Skip to main content

Asep dan Kemitraan

Oleh Fahmi Achmad
Bisnis Indonesia
Sukses dengan pola kemitraan

Mendapatkan kredit dari bank, bisa membuat orang bisa meraih sukses dalam berbisnis dan kadang malah membuat sesorang malah terjerembab bila tak pintar memanfaatkannya.

Asep Sulaiman Sabanda, kelahiran 1977, termasuk salah satu pelaku bisnis yang mampu menggunakan dana kredit bank dengan baik sehingga bisnisnya berhasil dan berdayaguna bagi masyarakat.

Pencapaian pemuda asal Subang-Jabar ini memang tidak sembarangan. Laki-laki muda ini merupakan salah satu pemimpin usaha bisnis yang membuatnya meraih penghargaan enterpreneurship dari Ernst & Young pada 30 November 2006.

Dalam penuturannya kepada sejumlah wartawan pekan lalu, Asep menceritakan pengalamannya yang bermula pada Juni 1998. Di tahun itu, alumni pondok pesantren Gontor ini memulai usaha peternakan ayam broiler dengan modal dari ayahnya berupa 10.000 ekor.

Ketika itu, dalam satu siklus produksi 40-56 hari, Asep berhasil meraih untung Rp10 juta atau Rp1.000 tiap ekor ayam ternaknya. Kesan pertama memang menggoda bagi pemuda yang pertama kali meraih untung Rp10 juta di usaha pertama.

Asep pun bertaruh pada siklus kedua dengan 60.000 ekor ayam, dan Alhamdulillah, kata dia, rugi Rp80 juta atau Rp1.500 per ekor. Penasaran, dia pun melanjutkan usahanya dengan 80.000 ekor dan kembali merugi Rp90 juta.

“Jadilah saya seorang pemuda berusia 19 tahun pada 1998 dengan jumlah utang Rp180 juta, termasuk satu mobil niaga yang baru dicicil dari perusahaan leasing. Itu dalam tempo enam bulan,” ungkapnya.

Tanpa pengalaman menghadapi penagih utang, anak kedua dari tiga bersaudara ini mengaku dirinya terpaksa melarikan diri dari rumah dan kejaran para debt collector para pemasoknya.

Sang ayah selaku guru bisnisnya, akhirnya menjadi penjamin utang dengan reputasi selaku peternak dengan kredibilitas bagus di Subang. Asep pun masih dipercaya para pemasok seperti Charoen Pokphand, Sierad, dll.

Pengalamannya berhubungan dengan kredit bank sebenarnya dimulai pada 1997 dengan plafon kredit Rp7,5 juta. Pada 2000, yang diakuinya sebagai tahun titik balik, Asep kembali memperoleh kredit Rp150 juta juga dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Desa.

Tahun itu, sesuai berangkat menunaikan ibadah haji, Asep menggunakan dana kredit itu menstabilkan usaha ternak ayam broilernya. Pada 2001, dengan tetap mengandalkan kapasitas produksi 60.000 ekor, dia mulai menjadi peternak inti dengan 40.000 ekor ayam di antaranya diurus 20 peternak plasma.

Dengan ketekunan dan modal dari bank, usaha ternaknya bertambah maju. Pada 2002, kapasitas kandangnya menjadi 150.000 ekor per siklus.

Kapasitas yang lalu melonjak menjadi 800.000 ekor pada 2003, membuatnya berminat mencari dana baru Rp350 juta dari bank namun ditolak. Asep kemudian beralih mengajukan kredit Rp750 juta kepada PT Bank Negara Indonesia (BNI).

Malah, BNI berani mengucurkan kredit hingga Rp1 miliar kepada Asep yang sebagian untuk refinancing serta pembelian kandang baru. Tak pelak, dukungan finansial membuat usahanya makin maju.

Pada 2004, kapasitas kandangnya mencapai 2,1 juta ekor per siklus 56 hari. Pernah di Juni 2004, Asep mengaku memperoleh keuntungan Rp600 juta dalam satu hari.

Kasus flu burung, meski sempat mencatatkan jatuhnya nilai jual ayam dari Rp6.500 menjadi Rp1.500, tak membuat Asep kalang kabut. Dia menerapkan bio-security ketat terhadap orang maupun kendaraan yang masuk-keluar peternakannya.

Kucuran kredit dari bank masih diterima Asep dan saat ini nilai outstanding dari BNI mencapai Rp36 miliar untuk menjaga kestabilan produksi 2 juta ekor ayamnya. Peternakannya masih mampu menggandeng 600 peternak plasma.

Dia menyebutkan suku bunga tinggi memang berpengaruh. “Tapi kecepatan dan pola kemitraan dari bank berupa edukasi dan konsultasi seperti sistem pelaporan keuangan serta akuntasi membuat saya betah menjadi nasabah di BNI,” ungkapnya.

Saat ini, Asep telah berubah menjadi chairperson bagi empat divisi usaha, satu koperasi peternak dan karyawan, satu yayasan yang bergerak di bidang edukasi dan pengembangan masyarakat sekitar.

Bahkan kelompok usahanya juga merambah negara tetangga dengan mendirikan perusahaan ekspor impor di Brunei Darussalam untuk mendukung bisnis ekspor makanan dan vitamin ternak. “Saya tidak mengekspor ayam (seperti chicken leg quarter) karena harga ayam kita lebih mahal, itu belum kondusif bagi bisnis,” ujarnya.

Kini kelompok usaha yang didirikan Asep dengan nama Santika Group, memiliki total aset sekitar Rp60 miliar dan mampu meraup omzet Rp220 miliar setahun. Asep mengungkapkan akan ekspansi ke sektor pertanian jagung di Jawa Timur (Blitar, Ponorogo dan Kediri).

Tentu, dia tetap berharap adanya tambahan modal dari perbankan dengan tetap mengandalkan pola kemitraan. Masih banyak Asep-Asep lain yang bisa menjadi mitra bank untuk menyalurkan kreditnya agar berdaya guna bagi perekonomian nasional.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...