Skip to main content

Sepak bola & krisis finansial Eropa, suatu paradoks?


Eropa bisa dikatakan sebagai kawasan yang tengah sakit. Negara negara di Benua Biru tersebut tengah menderita karena digerogoti krisis ekonomi yang amat sangat serius.

Yunani, negeri para dewa ditolong Uni Eropa dengan US$155 miliar, Portugal mendapatkan injeksi US$5,4 miliar dari dokter--kalau tidak bisa dikatakan dukun--IMF, Italia harus merayu China untuk membeli obligasi negaranya.

Kelesuan ekonomi bahkan membuat Inggris harus bermuram durja dengan kerusuhan London pekan pertama Agustus 2011.

Bahkan National Institute of Economic and Social Research per 7 September 2011 menyebutkan ekonomi Inggris hanya tumbuh 0,2% untuk masa 3 bulan terakhir.

Globalisasi, seperti kata Franklin Foer dalam buku How Soccer Explains the World, membuat sepak bola juga tak bisa dipisahkan dengan kondisi ekonomi global. Sport follow the economy! Lembaga akuntansi PKF (U.K.) LLP menyebutkan kelesuan ekonomi membuat mayoritas klub sepak bola di Inggris tak mampu menaikkan gaji pemain terkait dengan raihan penjualan tiket dan kostum pemain yang tak menggembirakan.

Fakta itu didapat PKF dari hasil survei yang dilakukan mereka terhadap para direktur keuangan dari 41 tim sepak bola di Inggris.

Sebanyak 51% dari klub yang disurvei menyebutkan angka penjualan tiket musim lalu tercatat turun dan 54% dari mereka mengatakan hasil penjualan kostum dan merchandise terpangkas. Para fans club kini terpaksa melihat kostum replika sebagai pajangan mewah ketimbang menjadi kebutuhan mereka.

Namun, 34% dari responden menyebutkan pendapatan dari sponsor justru naik dan hanya sedikit dari klub Liga Primer yang mampu merangkul sponsor korporasi besar.

Parahnya, kata Trevor Birch, salah satu pejabat PKF, kebanyakan klub justru menjual para pemain saat masa transfer sebelum musim 2011-2012 dimulai.

Musim ini, hanya lima klub dari responden yang mampu menaikkan gaji pemain tanpa menambah jumlah skuat.

Aturan Financial Fair Play yang dikembangkan UEFA dengan sanksi keikutsertaan di Liga Champions sebenarnya lumayan efektif diterapkan para klub. Sebanyak 67% dari responden survei PKF menyatakan akan mematuhi aturan itu, dan 75% klub a liga primer Skotlandia juga bersikap sama.

Pasar transfer Ironisnya, Premier League kini menjadi liga dengan jumlah total transfer tertinggi di dunia.

Lembaga keuangan Deloitte mencatat ada 485 juta pounds atau setara dengan Rp6,7 triliun yang dikeluarkan 20 klub di bursa transfer musim panas lalu.

Nilai itu naik 33% dibandingkan dengan hasil aktivitas yang dilakukan pada periode yang sama tahun lalu, yakni sebesar 120 juta pounds atau Rp1,6 triliun.

Klub-klub papan atas seperti Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, dan Manchester United menjadi klub yang paling dominan dengan mengeluarkan dana lebih dari 50 juta pounds (Rp691 miliar) atau 66% dari nilai total transfer.

Hal yang menarik, para klub tersebut mengeluarkan 205 juta pounds atau setara dengan Rp2,8 triliun untuk membeli pemain internasional.

Jumlah itu hanya 42% dari total jumlah transfer, dan hal tersebut tercatat turun dibandingkan dengan musim lalu yang porsinya mencapai 75%.

Talenta pemain lokal kian diakui dan klub pun menggelontorkan 165 juta pounds (Rp2,2 triliun) untuk membeli pemain asli Inggris atau 34% dari total transfer.
Entah itu karena sekadar mematuhi aturan FA dan UEFA, atau memang pemain lokal lebih murah?
Lain lagi dengan cerita di Rusia. Kenaikan harga emas yang terus mendekati US$2.000 per troy ounce menguntungkan Anzhi Makhackala, klub kaya baru yang dimiliki Suleiman Kerimov.

Sang taipan menggelontorkan 100 juta euro (US$136 juta) untuk memborong para pemain bintang seperti Samuel Eto'o dari Inter Milan hingga Yuri Zhirkov dari Chelsea agar bermain di selatan Dagestan, kota yang masih diwarnai konflik separatis.

Kerimov yang memiliki kekayaan US$7,8 miliar, kata majalah Forbes, merupakan pemilik OAO Polyus Gold, produsen emas terbesar di Rusia dan dia mengendalikan OAO Uralkali, produsen bahan kimia terbesar dunia.

Dari semua fakta tersebut, teman saya tiba-tiba cuma bertanya “Apa kabar sepak bola Indonesia?“. Ah, silakan Anda jawab sendiri. (fahmi.achmad@ bisnis.co.id)

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...