Skip to main content

Mereka tetap belajar

SAKIT TAK MENGHALANGI ANAK-ANAK ITU BELAJAR Oleh Maryati 8 April 2008
Di antara kamar-kamar pasien di Bangsal Perawatan Anak Kelas III Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta yang dindingnya bercat kuning muram dan tidak berpendingin udara, terdapat sebuah ruang dengan tulisan "Sekolah-Ku" dengan huruf berukuran besar dan beraneka warna.
Kamis sore pekan lalu, di dalam ruangan dengan sebuah meja besar berbentuk persegi serta beberapa meja dan kursi sederhana itu lima pasien anak berkumpul, ditemani beberapa ibu dan gadis muda.
Aji Bachtiar (7), seorang pasien hemofilia asal Pandeglang, Jawa Barat, tampak sedang menorehkan krayon berwarna biru pada kertas bergambar skesta kucing dengan tangan kanan, yang kelingkingnya bengkak dan dibungkus perban putih.
Duduk di hadapan anak laki-laki bertubuh kurus itu, Rachel, anak perempuan Kelas V Sekolah Dasar asal Bekasi, Jawa Barat, yang dirawat di Bangsal Perawatan Anak RSCM karena menderita Leukemia (kanker darah).
Gadis kecil berambut pendek itu sedang menyusun potongan kubus di atas meja ketika Siti Nurhafisah (5), yang sembilan bulan lalu didiagnosis menderita Leukemia, bersama ibunya, Sakirah (31), memasuki ruangan yang udaranya beraroma khas obat itu.
"Aku mau menggambar," kata gadis cilik berpipi montok asal Brebes, Jawa Tengah, itu setelah duduk di kursi yang disusun mengelilingi meja besar berbentuk persegi.
Mendengar permintaan Siti, seorang gadis muda yang bertugas sebagai pendamping langsung memberinya selembar kertas gambar putih, sebuah pensil serta sekotak krayon untuk mewarnai.
Jemari kecil Siti pun kemudian menari lincah menggoreskan pensil gambarnya sambil berceloteh tentang gambar yang dibuatnya. "Ini kucing, namanya Tom, dan ini ikan untuk Tom. Kalau ini adik Tom," ucapnya di balik masker putih yang menutupi mulutnya.
Tak lama setelah kedatangan Siti, beberapa anak yang dirawat di rumah sakit rujukan nasional karena menderita penyakit kronis itu tiba di fasilitas belajar yang disediakan oleh Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) itu.
"Pesertanya tidak banyak, kadang hanya lima atau sepuluh anak, karena di sini anak-anak datang dan pergi, sesuai dengan jadwal program pengobatan mereka," kata Ketua YKAKI Pinta Manullang-Panggabean ketika ditemui di ruang belajar Sekolah-Ku.
Ia menambahkan, sejak dibuka di RSCM pada September 2007 lalu, Sekolah-Ku telah memberikan bantuan bimbingan belajar kepada lebih dari 100 anak penderita kanker dan penyakit kronis seperti leukemia, retinoblastoma (kanker mata), neuroblastoma (kanker syaraf), thalassemia, lupus, hepatitis, kanker tulang dan hemofilia.
Rinciannya, menurut data YKAKI, terdiri atas 29 pasien usia prasekolah, 24 pasien usia Taman Kanak-kanak (TK), 69 pasien yang duduk di bangku SD, 19 pasien yang duduk di bangku SMP dan dua pasien yang sedang belajar di SMA.
"Kita memang menerima semua anak yang ingin belajar, dari usia prasekolah sampai SMA, 17 tahun," katanya serta menambahkan pihaknya menyediakan empat orang tutor yang semuanya sarjana atau hampir setara dengan itu untuk mendampingi anak-anak belajar.
Namun, ia menjelaskan, dalam hal ini pihaknya tidak menggunakan kurikulum khusus. Pelajaran diberikan dengan model sekolah di rumah (home schooling) dua kali dalam sepekan, pada hari Senin dan Kamis.
"Materi yang diberikan disesuaikan dengan keinginan anak, kita tidak bisa memaksa karena mereka sedang sakit, jadi terserah mereka mau belajar apa dan seberapa lama," kata Pinta.
Lebih lanjut Pinta menjelaskan, selain di ruang belajar Sekolah-Ku, bimbingan belajar juga diberikan kepada anak-anak yang tidak bisa meninggalkan kamar perawatan namun ingin tetap belajar.
"Kalau kondisinya seperti itu, tutor akan datang ke ruangan untuk membantu mereka belajar," katanya.
Ina Rachmanita (23), salah satu tutor di Sekolah-Ku, mengiyakan perkataan Pinta tersebut. "Kadang ada anak-anak yang kondisi tubuhnya lemah tapi sangat bersemangat untuk belajar, kalau demikian kami yang datang ke ruang perawatan membantu mereka belajar, apa saja, sesuai keinginan mereka," kata mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang tengah menyelesaikan tugas akhirnya itu.
Menjadi Jembatan
Kanker bisa menyerang siapa saja, termasuk anak-anak. Menurut Badan Riset Kanker Internasional (International Agency for Research on Cancer/IARC), satu dari 600 anak menderita kanker sebelum berusia 16 tahun. Di Indonesia sendiri setiap tahunnya 120 anak terserang kanker.
Meski dapat disembuhkan jika terdeteksi sejak dini namun, menurut Pinta, pengobatan dan perawatan kanker pada anak membutuhkan waktu lama, antara tiga bulan hingga 2,5 tahun serta biaya mahal.
Waktu pengobatan dan perawatan yang selama itu membuat anak-anak penderita kanker seringkali kehilangan banyak waktu belajarnya di sekolah dan bahkan kadang ada yang sampai putus sekolah.
"Karena itu kami, sebagai orang tua dari anak yang menderita kanker, tergerak untuk membantu menjembatani mereka dengan sekolah. Membantu mereka belajar supaya ketika masuk tidak terlalu jauh tertinggal dari teman-temannya yang sehat," katanya.
Selain itu, kegiatan belajar itu juga diharapkan bisa mengalihkan perhatian anak-anak dari terapi pengobatan dan perawatan rutin yang kadang menyakitkan.
"Dengan belajar bersama, setidaknya pikiran mereka sedikit teralihkan dari berbagai macam terapi pengobatan yang seringkali menyakitkan, apalagi di sini mereka juga bisa bertemu dan bermain dengan anak-anak yang lain. Harapannya ini setidaknya bisa mengurangi kejenuhan mereka selama menjalani rutinitas pengobatan," katanya.
Oleh karena itu, lebih lanjut Pinta menjelaskan, pihaknya berharap ke depan seluruh rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya yang memiliki bangsal perawatan anak juga menyediakan fasilitas belajar bagi anak-anak yang dirawat dalam waktu lama di rumah sakit.
YKAKI, katanya, juga akan membantu memfasilitasi pengadaan sarana pendidikan dan penyediaan tenaga pendidik profesional di rumah sakit bagi anak-anak yang harus dirawat dalam waktu lama. "Harapan kami suatu saat cita-cita itu bisa terwujud, supaya mereka bisa tetap pintar dan tetap tersenyum

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...