Skip to main content

Menanti saham Petrochem diperdagangkan


Dengan portofolio berupa lima anak usaha, yang bergerak di bidang perdagangan dan manu faktur, PT Star Petro chem Tbk percaya diri menawarkan sahamnya kepada publik.

Saham perseroan ditargetkan tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 13 Juli.
Star Petrochem memiliki tiga anak usaha yang bergerak di bidang perdagangan be sar yakni PT Star Asia Indonesia, PT Tunas Surya, dan PT Celia Berkarya.

Dua anak usaha lainnya yakni PT Bintang Perkasa merupakan produsen tekstil dan PT Fiberindo Inti Prima adalah produsen benang berbahan baku serat sintetis.

Star Petrochem yang didirikan pada 2008 dengan nama PT Star Asia International, dan berubah nama menjadi PT Star Petrochem pada tahun lalu, memiliki kegiatan usaha berupa jual beli barang dagangan seperti serat petrokimia, benang, dan kapas.

Perseroan juga tercatat sebagai importir barang dagangan antara lain serat petrokimia, benang, dan kapas sintetis yang diperoleh dari berbagai negara penghasil kapas sintetis seperti China.

Lewat penawaran umum perdana (IPO), perseroan menawarkan 2 miliar saham atau 41,67% dari total modal ditempatkan dan disetor kepada pemodal publik. Dengan harga penawar an Rp102 per saham, calon emiten ini berpotensi mengantongi dana segar Rp204 miliar.

Perseroan juga menerbitkan waran seri I sebanyak 980 juta waran, di mana setiap pemegang 200 saham baru berhak memperoleh 98 waran seri I yang memberikan hak untuk membeli satu saham baru yang dikeluarkan dari portepel.

Berdasarkan prospektus ringkas perseroan, sebesar Rp125 miliar atau 62,5% dari dana hasil IPO akan digunakan untuk peningkatan modal di anak usahanya yakni Tunas Surya dan penyertaan modal ke anak perusahaan Tunas Surya yaitu PT Bintang Perkasa.

Lalu sebesar Rp60 miliar atau 30% dari dana hasil IPO akan digunakan untuk melunasi sebagian utang kepada PT Bank Capital Indonesia Tbk, sisanya masing-masing Rp5 miliar atau 2,5% digunakan untuk modal kerja perseroan dan sebesar Rp10 miliar atau 5% digunakan untuk penyertaan modal di anak usaha lainnya yakni Star Asia Indonesia.

Analis PT Valbury Asia Securities Winny Rahardja menilai bisnis yang dijalankan oleh Star Petrochem masih memiliki peluang yang bagus, mengingat jumlah penduduk Indonesia yang hampir mencapai 240 juta jiwa dan tingginya konsumsi tekstil yang mencapai 4,5 kilogram per tahun.

“Pasar domestik tetap menjadi peluang pengembangan usaha yang patut diperhitungkan,“ katanya dalam riset yang dipublikasikan pada 24 Juni 2011.

Saat ini, total kapasitas yang dimiliki perseroan dan anak usahanya baru sekitar 1% dari total kapasitas industri. Apalagi produk tekstil khususnya garmen dari Indonesia tetap memiliki potensi besar di pasar dalam negeri maupun ekspor, setelah lebih dari 1 tahun implementasi Asean China Free Trade Agreement (ACFTA).

Menurut Winny, kekhawatiran terhadap semakin membanjirnya produk tekstil asal China di Indonesia juga semakin menurun.
“Bahkan Indonesia juga sudah masuk ke dalam tiga emerging exporter bersama Bangladesh dan Vietnam,“ jelasnya.

Winny menyebutkan perseroan juga memiki peluang untuk masuk ke pasar Indonesia bagian timur melalui anak usahanya Fiberindo Inti Prima dan Bintang Perkasa yang bergerak di industri manufaktur.

“Fiberindo Inti dan Bintang Perkasa bisa memberikan pasok an barang dagangan kepada anak perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan dan kepada perusahaan-perusahaan di luar perseroan,“ terangnya.

Menurut Winny, risiko usaha yang perlu diwaspadai perseroan ke depannya adalah kinerja pendapatan dua anak usahanya yaitu Star Asia Indonesia dan Fiberindo Inti Prima karena keduanya selama ini menjadi penyumbang terbesar pendapatan konsolidasi perseroan.

“Rata-rata kontribusinya sebesar 43,3% dari total pendapatan perseroan, sehingga risiko ketergantungan perseroan terhadap anak perusahaan sangat tinggi,“ tuturnya.
Lebih mahal Terkait dengan harga penawaran perdana yang ditetapkan Rp102 per saham, Winny menilai harga itu jauh di atas rata-rata rasio harga saham terhadap laba bersih per saham (PER) perusahaan lain di industri sejenis.

Dengan menggunakan asumsi laba bersih perseroan 2011 sebesar Rp13,89 miliar, PER perseroan mencapai 35,3 kali atau jauh lebih tinggi dibandingkan dengan PER rata-rata industri sejenis yang hanya 5,06 kali.

Namun, apabila dibandingkan dengan nilai buku, jelasnya, harga yang ditawarkan sudah mencerminkan performanya karena price to book value (PBV) industri sejenis berada pada level 2,19 kali atau masih di atas PBV Star Petrochem sebesar 1,72 kali.

“Penawaran saham akan lebih atraktif jika harga yang ditawarkan lebih rendah dari valuasi industri sejenis,“ ujar Winny.

Atas dasar valuasi tersebut, Winny menyematkan rekomendasi speculative buy untuk saham perdana Star Petrochem.

(please read Bisnis Indonesia)

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...