Skip to main content

Buku Pasar Modal, Beli Saham dan Mati Ketawa ala Bursa

Salah satu acara yang saya suka datangi itu adalah peluncuran buku. Yap, peluncuran buku! Datang pas acara itu rasanya seperti bagaimana itu.... orang bilang kesannya intelek, tapi bagi saya itu seperti minum memuaskan dahaga.

Kali ini, hari ini Selasa 15 Agustus 2017, saya hadir di acara peluncuran buku "Pasar Modal di Ujung Pena: Serpihan Kenangan Tentang Bursa Kita".



Kebetulan buku ini ditulis oleh tiga wartawan Bisnis Indonesia Abraham Runga Mali, Afriyanto dan Lahyanto Nadie. Ketiga orang itu saya kenal 14 tahun terakhir. Mereka senior yang mengajarkan banyak hal dari jurnalistik hingga soal hidup.

Buku dengan tebal 206 halaman itu diterbitkan oleh Gagas Bisnis. Dalam talkshow peluncuran buku itu, sejumlah pelaku sejarah menjadi pembicara. Mereka antara lain Hasan Zein Mahmud (mantan Direktur Bursa Efek Jakarta 1992-1997), Bacelius Ruru (Kepala Bapepam 1993-1995) dan Tito Sulistio (Ketua Ikatan Pialang Efek Jakarta 1992-1995) yang kini menjadi Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Bang ABR—begitu biasa saya sapa Abraham Runga— mengatakan buku ini sebetulnya disusun dalam beberapa bulan terakhir secara spontan.



“Saya punya tulisan-tulisan lama, saya kumpulin terus dilihat bang Lay [Lahyanto Nadie)] dia bilang bagus ini dijadikan buku. Jadi itu kami gabung tulisan,” katanya, berusaha merendah diri.

Sebelum talkshow, bang Afri (Afriyanto) mengatakan buku tersebut juga hasil wawancara dengan JB Sumarlin dan Marzuki Usman.
“Mereka juga termasuk dalam sejarah membuat fondasi pasar modal yang kita kenal sekarang.”

Buku ini juga menjelaskan kondisi pasar modal pada zaman Belanda dan sempat terhenti, lalu diaktifkan kembali pada 1977. Di sisi lain, meskipun pasar modal sudah aktif selama 40 tahun, hanya sekitar 500.000 orang dari 250 juta penduduk di Indonesia.

Dari sisi hukum, pasar modal nasional juga masih rapuh. Setiap tahun ada pelaku pasar modal yang terjerat hukum akibat tindakan kecurangan. Namun, banyak juga yang lolos dari jeratan hukum karena sulit dibuktikan, misalnya transaksi yang menyesatkan seperti insider trading, cornering, churning, dan short selling.

Praktik kecurangan tersebut dianalogikan seperti angin, bisa dirasakan tetapi tidak terlihat, atau tersirat tapi tak tersurat. Buku ini hadir untuk mengajak pembaca ke dalam jejak pena para jurnalis yang berlandaskan fakta. Buku ini juga diselingi dengan analisis, opini, dan kritik itu semata-mata disajikan secara jernih tanpa tendensi.

ABR tak mau peluncuran buku ini ‘garing’. Dia juga menceritakan sisi unik yang bikin orang banyak tertawa.

“Pak Bacelius Ruru, ini orang paling sabar. Saya dulu waktu liputan di Bapepam banyak tidur di bawah sekretarisnya,” kata ABR, disambut ketawa hadirin.

“Maksudnya tidur di bawah meja sekretaris pak Bacelius. Kadang begitu sekretarisnya pergi ke toilet, saya lihat semua surat-surat di atas mejanya, terus dari situ saya bikin berita. Besoknya pak Bacelius heran-heran kenapa beritanya bisa keluar di Bisnis Indonesia,” ungkap ABR.

ABR kembali bercerita. “Kalau pak Hasan Zein ini enak buat wartawan, dia galak suka marah. Jadi kalau kita bikin berita terus dia marah, nah jadi berita lagi. Jadi enak wartawan kerja sama beliau,”.

Lain lagi dengan pak Tito Sulistio, bos BEI sekarang. “Pak Tito ini saya kenal memang sudah lama. Banyak ilmu yang dia bagi, banyak hal, main saham, kadang-kadang minum juga, berjudi dan banyak belajar pasar modal,” ungkap ABR.

Hadirin terbahak-bahak.

“Tapi pak Tito, yang bapak ajar semua ke saya itu sisa dua saja yang masih, yaitu minum dan berjudi, yang lain masih ingat sedikit-sedikit...” kata ABR, disambut Tito dengan tertawa lebar.

“Tapi kita harus berterima kasih kepada ketiga orang ini karena mereka berjasa dalam membangun fondasi pasar modal,” tutur ABR, lagi-lagi memuji, menyenangkan hati.



Buku yang ditulis ketiga orang ini memang enak dibaca dan renyah, khas tulisan wartawan tanpa ada istilah-istilah rumit di bidang ekonomi apalagi pasar saham.

Data-data yang diusung buku ini juga kekinian banget. Orang bilang ke-saiki-an. Mulai dari tulisan baheula era JB Sumarlin di mana pedagang saham masih main catat mencatat orderan, hingga zaman pak Jokowi yang semuanya serba otomat di Bursa Efek.

Saya sendiri suka dengan bagian tulisan Mati Ketawa Ala Bursa. Hasan Zein Mahmud ternyata punya banyak cerita humor.

Dii bercerita dialog istri pialang saham dengan anaknya;

Mama: Nak, kamu tahu siapa itu RA Kartini?
Anak: Nggak Ma
Mama: Makanya bacalah buku sejarah
Anak: Mama tahu Tante Joan
Mama: Nggak, emang siapa dia?
Anak: Makanya, sesekali bacalah WA papa!

Ada lagi cerita lain soal Bursa Saham dan Bra

“Bursa efek tak ubahnya staples Bra. Sebagian investor dengan takjub memandang ‘Kok tidak jatuh ya?’. Sebagian yang lain menunggu dengan penuh cemas harap saat jatuhnya, “Ini kesempatan meraih barang yang menarik!”

Dan masih banyak lagi cerita lucu yang diungkapkan di buku tersebut. Tapi bagi saya, buku ini semakin menambah semangat untuk mengais rezeki di pasar saham.


Tentu saya berharap Otoritas Jasa Keuangan yang mengawasi pasar modal memberikan perlindungan kepada para pemegang saham kecil.

Tanpa intervensi OJK, para pemegang saham kecil—yang dirayu untuk ‘nabung saham’— akan jadi santapan empuk para pendiri perusahaan Tbk. (terbuka), pemegang saham mayoritas sekaligus pengurus, terutama emiten yang porsi publiknya kurang di bawah 30%.

Lebih tragis lagi, di pasar sekunder, para pemegang saham kecil ini menjadi santapan gempur para bandar!

Saya ingin seperti Loh Kheng Hong, yang tidur-tiduran dan baca koran aja, bisa untung puluhan miliar di satu saham.

http://djorky112.blogspot.co.id/2017/08/investasi-dan-biarkan-uang-bekerja.html

Saya juga ingin seperti Peter Tanuri yang awalnya hanya investor perorangan, kemudian jadi pengusaha dan mendirikan Trimegah dan kini mengembangkan Multistrada, produsen ban nasional terkemuka.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...