Skip to main content

RIP Jusuf Merukh.. cum bene sol nituit, redditur oceano


Sempat terjadi simpang siur berita kematian pengusaha tambang Jusuf Merukh. Maklum saja, dia pergi di tengah polemik divestasi saham Newmont belum berujung konklusi.

Bahkan, masih tersisa per kara dengan manajemen Newmont Nusa Tenggara soal dokumen rapat pemegang saham.

Namun, perkara kematian adalah hal yang lain. De mortuis nil nisi bonum, tentang orang yang meninggal, bicarakan yang baik-baik. Apalagi memang banyak kebaikan yang bisa diceritakan tentang pengusaha kelahiran Rote, Nusa Tenggara Timur, yang men dapat gelar ‘raja kuasa pertambang an’ ini.

Berbicara pertambangan Indo nesia, tidak lengkap tanpa mengikutsertakan nama Merukh. Jejak yang ditinggalkan di pertambangan berbekas, mulai dari soal Busang hingga kepemilikan 20% di New mont.

Pebisnis ulung dan politisi kawakan kelahiran 10 Juni 1936 ini menghabiskan seluruh pendidikan SD hingga SMA di Makassar. Lalu, dia melanjutkan pendidikan S-1 di Texas Agricultural and Mechanical Univer sity, AS. Dia mengembuskan napas terakhir pada usia 75 tahun Rabu malam, pukul 19.24. Almarhum akan dima kam kan pada Sabtu di Pemakaman San Diego Hill, Karawang, Jawa Barat.
men Newmont Nusa Tenggara soal dokumen rapat pemegang saham.

Namun, perkara kematian adalah hal yang lain. De mortuis nil nisi bonum, tentang orang yang mening gal, bicarakan yang baik-baik. Apalagi memang banyak kebaikan yang bisa diceritakan tentang pengusaha kelahiran Rote, Nusa Tenggara Timur, yang mendapat gelar `raja kuasa pertambangan' ini.

Berbicara pertambangan Indonesia, tidak lengkap tanpa mengikutsertakan nama Merukh. Jejak yang ditinggalkan di pertambangan berbekas, mulai dari soal Busang hingga kepemilikan 20% di Newmont.

Pebisnis ulung dan politisi kawakan kelahiran 10 Juni 1936 ini menghabiskan seluruh pendidikan SD hingga SMA di Makassar. Lalu, dia melanjutkan pendidikan S-1 di Texas Agricultural and Mechanical University, AS. Dia mengembuskan napas terakhir pada usia 75 tahun Rabu malam, pukul 19.24. Almarhum akan dimakamkan pada Sabtu di Pemakaman San Diego Hill, Karawang, Jawa Barat.
Jajak di pertambangan Suatu saat dia pernah bercerita kepada penulis tentang awal masuknya di dunia pertambangan. Waktu itu pada 1970, kata dia, kawan satu kamar di kampus semasa di Texas, Tony Baranco yang bekerja sebagai direktur keuangan di AMAX menulis sepucuk surat.

Surat itu meminta kesediaan Merukh untuk menjadi mitranya di Indonesia untuk eksploitasi mineral di Tanah Air. “Tony katakan kepada saya, apakah saya bersedia menjadi mitra AMAX untuk eksploitasi mineral di Indonesia. Saya balas surat Tony, apa itu mineral? Tetapi Tony balas, kau tidak usah mengerti, jawab saja bersedia. Dan saya menyatakan bersedia. “ Tim AMAX lalu datang ke Indonesia membawa ahli eksplorasi dipimpin oleh senior geologis Jack Thomson. Merukh diminta mengurus izin survei penambangan, dari Aceh sampai ke Papua untuk mencari chrome. AMAX saat itu menjadi 80% pemasok chrome dunia.

Tentu saja Merukh tidak menyianyiakan kesempatan. Bermodalkan kedekatannya dengan Pak Sudomo, Pangkopkamtib--Merukh yang saat itu anggota DPR mudah mendapatkan izin survei penambangan dari Aceh hingga ke Papua.

Ketika itu perusahaan yang diajukan Merukh sekitar 500 kuasa pertambangan (KP), dari Aceh sampai Papua. Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Namun, sayang selama setahun itu tidak ada ladang chrome yang potensial, sehingga AMAX memutuskan keluar dari Indonesia.

Tetapi, lokasi-lokasi tembaga, emas, dan batu bara yang waktu itu tidak menguntungkan untuk di usaha kan saya alihkan menjadi KP emas, tembaga, dan batu bara.

“Saya yakin bahwa berbagai penemuan emas, tembaga, dan batu bara itu bukanlah sebuah kesalahan. Itu adalah mukjizat bagi saya.” Dari sanalah Merukh mengembangkan bisnisnya. Jatuh bangun selama 40 tahun membuahkan hasil. Usahanya terus menggurita.

Sejumlah penelitian aset orang kaya di Indonesia menempatkan Merukh sebagai orang kaya nomor 73 de ngan aset US$136 juta.

Tidak hanya membangun bisnis, Merukh juga malang melintang di dunia politik. Selain pernah menjadi anggota DPR, dia pun dikenal se bagai tokoh PNI (kemudian berfusi menjadi Partai Demokrasi Indonesia Per juang an). Di jenjang birokrasi, posisinya lumayan tinggi. Dia pernah menjadi Deputi Menteri dan Menteri Agraria ad interim dalam kabinet 100.

Kita tak akan pernah lagi mendengar lagi kata-katanya yang lugas dan langkahnya yang berani di dunia bisnis.

Pernah dia bercerita tentang rahasia usianya yang panjang. Tak lain soal pengabdian. Kendati sudah 41 tahun di dunia pertambangan, dia mengakui tidak pernah merasa cukup berarti bagi dunia. “Bagi saya, itu resep paling mujarab untuk umur panjang”.

Kemudian, dia lanjutkan begini, “Kalau kita merasa sudah cukup mengabdi berarti kita tidak lagi di perlukan dunia dan Tuhan. Lantas dunia dan Tuhan akan berkata, untuk apa berlama-lama menahan orang ini?” Iya Jusuf Merukh, Anda sudah cukup mengabdi. Requiscat in pace.

by Abraham RM (Bisnis Indonesia)

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...