Skip to main content

Bukan sekedar sensasi….

Bukan sekedar sensasi….


Jumat, 19 Desember 2008, 15:54 WIB, kompas.com melansir berita dari Washington yang memberitakan W Mark Felt, mantan agen FBI meninggal dunia.
Nama Felt mungkin terdengar asing bagi kebanyakan orang, tetapi bagi penyuka kasus besar, misteri dan intrik, dia merupakan salah satu ikon.
Felt merupakan orang yang membocorkan informasi kepada wartawan dengan nama samaran "Deep Throat" dalam pengungkapan skandal Watergate, meninggal dunia pada usia 95 tahun, Kamis (18/12) waktu setempat.
Rob Jones, cucu Felt, mengatakan, kakeknya meninggal di rumah di Santa Rosa, California. Felt meninggal dunia karena gagal jantung.
Pada 2005, dalam sebuah artikel di Vanity Fair, Felt mengaku bahwa dialah sumber wartawan Washington Post ketika menurunkan 400 laporan tentang skandal Watergate pada awal 1970-an. Terkuaknya skandal Watergate memicu pengunduran diri Presiden Richard Nixon pada 1974.
“Saya bangga dengan segala yang dilakukan Deep Throat," kata Felt (92) kepada CNN dalam acara Larry King Live pada 2006. Itulah pertama kali Felt bersedia wawancara untuk publik dalam kasus tersebut.
Peran Felt dalam pengungkapan kasus itu bermula pada 1972 setelah pembobolan kantor Partai Nasional Demokratik di kompleks perkantoran Watergate di Washington. Belakangan diketahui bahwa pembobol itu adalah orang-orang Presiden Nixon yang melakukan aktivitas ilegal untuk memuluskan sepak terjang Nixon di kancah politik.
Felt yang merupakan salah satu pejabat FBI mengaku tidak puas dengan penanganan kasus itu sehingga membocorkan informasi kepada wartawan.
Carl Bernstein dan Bob Woodward, dua wartawan pemula Washington Post menulis laporan tentang pembobolan itu berdasarkan informasi Felt secara berseri sehingga akhirnya menyeret Presiden Nixon.
Yang menarik, Felt, yang pensiun dari FBI pada 1973, juga pernah terlibat masalah hukum. Dia menjadi terdakwa pada 1980 dengan tuduhan terlibat konspirasi penggeledahan rumah seorang tersangka pengeboman tanpa surat dari pengadilan.
Ketika kasusnya disidangkan, mantan Presiden Nixon justru tampil memberikan kesaksian yang meringankan. Felt akhirnya diampuni oleh Presiden Ronald Reagen pada 1981.
Jadi apa yang menarik bagi saya? Toh manusia temasuk saya, anda dan Felt pasti akan mati. Kematian merupakan sesuatu yang sangat pasti di dunia ini, setiap detik pasti nyawa seseorang dicabut malaikat.
Felt, Deep Throat, Carl Bernstein dan Bob Woodward merupakan ‘lonceng pembunyi’ bagi peristiwa-peristiwa besar dunia yang muncul melalui jurnalistik. Peran jurnalistik yang membuat saya bangga menjadi wartawan.. hmm naif juga ya…
Saya juga teringat tiga tahun lalu ketika otak ini diisi ilmu dan wawasan olhe Andreas Harsono, pentolan Pantau yang memberikan pelatihan kepada wartawan Bisnis… hhhmmm pelatihan ?????
Saya suka dengan apa yang disampaikan Andreas terutama soal sembilan elemen jurnalisme dan tujuh kriteria sumber berita anonim. Terima kasih buat Andreas yang jalan-jalan ke Tidore, kampung halaman orang tuaku.
Andreas yang murid Bill Kovach mengajarkan satu hal yang saya pahami betul, wartawan tidak boleh bias dan harus bisa mengambil sikap, verifikasi dan jarak atau apaun yang mempengaruhi beritanya. Apa betul ya…?
Bernstein dan Woodward seakan menjadi contoh sempurna untuk gerakan jurnalisme mendasar tersebut. Felt sang Deep Throat menjadi sumber anonim dan bagaimana menjaga narasumber berita dengan teguh kukuh berlapis baja. Selain Bernstein dan Woodward, Benjamin Bradlee, sang executive editor, yang tahu siapa Deep Throat..
"Sejak 1972, saya berjanji padanya untuk tidak mengungkapkan identitas dirinya. Selama dia masih hidup atau sampai dia membebaskan saya dari perjanjian kerahasiaan ini. Sampai hari ini saya tetap berhubungan dengan dia," ungkap Woodward.
Banyak kasus dunia kemudian diberi label mirip Watergate.. pokoknya ada gate-gate-nya gitu deh….. apalagi kalau wartawannya penuh semangat darah muda…..ingin laporan investigasi.. (yang pasti BUKAN INFOTAINMENT.. yang bagi saya sok investigasi…jijai).
Istilah investigasi muncul pertama kali saat Nellie Bly jadi reporter Pittsburgh Dispatch pada 1890. Bly terpaksa dipecat karena pengiklan tidak suka dengan laporan buruh yang dibuatnya.
Nellie Bly direkrut Joseph Pulitzer, penerbit harian The New York World. Ketekunan Nellie Bly mengilhami jurnalisme Amerika. Banyak kalangan media tertarik melakukan garapan-garapan investigasi.
