Skip to main content

Alexis, Sebuah Kisah Zaman Now



“Apa itu Alexis?” tanya Wakil Presiden Jusuf Kalla, ketika menjawab pertanyaan wartawan di kantor Wapres di Jakarta, Selasa (31/10/2017).

Pak JK memang tokoh nasional yang termasuk media darling karena selalu mau menjawab pertanyaan wartawan. Namun, kali ini beliau memang tidak tahu tentang Alexis, hotel yang tutup karena Pemprov DKI Jakarta menolak memperpanjang tanda daftar usaha pariwisata (TDUP).

Perpanjangan izin Alexis sudah diupayakan sejak Juli 2017, namun belum ada respons dari Pemprov DKI Jakarta. Per hari ini, Hotel dan Griya Pijat Alexis, sudah resmi tidak beroperasi sementara. Dampaknya, 1.000 karyawan terpaksa dirumahkan.

“Ya itu kita tanya sama Gubernur DKI,” kata pak JK, tersenyum.

Alexis, nama yang sering disebut-sebut karena masuk dalam bahan pertarungan kandidat Pilkada DKI 2017. Sang pemenang pilkada, Anies Baswedan pun jadi Gubernur dan setelah dilantik, dia pun langsung tegas terhadap operasional Alexis.

Berita di media pun menyeruak pada Senin 30 Oktober 2017. Gubernur Anies pun tegas soal Alexis.

Tak lama, beredar undangan liputan, yang juga saya dapatkan di grup whatsapp.

Yth, rekan- rekan media

Sehubungan dengan pemberitaan belakangan ini terkait Hotel Alexis serta beredarnya surat pemberhentian izin griya pijat di hotel kami. Maka kami akan mengundang rekan- rekan menghadiri acara jumpa pers yang akan dilakukan :

Lokasi : Hotel Alexis Lantai 2
Waktu : Pukul 10.00 WIB sampai selesai.

Demikian undangan kami semoga rekan- rekan berkenan hadir. Terima Kasih. Salam Hangat


CP : ‭0812 84808017‬
Lina, Staf Legal dab Jubir Alexis Grup


So, dapat dibayangkan, hari ini jam 10 tadi, semua media massa di Ibukota pun meluncur ke Hotel Alexis di utara Jakarta.



Antusias wartawan begitu besar. Ada yang karena nilai berita, ada yang cuma penasaran, kapan lagi masuk ke lantai 7, yang kabarnya Surga Dunia tersebut.

Maklum saja, wartawan Ibukota tak semuanya dapat dikatakan pernah ‘mencicipi’ dunia malam. Ada juga yang alim, tapi soal dunia malam gemerlap tetap fasih bercerita.

So kesempatan ke Alexis dan bertemu Lina tentu menjadi kesempatan yang sangat, sangat, sangat berharga. Saya? Tak sempat punya waktu.

Lina Novianti, begitu perempuan cantik dan modis ini dipanggil. Jabatanya adalah staf Legal dan juru bicara Alexis grup.



Lina menepis semua tuduhan yang menyebutkan bahwa di lantai 7 hotel itu adalah tempat praktisi prostitusi terselubung.

Biar wartawan tak banyak tanya, mereka diajak melihat sendiri kondisin di lantai tujuh Hotel Alexis yang sehari-hari dijadikan tempat griya pijat dan spa.

Lina menjelaskan saat tiba di lokasi griya pijat dan spa, pengunjung langsung masuk menuju ke resepsionis untuk melakukan pendataan dan membayar biaya sebesar Rp150.000, hanya untuk fasilitas.

Setelah melakukan proses itu, para pengunjung langsung diarahkan pintu masuk yang berada di sebelah kiri resepsionis. Setelah diperkenankan masuk oleh pihak pengelola.

Setelah melakukan registrasi tersebut para pengunjung akan naik ke atas untuk berganti pakaian dan diberikan kunci loker serta satu buah handuk untuk berendam," ujar Lina kepada wartawan di lantai tujuh Hotel Alexis, Pademangan, Jakarta Utara, Selasa (31/10/2017).

(https://news.okezone.com/read/2017/10/31/338/1805785/katanya-surga-dunia-ada-di-lantai-7-hotel-alexis-ini-dia penampakannya?utm_source=wp&utm_medium=box&utm_campaign=widgetPopuler6)

Setelah mendapatkan handuk, para pengunjung itu langsung meletakkan barang bawaannya ke dalam loker. Kemudian, di tempat ini terdapat alat berendam atau Jacuzzi berbentuk bulat. Konsep lantai tujuh ini sendiri dibuat outdoor atau terbuka.

"Kemudian pengunjung bisa berendam di tiga kolam yang disediakan di lokasi ini," tutur Lina.

Setelah berendam, pengunjung langsung menuju kamar untuk melakukan pemijitan. Di dalam kamar berukuran 2 meter x 6 meter tersebut ada fasilitas seperti kasur, TV dan bathub untuk berendam.

"Di dalam kamar ini ada tulisan dilarang berbuat asusila, Jadi tidak ada yang namanya prostitusi di sini. Sedangkan kamar untuk griya pijat ini ada 26 kamar," ungkapnya.




Cerita mengenai Alexis ini memang menarik dan yang menarik bukan soal Alexisnya, melainkan rasa penasaran orang tentang bisnis prostitusi.

Beragam cerita soal prostitusi sudah dipublikasikan, tetapi manusia tak pernah bosan. Orang bilang, prostitusi adalah bisnis yang tak pernah padam sejak jaman adam. Bahkan sebagai industri, ‘bisnis lendir’ tak akan pernah bisa diberantas.

Saya jadi ingat kata guru saya dulu. Ada dua hal yang tak lekang dari pikiran manusia, ‘Seks’ dan ‘Judi’ akan selalu ada dalam benak.

Dan kalau dua hal itu jadi persoalan di Jakarta? ya seperti kata pak JK, kita serahkan saja kepada Gubernur DKI. Biarlah itu urusan pak Anies dan pak Sandi.

Semoga kita semua jauh dari perbuatan tercela.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...