Skip to main content

Ratu Tisha Destria, Timnas Indonesia, dan PSSI Rebound

Sore ini, Kamis (24/8/2017), dia datang tepat waktu sesuai dengan agenda pertemuan 15.30 WIB. Mereka datang berdua, mas Gatot dan mbak Tisha. Yap, dia namanya Ratu Tisha Destria.

Ratu Tisha Destria atau yang biasa disapa Tisha adalah perempuan pertama yang menjadi Seketaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Wanita kelahiran Jakarta, 30 Desember 1985 tampil modis dan segar.



Ini kesempatan pertama, bu Sekjen, begitu dia disapa pengurus sepakbola nasional, datang ke kantor kami. Surprise juga sebenarnya kok PSSI mau datang ke media kami yang notabene media ekonomi, bukan olahraga.

“Kami ingin mengenalkan PSSI sekarang seperti apa, biar masyarakat tahu bagaimana industri sepakbola itu seperti apa?” katanya, sangat lancar.

Tisha memulai presentasinya yang berjudul Sepakbola Untuk Indonesia.

“Sepakbola dimulai dari economic driven, lalu ada character building, terus educational tools, managed professionally, baru International success. Jadi jangan langsung bicara timnas aja,” ujarnya, penuh kepercayaan diri.

"Kami mulai bertahap, pelan-pelan, percayalah di PSSI sekarang berbenah dan tidak lagi seperti dulu," ujar Tisha, penuh harapan

Sebagai Sekjen, tentu saja Tisha juga hapal jumlah anggota PSSI ada 835 klub dan 7 kompetisi rutin per tahun.

Tisha juga memaparkan bagaimana hubungan sepakbola dengan pariwisata di Indonesia.




“Kami jadi tahu ada 36 titik klub di Indonesia yang bisa mengangkat pariwisata lokal dengan sepakbola. Contohnya di Ciamis, alun-alun dan stadionnya kadang dipakai untuk pertunjukan seni. Klub bolanya hidup dari itu,” ungkapnya.

Giliran hubungan sepakbola dengan ekonomi nasional, Tisha menyampaikan angka-angka yang bikin saya jadi manggut-manggut.
Data Tisha itu memperlihatkan bahwa, di dalam stadion, penonton bola rela mengeluarkan uang Rp90.528,- per pertandingan untuk membeli merchandise. Dan setiap orang penonton rela mengeluarkan Rp52.375,- untuk membeli makanan minuman.

Total ada 17.000 pekerja yang bisa mencari nafkah di dalam stadion. Itu untuk pertandingan yang dimainkan 18 tim Liga 1 Indonesia.

Di luar stadion, ada data bagaimana orang Indonesia kini bersedia membelanjakan akomodasi Rp165.833,- untuk tiap satu pertandingan. Tiap orang juga rela membayar Rp40.057,- untuk transportasi.

Satu penonton bersedia mengeluarkan uang Rp50.128,- untuk membeli makanan minuman di luar stadion.

Efek ekonominya juga hebat dengan mampu menyerap 29.000 pekerja di luar stadion.



Saya pun nyeletuk, “Data-data ini sebenarnya penting bagi dunia usaha dan pebisnis bagaimana melihat sepakbola itu sebagai suatu industri yang bisa menopang ekonomi nasional,”

Tiba-tiba, di luar ruangan, rekan sejawat pada teriak kegirangan. Ternyata timnas U-23 yang bertanding lawan Kamboja lagi unggul. Posisinya memang saat itu Indonesia lagi genting, Timnas harus menang agar lolos ke semifinal Sea Games 2017.

Jika timnas menang lawan Kamboja, dan Vietnam kalah dari Thailand, maka Indonesia melaju ke semifinal sebagai runner-up.

“Ini sejarah, timnas kita lagi main, eh kita malah bahas yang serius-serius tentang sepakbola di dalam sini,” kata Tisha. Kami tertawa bersama.

