Skip to main content

Lion Air just ruin my day, stupidito

Lion Air just ruin my day, stupidito

Hari ini benar-benar bikin saya kecewa.
saya seharusnya berangkat dari Makassar dengan Lion air JT 793 pukul 13.45.
pukul 12.10 saya check in di konter lion bandara baru Makassar.
pukul 14.00, announcer umumkan penumpang melapor ke gate 5
petugas ground bilang pesawat tiba 14.30 dan berangkat 15.00
pesawat lion MD90 tiba pukul 14:45
petugas keliling ruang tunggu, "Penumpang Denpasar?" sambil memberikan nomor kursi baru
Kami, "penumpang Jakarta" jelas mengabaikan pertanyaan yang salah tersebut.
kami boarding 15:25
Rebutan kursi dan double seat terjadi.. penumpang banyak yang marah
saya dapat kursi di 25E tapi ditukarkan dengan seorang ibu 25F (emergency).
Seorang ibu jalan sambil teriak," kursi yang di toilet itu buat saya,". ucapan yang mengingatkan saya soal tempat di KA saat mudik lebaran.
benar-benar seperti bis kota, penumpang bebas cari tempat duduk yang kosong.. luar biasa.
pesawat berangkat ke Denpasar pukul 16.00
Pesawat mendarat di Denpasar 16.51
isi fuel dan penumpang disuruh turun 25 menit.
17.23 kami masuk kembali ke pesawat.
saya kembali ke kursi 25F yang bangkunya rusak dan doyong ke belakang.. (benar-benar kayak bis Mayasari)
kursi ternyata banyak yang kosong, seorang bapak dari Denpasar bilang dia sudah dari jam 10.30 pagi di-delayed.
Pramugari menyuruh penumpang pindah dari nomor belakang ke nomor 1-21
saya jadi duduk di kursi emergency tapi nomor 24A
Pramugari bersitegang dengan penumpang. "Kenapa kami dipindah-pindah terus, tidak ada kejelasan," ujar penumpang.
'bapak ini diatur buat keselamatan, kalau tidak mau selamat ya sudah," ujar pramugari ketus.
Saya jadi kesal juga, saya bilang," maaf ya mbak, kami ini penumpang dan kami bayar, banyak yang kesal karena delay sampe lebih dari 2 jam, secara psikologis kami marah, layanan menyebalkan. jawaban anda juga cerewet dan bawel ketus, kami bisa menuntut anda,"
"kalau bawap ingin komplain, silahkan ke depan," ujar pramugari.
"Anda ini perusahaan jasa kan, bagaimana kasih layanan yang memuaskan, kami ini sudah capek delay," ujar saya
"Sama pak, kami juga capek," ujar pramugari (aah saya lupa namanya)
"Kalau anda jawab dengan baik dan senyum saja, itu sudah baik dan kami terima.. ingat itu," kesal juga saya.
"Iya pak, kami minta maaf tapi ini buat keselamatan," jawabnya.
"Iya benar, betul tapi dengan cara yang baik dan sopan. Kami ini dirugikan kok dilayani seperti itu," kata saya.

akhirnya dia senyum juga. "Untung pramugarinya cantik, hehehehe," ujar bapak-bapak dari Makassar yang rambutnya sudah putih semua.

Saya masih kesal, nomor HP Rusdi kirana (Dirut) dan Edward Sirait (direktur umum) saya kirimi SMS.... apa Lion Air sudah pakai manajemen bis untuk pesawat... benar-benar amburadul.. payah..payah.. payah.. Tidak ada sanksi pula buat keterlambatan, keteledoran dan ketidakbecusan layanan. Brengsek memang.
yang pasti, Lion sama saja dengan Sriwijaya Air, yang dua pekan lalu saya naiki dari Makassar ke Jakarta. Harusnya berangkat jam satu, kok tibanya jam 18.10 wib di Cengkareng..
saya benar-benar rugi waktu. Terlambat, mau satu detik mau satu jam itu tetap terlambat. (satu bayi telat lahir satu detik saja dia berstatus adik dibandingkan bayi lainnya).
LION AIR hari ini bagi saya memang brengsek.


salam
faa

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...