Pada 1902 pola kerja Bly diadopsi oleh majalah-majalah Mc Clure's, Collier's, Munsey's, Saturday Evening Post, dan The Arena.
Reportase investigasi tambah populer saat para wartawan berhasil mempengaruhi parlemen dalam pengesahan undang-undang seperti Pure Food and Drugs Act (1906) dan Meat Inspection Act (1906) di masa pemerintahan Presiden Theodore Roosevelt. Salah seorang wartawan legendaris era ini Ida M. Tarbell. Dia sering menulis buat majalah Mc Clure's.
The History of the Standard Oil Company, yang ditulis Tarbell mengungkapkan skandal perusahaan minyak Standard Oil, yang dipimpin industriawan John D. Rockefeller. Tarbell tak sekadar memakai pendekatan wartawan biasa, yang mengandalkan wawancara, riset kecil, atau observasi lewat penyamaran, tapi juga menggunakan paper trail atau pelacakan dokumen seperti transkrip dengar pendapat dalam parlemen, berkas-berkas pengadilan, surat perjanjian, dan sertifikat tanah. Tarbell meletakkan dasar bahwa investigasi yang terbaik lewat dokumen-dokumen penting.
Tujuh dekade setelah Ida Tarbell, muncul sosok reporter yang sepak terjangnya mirip Tarbell. Namanya, Jeft Gerth dari harian The New York Times. Gerth seorang pria berusia 56, botak, dan mengerut seperti burung hantu. Orangnya sangat low profile.
Dia dikenal lantaran berkemampuan di bidang akuntansi (bersertifikat), suka bekerja dalam diam.
Gerth pula yang memperkenalkan jutawan Saudi Arabia Osama bin Laden pertama kalinya ke masyarakat dunia. Gerth mengungkap skandal Whitewater yang menampilkan Hillary Clinton dan hubungannya dengan regulasi industri di Arkansas ketika suaminya Bill Clinton menjabat gubernur Arkansas.
Gerth juga meraih hadiah Pulitzer untuk liputan tentang perusahaan-perusahaan Amerika yang memberikan akses teknologi satelit pada negara Cina.
Di Asia, Filipina adalah negara kali pertama yang memiliki organisasi semacam Philippines Center for Investigative Journalism (PCIJ). Lembaga ini didirikan oleh sekelompok wartawan muda pada tahun 1989 sesaat setelah diktator Ferdinand Marcos melarikan diri dari Filipina.
Pada November 1998 di Cambridge, Amerika Serikat, International Consortium of Investigative Journalists memberikan penghargaan kepada Nate Thayer dari mingguan Far Eastern Economic Review yang berpangkalan di Hongkong atas jerih-payah dan prestasi Thayer dalam mewawancarai pemimpin Khmer Merah Pol Pot.
Thayer harus mondar-mandir antara Bangkok, Phnom Penh dan hutan-hutan perbatasan Thailand-Kamboja untuk mengejar sumber-sumbernya di kalangan Khmer Merah.
Di Indonesia, bukan TAJUK dan majalah TEMPO, tetapi yang terkenal adalah liputan harian Indonesia Raya atas kasus korupsi di Pertamina dan Badan Logistik antara 1969 dan 1972.
Terakhir, liputan investigasi skala internasional yang dilakukan oleh wartawan Indonesia adalah investigasi tentang skandal emas Busang yang dibuat oleh wartawan freelance Bondan Winarno.
Dia melanglang buana, pergi ke Calgary dan Toronto di Kanada, Manila di Filipina serta hutan rimba Busang di Kalimantan untuk menelusuri investigasinya.
Bondan juga menelusuri berbagai dokumen tentang pertambangan mineral dan cara-cara untuk "meracuni" mata bor dengan "emas luar" sedemikian rupa sehingga dibuat kesimpulan ada cebakan emas yang luar biasa besarnya di bawah permukaan hutan Busang.
Intinya Bondan menganggap Michael de Guzman, geolog senior Bre-X, "meracuni" sample hasil pemboran mereka dan melakukan kejahatan canggih untuk memperkaya diri mereka.
Bondan secara mengejutkan juga memperkirakan bahwa de Guzman masih hidup, tidak mati bunuh diri seperti diberitakan. Bondan melaporkan bahwa mayat yang ditemukan di tengah hutan Busang itu tidak memiliki gigi palsu di rahang atasnya seperti yang dimiliki de Guzman.
Geolog Filipina ini juga mempunyai gaya hidup mewah, suka berfoya-foya, main perempuan, yang tidak cocok dengan tipe orang yang memiliki kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. Aneh juga bahwa de Gusman tidak duduk di samping pilot helikopter namun di belakang. Bondan mewawancarai dua orang dokter yang melakukan autopsi terhadap jasad tersebut serta seorang dari empat isteri de Guzman.
Luar biasa buat Bondan, tapi sayang saya tak tahu lagi kasus de Guzman ini berakhir seperti apa setelah pada Mei 2005, dia mengirim uang US$25.000 kepada Genie istrinya melalui Citibank Brasil. Aaah seandainya saya diberikan tekad untuk bikin cerita legendaris seperti mereka…bukan sekedar sensasi.


Salam
faa

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...