Lebih girang lagi, ketika hingga menit 85, Indonesia sudah unggul 2-0 dan Thailand juga menang 3-0 atas Vietnam.
Pertemuan kami sudahi karena situasi tak lagi kondusif, teriakan penonton siaran langsung tv lebih kencang. Kami pun bergabung. Lagi-lagi kawan-kawan sekantor lebih suka memandang Tisha daripada melihat bagaimana para pemain muda Indonesia lagi berjuang dan kadang berantem dengan pemain Kamboja.

Beberapa teman, curi-curi pandang dan malu-malu mengajak foto bareng. Mungkin mereka bangga baru kali ini ada perempuan muda jadi Sekjen PSSI dan cantik pula.

Biar gak penasaran, ini sekilas tentang Tisha.

Wanita kelahiran Jakarta, 30 Desember 1985 ini adalah anak dari pasangan Tubagus Adhe dan Venia Maharani.

Tisha menghabiskan masa kecilnya di Jakarta. Dari usia SD hingga SMA, ia tinggal di Ibukota Jakarta.

Ia termasuk anak yang pintar. Saat masuk sekolah favorit di SMA 8, selain disibukkan dengan kegiatan akademik, Tisha mulai menggemari dunia sepakbola. Bukan sebagai pemain, tapi manajer tim bola sekolah. Dari sanalah ia mulai merancang, menyiapkan tim sepakbola sekolah.

Berkat sentuhan tangannya, tim sekolahnya mengikuti beberapa turnamen dan juara. Ini sebuah prestasi yang membanggakan bagi sekolah SMA 8 yang saat itu sekolahnya lebih fokus pada akademik.

Selain itu, saat di SMA 8, Tisha juga berkesempatan ikut program pertukaran pelajar antar budaya negara AFS di Leipzig, Jerman.
Lulus dari sekolah menengah, ia masuk jurusan matematika Institut Teknologi Bandung (ITB). Kegemarannya pada sepakbola berlanjut di kampus ini. Ia juga aktif di kegiatan olahraga pria ini.

Tisha bergabung dengan Persatuan Sepak Bola ITB (PS ITB), ia menjadi bagian tim manajerial tim yang berada langsung di bawah Liga Mahasiswa Jawa Barat dan Persib.

Lulus kuliah tahun 2008, ia mendapatkan tawaran bekerja pada perusahaan perminyakan Schlumberger. Bersama Hardani Maulana, Tisha mendirikan LabBola, sebuah usaha yang bergerak dalam bidang jasa penyedia data analisis di dunia olahraga.

Kemampuan dan pengetahuannya makin matang saat ia ikut pendidikan di badan sepakbola dunia, FIFA, pada 2013. Tisha termasuk 28 orang yang lolos seleksi FIFA dari 6400 pendaftar dari penjuru dunia.

Tisha mengikuti program Master di FIFA selama satu setengah tahun tahun. Di sini, ia memperoleh beberapa bidang studi di antaranya Sport Humanity, Manajemen Olahraga, dan Hukum Olahraga. Ia berhasil lulus peringkat 7 dari 28 orang.

Pada 2016, saat kompetisi sepakbola Indonesia terbekukan, Tisha bersama PT Gelora Trisula Semesta (GTS), ikut menggelar ajang Indonesia Soccer Championship (ISC). Di ajang tersebut, Tisha juga menjabat sebagai Direktur Kompetisi. Acara ini berjalan sukses.

Di tengah terpilihnya Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum PSSI baru periode 2016-2020, pada 2017 Tisha mencoba mengajukan diri menjadi salah satu calon Sekjen PSSI. Setelah memengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test), wanita berumur 32 tahun ini akhirnya terpilih sekaligus sebagai wanita pertama yang menjadi sekjen sejak PSSI berdiri 87 tahun lalu.

So Good Luck Tisha, bawalah PSSI Rebound !

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...