Skip to main content

Tak perlu bermimpi ke London


Cubit pipi, itu seperti dua kata sandi utama ketika pertama kali menginjakkan kaki di bandara Heathrow London.

Berangakat ke London bukanlah kesempatan reguler yang bak membalikkan tangan dan merogoh uang di kantor baju. Kesempatan itu tak datang dua kali, itu prinsip ketika insting mengatakan itu keberuntungan.

Keberuntungan itu datang 20 hari sebelumnya. "Pastinya sih kan karena diajak.. soalnya kalau duit sendiri sih gak cukup dan mendingan naik haji deh."

Aslinya undangan itu untuk kegiatan roadshow 11 emiten di London dan New York. Tak ada makan siang yang gratis meski tentu saja tiket dan akomodasi ditanggung pengundang. Visanya? yaa diurus sendiri lah.

Nana Oktavia, si rekan kerja, jadi referensi bagaimana mengurus visa Inggris karena dia pada Februari 2011 mendarat duluan ke London atas undangan Kementerian Ekonomi Inggris.

"Mendingan foto dulu deh. tuh di jalan sabang banyak kok.. baru datang aja mereka udah langsung nanya, Amrik, UK, Australia banyak deh," kata Nana.

Benar juga sih, di jalan sabang begitu banyak toko yang melayani jasa potret memotret, pas photo paspor hingga jasa pengisian dokumen visa. Modal Rp35.000, saya sudah dapat satu disket pas foto dengan ukuran khusus visa UK dan AS beserta yang tercetak.

Mengurus visa Inggris susah-susah mudah sih. Buka situs VFS Global, isi dokumen online lalu print dokumen yang sudah terisi dan memiliki kode nomor registrasi tersebut. Siapkan paspor dan dokumen lain data simpanan bank 6 bulan terakhir, slip gaji dan lainnya seperti itinerary dan tiket (kalau memang ada).

Namun, saya butuh hampir 10 hari untuk mengurus dokumen pendukung termasuk support letter dari Daiwa Securities London dan New York.

Semua dokumen itu saya bawa ke PT VFS Services Indonesia di Plaza Abda. Naik saja ke lantai 22 dan anda akan mudah mendapatkan satu lantai gedung itu diisi ruang pengurusan visa UK, Australia dan Kanada. VFS memang agen resmi yang ditunjuk untuk visa ketiga negara tersebut.

Layanan mereka cukup profesional, kala itu saya datang siang dan mendapatkan nomor antrian dengan 11 kesempatan lagi, tetapi 1,5 jam kemudian urusan sudah kelar termasuk dengan pengambilan sidik jari dan foto mata. Tak lupa visanya harus dibayar Rp1.140.000 plus Rp25.000 dengan layanan informasi SMS dan e-mail.

Tak sampai satu pekan, SMS dari +3344556677 berbunyi ; Permohonan visa yang diproses dengan no.ref. VFS..... diambil dari pusat aplikasi visa inggris pada tanggal sekian..sekian." Well, it so easy rite?

Waktu tersisa 2 hari dan terpaksa pengurusan dokumen visa Amerika untuk ke New York di drop. Masalahnya, kalau diurus, paspor akan tertahan dan tak bisa jua berangkat ke Inggris. Lagipula tak ada layanan visa on arrival ke negeri Paman Sam.

Apalagi untuk nama berbau arab seperti saya. Sudah bukan rahasia kalau perlakuan imigrasi Amerika Serikat terhadap orang-orang Asia dengan nama yang berbau arab sangat ketat dan di luar logika. Kalau lolos pun bisa beberapa jam diinterogasi, begitu kata sejumlah rekan saya.

Ah sudahlah mimpi jalan-jalan ke New York boleh saja berantakan... yang penting London here i come!

Pesawat SQ dari CKG berangkat 7 malam dan tiba di SIN tak sampai 2 jam. Kami harus menanti hingga 00.30 dinihari sebelum SQ Superjumbo A380 double deck menjadi pengantar badan ini untuk 12.45 menit hingga LHR.

So Heathrow pagi itu tak begitu dingin.. 14 derajat celcius dan antrian imigrasi yang 1 jam menjadi penyambut kami. Enaknya, tak perlu khawatir karena di London Heathrow (LHR), bagasi yang menanti penumpang pesawat. apalagi ada mobil penjemput menuju hotel. Aman deh !

Ah tetap saja menginjak kaki di London seperti harus mencubit pipi dahulu... !

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...