Skip to main content

Balada Pilkada Jabar

Bogor, 8/4 (ANTARA) - Tidak semua warga Jawa Berat (Jabar) mengenal wajah gubernurnya, Danny Setiawan.
Ketika Danny Setiawan, yang mencalonkan diri lagi menjadi calon Gubernur Jabar 2008-2013 bersama pasangannya Iwan R Sulanjana, memasuki bus Maya Raya jurusan Bogor-Bekasi, di terminal Baranangsiang, Bogor, untuk melakukan kampanye simpatik, ada penumpang yang bertanya, "Yang mana Pak Danny Setiawan?"
Penumpang wanita paruh baya itu bertanya langsung pada Danny Setiawan. "Saya Bu Danny Setiawan. Saya sekarang mencalonkan lagi menjadi calon Gubernur Jabar. Jangan lupa ya Bu, nanti tanggal 13 April pilih No 1," ujar Danny serta menepuk pelan dadanya.
Ibu itu pun manggut-manggut. Danny juga mengingatkan penumpang lainnya, agar pada pelaksanaan pemungutan suara Pemilihan Gubernur Jabar, memilih pasangan nomor 1, Danny Setiawan Iwan Sulanjana.
Seorang penumpang lainnya, ada yang mengatakan, "Pak Danny, kalau Bapak membela rakyat kecil, tolong bayarin ongkos kita dong," katanya. Danny pun menjawab, nanti akan saya sampaikan pada tim kampanye saya.
Namun diperoleh informasi, sampai bus tersebut berangkat, tidak ada tim kampanye pasangan Danny Setiawan-Iwan Sulanjana yang membayari ongkos penumpang bus jurusan Bogor-Bekasi tersebut.
Sebelum mengunjungi penumpang bus, pasangan calon Gubernur/Wakil Gubernur Jabar dari Partai Golkar dan Partai Demokrat ini dipertemukan tim kampanyenya dengan kelompok pengamen terminal Baranangsiang. Saat itu, para pengamen menyanyikan lagi, Munajat Cinta, dari kelompok musik The Rock.
Usai melihat pengamen menyanyi, Danny Setiawan dan Iwan Sulanjana, makan siang di warung nasi sederhana di terminal Baranangsiang, dengan menu masakan Sunda. Namun, karena ruangannya sempat tidak semua yang hadir ikut makan siang, termasuk sebagian tim kampanye.
Sebaliknya, ketika Danny Setiawan dan Iwan Sulanjana, akan meninggalkan terminal baranangsiang menuju ke lokasi kampanye di Lapangan Sempur, menyediakan tiga angkot menuju ke Sempur.
Danny Setiawan memilih naik angkot terdepan dari tiga angkot tersebut. Danny duduk di kursi depan di sebelah sopir, sedangkan Iwan Sulanjana duduk di bagian belakang bersama beberapa orang tim kampanye.
Sopir angkot, Asep tampak sangat girang angkotnya dinaiki Danny Setiawan dan Iwan Sulanjana. "Saya orang Garut Pak, asli Jawa Barat, dan sekarang tinggal di Bogor," kata Asep. "Kalau begitu, jangan lupa nanti tanggal 13 April pilih pasangan No. 1," kata Danny seraya menepuk pundaknya.
Asep pun sempat berdoa sejenak sebelum menjalankan angkotnya.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...