Skip to main content

Memahami Hubungan Anak Milenial, Pulsa, dan Game Online

Dua bulan lalu, setiap disuruh, dia selalu minta upah. “Bi, Rp30.000 ya,” kata anak saya.



Uang sebanyak Rp30.000 itu bukanlah untuk dia jajan, apalagi untuk tabungan. Uang sebanyak itu untuk anak Sekolah Dasar, menurut saya sih sudah demikian banyak. Maklum dulu zaman saya SD, uang jajan hanyalah Rp25-Rp100.

Itupun kadang-kadang kalau gak bawa bekal dari rumah. Bahkan saya pernah beberapa kali ke lapangan tenis, bantuin mengambil bola. Lumayan dulu bisa dapat Rp150 dari ibu-ibu dan bapak-bapak yang main tenis.

Kini, cerita uang jajan dengan nilai ratusan rupiah jelas hal yang muskil. Bagi anak saya, uang Rp30.000 itu nilai harian biasa. Kecil bahkan.

Namun, bagi anak saya, uang senilai Rp30.000 bukan dia minta secara tunai. “Pulsa ya,” ujarnya.

“Mau uang Rp50.000 atau pulsa Rp50.000,” kata saya, coba menawar. Siapa tahu, dia memilih uang tunai Rp50.000, biar nanti Rp30.000 jajan, terus Rp20.000 disimpan untuk tabungan.

“Pulsa Rp50.000,” jawabnya, tegas dan yakin.

Yap, zaman anak sekarang, pulsa telepon adalah mata uang yang sakral. Pulsa bisa menjawab segala pertanyaan mereka, pulsa bahkan dinilai bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka—entah primer, sekunder ataupun tersier.

Bagi anak saya, pulsa adalah untuk memenuhi kebutuhannya untuk bermain Games online di tablet dan telepon seluler (ponsel) cerdasnya.

Anda tahu Games Arena of Valor? Mobile Legends? Dota 2? League of Legends? Saya yakin tak banyak orang tua yang paham.

Ketika cerita ini saya sampaikan kepada rekan kerja di kantor, dia menjawab, “Lho kalau di rumah saya udah ada WiFi, jadi anak saya bebas main Internetnya,”

“Bukan Internetnya sih, soalnya di rumah saya juga udah langganan Internet dari FirstMedia. Tapi pulsa ini untuk dia beli ini-itu di Games online itu,” ungkap saya.

“Jadi penyedia Games online itu sekarang pintar juga. Mereka jual ketengan. Kalau pemainnya mau ke babak selanjutnya, dia harus beli peralatan, pedang, atau senjata misalnya. Itu harga satu pedang bisa Rp20.000 misalnya. So pulsa pun terkuras untuk beli ini-itu,” papar saya, tersenyum kecut.

Kini, saya dan istri membatasi anak saya main tablet dalam sepekan hanya Jumat-Sabtu-Minggu.

“Tapi minta pulsa 75.000 ya,” kata anak saya, selalu menawar.

“Tapi kalau ada nilai yang remed [remedial], pulsanya gak ada lagi,” kata saya memaksa berunding.

Kini pulsa pun menjadi senjata saya untuk bernegosiasi dengan anak saya. Disuruh rajin belajar, tawarannya pulsa. Disuruh disiplin mengaji dan sholat, negonya pakai pulsa. Macam-macam, pulsa dicabut—begitu ancamannya.

Sejauh ini, skema perundingan itu cukup efektif. Namun, saya sadar, pendidikan anak seharusnya tidak seperti begitu. Kesadaran harus dari dalam hatinya sendiri.

Entah mengapa, saya selalu mencoba mengerti apa perkataan para ahli bahwa anak-anak milenial memang membutuhkan treatment berbeda. Pola pikir mereka berbeda sesuai dengan perkembangan zaman.

Saat ini, gadget atau gawai adalah hal yang biasa. Teknologi canggih kini mudah didapat.

Kata bang Iwan Fals, “Segala produksi ada di sini, menggoda kita ‘tuk memiliki. Hari-hari kita berisi hasutan. Hingga kita tak tahu diri sendiri,”— Mimpi Yang Terbeli.

Dan tak perlu berjalan di pertokoan, semua barang itu bisa didapat hanya dengan jempol kita memencet layar ponsel cerdas kita. E-Commerce adalah hal biasa, CoD (cash on delivery) adalah skema biasa. Bayar pakai pulsa HP adalah wajar dan biasa.

Dan boleh jadi anak milenial tak kenal bang Iwan Fals. Mungkin loh. Lha wong anak saya aja tahu Gatokaca karena dia salah satu hero di Mobile Legends.



“Nanti anak kamu sepuluh tahun lagi, pasti berbeda perangainya. 10 tahun lagi, kemajuan teknologi sudah berbeda. Entah seperti apa?” kata saya kepada rekan kerja, Riendy yang baru memiliki anak berusia 2 tahun.

Tanpa bermaksud menakut-nakuti, pola pengasuhan anak ‘zaman now’ memang berbeda tiap dekade.

Anak yang besar dengan Majalah Bobo, berbeda dengan anak generasi Majalah Hai, dan tentu saja tidak sama dengan anak Dota dan iOS serta Android.

So, pengasuhannya jelas tak sama, perlu perlakuan berbeda dan yang tentunya juga tak sama di tiap keluarga.

Bagi saya, apapun bisa dilakukan anak asalkan sholat dan mengaji tak boleh ditawar, karena itu adalah perintah agama yang bisa menjadi benteng karakternya dalam kehidupan sehari-hari.

Apapun itu, adalah tugas kita sebagai orang tua untuk mempersiapkan anak-anak sebagai penerus dan mampu menghadapi tantangan untuk masa depan yang lebih baik.













Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...