras itu dan saya pikir kami punya satu atau dua hal baik dalam pertandingan ini," sahut Hodgson usai laga seperti dikutip Skysports.

Sempat mendapat perlawanan di menit-menit awal pertandingan, City mulai terlihat bisa menguasai permainan menjelang menit 10. Tendangan keras Adam Johnson jauh dari luar kotak penalti yang melenceng tipis dari gawang Pepe Reina mengawali gempuran tuan rumah.

Tekana demi tekanan yang dilancarkan tuan rumah membuahkan hasil di menit 13. Menusuk dari sisi kiri pertahanan The Reds, James Milner lolos dari kawalan saat masuk kotak penalti, pemain debutan City itu pun dengan leluasan mengirim umpan mendatar ke dalam kotak penalti yang dituntaskan dengan sempurna oleh Barry ke dalam gawang lewat sontekan terarahnya.

Dalam posisi tertinggal, Liverpool tak mampu memberikan reaksi yang diharapkan. The Reds terlihat sangat kesulitan menghadapi permainan cepat yang diperagakan City, yang membuat Steven Gerrard cs sering dibuat pontang-panting di barisan belakang.

Barry kembali mengancam gawang The Reds di menit 19 melalui tendangan jarak jauhnya. Tak lama berselang gantian Carlos Teves menebar ancaman saat dia berhasil memenangi adu sprint dan melepaskan tembakan dari dalam kotak penalti. Tak ada gol dari proses itu karena bola cuma mengarah ke sisi luar gawang.

Si Merah memiliki peluang saat Fernando Torres mengirim bola pada Gerrard yang berdiri di muka kotak penalti. Tapi upaya tersebut tak banyak membahayakan pertahanan City karena arah sepakan sang kapten jauh melenceng dari sasaran.

Enam menit sebelum turun minum gantian Tevez yang membuat barisan belakang The Reds was-was. Di dalam kotak penalti, striker Argentina itu sempat mengecoh seorang pemain bertahan Liverpool dan melepaskan tembakan. Tim tamu beruntung si kulit bundar yang mengarah ke tiang dekat melejit ke luar lapangan karena membentur pemain Liverpool yang lain.

Di babak kedua City terus memberi tekanan ke pertahanan Liverpool. Hasilnya adalah gol kedua di menit 52 yang dilesakkan Tevez.

Gol itu bermula dari tendangan sudut yang ditanduk Micah Richards di tengah kotak penalti. Berdiri di tengah gawang, Reina terlihat siap menangkap bola yang datang ke arahnya. Namun pergerakan Tevez tepat di depannya, membuat kiper Spanyol itu gagal membaca arah bola dengan sempurna. Si kulit bundar masuk ke gawang meski sepertinya tak terlihat menyentuh sang striker Argentina.

Liverpool langsung bereaksi terhadap gol tersebut. Dalam sebuah momen mereka bahkan punya tiga peluang beruntun mencetak gol, yang tetap tak berujung robeknya gawang Joe Hart.

Bermula dari tendangan jarak jauh Gerrard yang terbentur tiang gawang, bola berhasil direbut Dirk Kuyt yang kemudian mengopernya pada David Ngog. Namun sepakan striker Prancis itu bisa dimentahkan Hart. Upaya rebound kedua yang dilakukan Torres dari jarak dekat juga mentah di tangan kiper Inggris berusia 23 tahun itu.

Di menit 67 Liverpool terkubur makin dalam menyusul terciptanya gol kedua Tevez dari eksekusi penalti. Wasit menunjuk titik putih di dalam kotak penalti Liverpool menyusul pelanggaran yang dibuat Skrtel terhadap Adam Johnson.

Tak memberi banyak kontribusi, Torres diganti Ryan Babel di menit 76. Pesepakbola Belanda itu langsung menebar ancama saat sepakannya dari sudut sempit yang lebih dulu memantul di tanah masih bisa diblok Hart.

Tak banyak yang bisa dilakukan Liverpool di sisa pertandingan. Hingga peluit akhir dibunyikan wasit, skor 3-0 untuk keunggulan tuan rumah tak berubah.

