Skip to main content

Dua malam di Bukittinggi…

Dua malam di Bukittinggi…

Jumat 19 Desember pukul 9.30, JT350 mendarat mulus di Bandara Minangkabau. Kali ini tak ada keluhan berarti dengan singa terbang ini, meski nomor kursinya tak pas berederat.
Antrio ambil bagasi lumayan lama, Cuma tiga item, 1 koper, 1 kardus kecil dan 1 tas luggage cap Garuda.
Reza,, Sandy, dan mertua pun udah menanti. Ale yang dinanti dan jelas bukan saya.
Sandy sudah cukup tinggi untuk anak kelas 13 sedangkan Reza punya dua kaki yang kuat sebagai anak 3,5 tahun.
Mobil pun meluncur ke arah Bukittinggi, mampir di Sicincin untuk makan sebentar di Lamun Ombak.. kata orang rumah makan ini lumayan enak. Dan itu bukan bualan… kepala ikan, kuah rendang, lado ijo, tambah jeruk panas membuat saya kembali memiliki selera makan. Yang terpenting, makan enam orang Cuma membayar Rp127.500,-.. gile ndro, kagak nyampe pekgo.
Cuaca panas saat itu,… yang pasti makes me sweat… apa karena baru makan enak jadi berkeringat ya..? kata orang kalau badan sehat terlihat habis makan.. pasti berkeringat……
Masuk Padang Panjang, lewati banyak site (situs) menyegarkan mata.. mulai dari Padang Golf, Air Mancur (Aia Mancua.. hehehe.. dikit-dikit bisa logat minang oiii..), this object becom my favo place,, Sate Mak Syukur, Bika ambon samping kebun sayur organik…sampai deretan durian dan l;angse di samping jalan…
Masuk Bukittinggi disambut gerimis dan angin segar yang benar-benar dingiiinnnnnn…… tak sempat Jumatan pula.. ..
Tiba di rumah, Tarok dipo, gugukpanjang….langsung rebahan…Ada yang kelupaan.. . tak sempat mandi…Mandi menjadi ritual yang wajib bila tak ingin kena Bukit Fever…. Penyakit bersin-bersin dan pulek yang membuat tidur malam menjadi tak nyenyak…
Namun, sore hari masih sempat naik bendi ke pasar atas cari durian.. malah dapatnya di pasar Banto.. selemparan batu dari pasar atas…. Kedua pasar ini tak lebih 500 meter dari Jam Gadang.. monumen andalan Bukitinggi dan hanya berjarak 5000 perak naik bendi dari rumah mertua.
Naik bendi atau naik kudo.. menjadi favorit bagi Ale… dia memang paling suka lihat kuda.. lambang kejantanan kali ya….
Kembali soal durian… kali ini durian Kamang…(entahlah… istilah dari mana…?) Rp7.000 per buah. … dan 10 buah pun terangku di bendi.. menuju rumah…tak teraso nikmatnyo…. Saya cuma tahu durian di Sumbar itu berasal dari Medan dan SIlungkang.
Sabtu 20 Desember… Kebun binatang Bukittinggi baru saja buka, penjual kacang dan balon sabun buat anak-anak berteriak menawarkan dagangan…..karcis masuk pun cuma Rp5.000.
Arena rusa bertanduk tinggi menjadi gerbang pembuka bagi Ale dan Reza memberikan kacang… lumayan setengah bungkus kacang kering yang doseng-oseng… menjadi santapan para rusa.
Kandang rusa berkuku genap menjadi tempat kedua… mebagi-bagi kacang…. Tak lama 2 ekor gajah besar pun melambaikan belalai memanggil kami…. Jepret-jepret… puas berpose..
Ale berlari menuju kandang burung-burung… mulai dar Burung Hantu sampai ayam puyuh…
Kandang Monyet, Siamang, trus gorila menjadi favorit berikutnya…. Dan RUMAH GADANG pun jadi asaran adu balap dua bocah ini…jepret-jepret lagi pakai Nokia N958GB luamayan bagus… sayang videonya pakai MP4 jadi tak compatible dengan W980 8GB yang baru saya dapat…
Pulang dari kebun binatang.. mampir di pasar atas cari sayuar dan makanan… singgah ke Ketupek si Apek…lokasinya di antara pasar atas dan pasar bawah… Ketupat sayur dengan bumbu kacang manis ini makanan yang juga saya suka sejak sewindu lalu menginjakkan kaki ke bukittinggi.
Pak, bungkuws ciek… tambo cindua tigo gale…..(cendol tiga gelas itu ternyata malah tambah bikin haus.)….
Kripik balado tak saya beli… tak paham diriku kalo elvani, gombang nan cengka dan lainnya pada memesan… sorry guys….
Minggu, pukul 8.45, saya duduk mengantuk di ruang tunggu Bandara Minangkabau.. JT353 terlambat dan baru tiba pukul 10.. whuuuaaah ngantuk, soalnya dari Bukittinggi sekitar 71 km itu jam 6.30.
Pukul 12.04, saya tiba di rumah, pesan mie ayam…nyam-nyam,… trus ke kantor…. Ngedit berita dan nulis note ini.


SalamFaa

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...