Skip to main content

Tea Auction

The first tea auction in 2010 successful with prime auctioning two types of tea-Orthodox and CTC-as much as 933,820 kilograms worth US$1.85 million, while sales estimated at US$2 million.

"Total two types of tea auctioned 1.13 million kilograms. If until this week it sold, the state will have revenue of more than US$ 2 million," said Head of Marketing Sales PT Kharisma Nusantara Bersama (KPB PT Nusantara), Dadang Juanda to Bisnis Indonesia, recently.

Sales value worth more than US$1.8 million, he continued, is the result of sales made to both types of tea which was considered an average of US$1.98,54.

Dadang explained that sold tea is produced PTPN IV, PTPN VI PTPN VIII, IX and PTPN PTPN XII. "If all [the production of PTPN] sold a result of more than US$2 million, at least US$21.5 million. I'm optimistic it could be sold. The problem is only at its limit price," said Dadang who became Prime Tea Auction Committee 2010.

According to him, at the beginning of this week, the company will gain from the sale of tea that was not sold. "I believe that until early this week will be worth over US$200,000, so the sales value could be over US$ 2 million," he said.

Chairman of the National Tea Council, Grace Badrudin, said tea production managed state-owned companies registered 80,000 tons, or 50% of the total national production of 137,000 tons / year. "That tea products manufactured state-owned companies are still more dominant than the production company run by private or public," said the former Chairman of the Tea Association of Indonesia (ATI) is.

Public interest to manage the tea plantations, he said, had declined sharply. Even in 1991 in North Sumatra (North Sumatra) had been a transfer of tea plantations into the rice paddy fields to reach 6,000 ha. "People are leaving a lot of tea plantation business and move to develop rice farming in 1991," he said.

The reason, says Grace, tea prices are still far from the standard of living needs of the community. However, lately, he's getting better because the price of tea in the international market has reached US$2.5 per kg.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...