Liverpool, ujar Hodgson mantan pelatih Fulham dan Udinese itu, harusnya bisa mencetak gol lewat peluang yang beruntun di miliki Fernando Torres, Steven Gerrard dan David Ngog. Semua peluang tersebut faktanya dimentahkan kiper Joe Hart.

"Mereka mencetak gol di saat yang tepat. Gol kedua datang dari tendangan sudut menambah berat tugas kami. Kami tertahan di sana dan kami sedikit tak beruntung tak bisa mencetak gol saat (Joe) Hart membuat dua penyelamatan gemilang," tuntas Hodgson.

Dua pertandinga pertama Liga Inggris cuma satu poin bisa dikumpulkan Liverpool. Sehabis ditundukkan Manchester City 0-3, Roy Hodgson menegaskan kalau itu bukan gambaran kekuatan The Reds.

Di Anfield pekan lalu, dalam laga pekan pertama Liga Inggris, Liverpool gagal memetik kemenangan atas Arsenal. Sudah unggul lebih dulu, The Kop akhirnya harus puas bermain 1-1 setelah Pepe Reina melakukan blunder dengan memasukkan bola ke gawang sendiri.

Hasil imbang tersebut mungkin bisa dimaklumi mengingat Liverpool bermain dengan 10 orang selama setengah babak menyusul kartu merah yang didapat Joe Cole. Namun yang terjadi beberapa jam lalu di City of Manchester Stadium rasanya sulit disangkal lagi oleh Steven Gerrard cc.

The Reds benar-benar dibuat tak berdaya saat dipecundangi Manchester City dengan skor 0-3. Sekali imbang dan sekali kalah di dua laga perdana jelas bukan impian Liverpudlian di awal musim, setelah tahun lalu mereka terlempar jauh di posisi tujuh klasemen akhir musim.

Belum apa-apa, Liverpool sudah terlihat akan tercecer dari pesaing-pesaing utamanya di papan atas. Kondisi yang coba disanggah Roy Hodgson.

"Kami baru menjalani dua pertandingan di awal musim. Kami menghadapi Arsenal di awal musim dan harus bermain dengan 10 orang di babak pertama dan kemudian Manchesterf City dengan tim yang kuat. Terlalu prematur untuk mulai membicarakan seberapa besar peran pertandingan ini. Semoga saja di 36 pertandingan selanjutnya kami bisa mendapat banyak poin," ujar Hodgson di Skysports.

Kekalahan yang diderita Liverpool atas City dinihari tadi juga menunjukkan kurang ganasnya lini depan The Reds. Meski memasang David Ngog dan Fernando Torres sejak menit awal, 'Si Merah' terlihat sangat kesulitan menembus pertahanan lawannya. Hodgson pun secara khusus menyoroti performa Torres yang jauh dari memuaskan.

"Kami tahu ini akan terjadi. Kami memaksanya kembali bermain lebih cepat dari yang dia sendiri inginkan. Dia menunjukkan apa yang bisa dia berikan pada kami hari ini, tapi tentu saja dia masih di bawah performa terbaik dari yang bisa dan ingin dia berikan."

"Kami akan menunggunya dan ini baru dua pertandingan di awal musim. Ini balapan maraton dan kami harus lebih baik dan bekerja lebih keras lagi," tuntas Hodgson.

Liverpool yang sejatinya adalah pemilik gelar terbanyak di Liga Inggris di atas Manchester United, rasanya tak layak tercecer dan hanya sanggup mencetak 1 gol dalam 2 pertandingan awal liga. Timpang kalau dibandingkan dengan juara bertahan Chelsea yang mendulang 12 gol dalam 180 menit terakhir.

Namun, tentu para fans Liverpool tetap layak menaruh harapan. Tahun lalu, Arsenal pun jeblok tetapi Fabregas dkk tetap nangkring di posisi ketiga pada akhir musim. Sebagai fans Chelsea, saya berharap Liverpudlian bisa jadi nomor 2 di bawah The Blues.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...