Skip to main content

Asahimas Flat Glass, produsen kaca & kaca mobil


Bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda Jepang pada Maret ikut menyisakan 'derita' bagi sejumlah pelaku industri di Indonesia, salah satunya PT Asahimas Flat Glass Tbk.

Volume penjualan produsen kaca lembaran dan kaca otomotif itu kembali terkoreksi akibat dampak dari bencana alam yang memukul industri otomotif di Jepang, setelah sempat membaik pascakrisis keuangan global global 2008-2009.

Industri otomotif memang ikut menentukan pencapaian kinerja Asahimas. Terganggunya proses produksi mobil akan membuat permintaan terhadap produk kaca otomotif yang diproduksi oleh Asahimas menurun.

Pada tahun lalu, emiten yang 43,86% sahamnya dikuasai oleh Asahi Glass Co Ltd itu membukukan lonjakan laba bersih 391,8% menjadi Rp330,97 miliar dibandingkan dengan Rp67,29 miliar pada tahun sebelumnya.
Penjualan perseroan naik 26,8% menjadi Rp2,43 triliun dibandingkan dengan Rp1,91 triliun pada 2009.

Volume penjualan kaca lembaran dan kaca otomotif masing-masing tumbuh 20% dan 53% dibandingkan dengan penjualan pada tahun sebelumnya. Pencapaian tersebut di atas proyeksi perseroan dan pelaku pasar.

Memasuki kuartal pertama tahun ini, perseroan membukukan penjualan Rp601,01 miliar atau meningkat 6,6% dibandingkan dengan kinerja pada periode yang sama tahun lalu Rp563,59 miliar. Laba bersih naik 25,52% menjadi Rp80,37 miliar dibandingkan dengan sebelumnya Rp64,03 miliar.

Namun, pada kuartal kedua tahun ini, kinerja Asahimas menurun, dengan penjualan Rp565,35 miliar atau turun 5,9% dibandingkan dengan kinerja penjualan pada kuartal pertama tahun ini Rp601,01 miliar.
Penurunan kinerja penjualan tersebut membuat PT Kim Eng Securities untuk sementara merekomendasikan tahan (hold) untuk saham emiten yang ditransaksikan dengan kode AMFG itu.

Analis Kim Eng Adi N. Wicaksono mengatakan penurunan penjualan kaca otomotif perseroan pada kuartal kedua tahun ini disebabkan oleh turunnya penjualan kaca otomotif dan kaca lembaran masing-masing 15% dan 2% dibandingkan dengan penjualan pada kuartal sebelumnya. "Penurunan disebabkan oleh bencana di Jepang pada Maret," katanya dalam riset yang dirilis pada 10 Agustus 2011.

Dia menjelaskan bencana alam di Jepang telah mengganggu pasokan mesin mobil dari Jepang ke Indonesia, sehingga membuat produksi mobil di dalam negeri menurun. "Mayoritas mesin mobil di dalam negeri masih mengimpor dari Jepang. Inilah yang membuat volume penjualan kaca otomotif Asahimas turun 15% dibandingkan dengan penjualan pada kuartal sebelumnya," jelasnya.

Penurunan penjualan pada kuartal kedua tersebut menyebabkan pencapaian kinerja perseroan selama semester I/2011 turun di bawah estimasi Kim Eng. "Namun, kami percaya penurunan penjualan ini akan dikompensasi di sisa kuartal tahun ini lebih cepat dibandingkan dengan perkiraan pemulihan Jepang," ujarnya.

Atas pertimbangan itu, lanjut Adi, Kim Eng memutuskan untuk tidak merevisi proyeksi kinerja keuangan Asahimas sepanjang tahun ini yang diperkirakan mencapai Rp2,66 triliun untuk penjualan dan Rp368 miliar untuk laba bersih.

"Kami tetap pada proyeksi sebelumnya karena kami percaya penurunan volume penjualan yang terjadi pada kuartal kedua hanya fenomena sementara," terangnya.

Hingga paruh pertama tahun ini, Asahimas membukukan penjualan Rp1,17 triliun atau naik tipis 2,4% dibandingkan dengan penjualan pada periode yang sama tahun lalu Rp1,14 triliun. Sejalan dengan itu, laba bersih naik 3,3% menjadi Rp128,45 miliar dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu Rp124,31 miliar.

Tahun ini, perusahaan yang 40,8% sahamnya dimiliki oleh PT Rodamas itu, menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 10% menjadi Rp6,67 triliun dibandingkan dengan Rp2,43 triliun pada 2010, dengan pertimbangan volume penjualan tumbuh 5%-7% dan sisanya mengandalkan kenaikan harga jual.

Manajemen Asahimas mempertimbangkan kemungkinan untuk meningkatkan kapasitas produksi kaca otomotif sebesar 150.000 unit tahun ini, seiring dengan ekspektasi pertumbuhan penjualan mobil nasional sebesar 2%-9% menjadi 780.000-830.000 unit.

Pada Juli 2011, perseroan telah merealisasikan pembelian tanah seluas 60 hektare dari PT Bumi Pusaka Prima Perintis di Cikampek, Jawa Barat yang dekat dengan lokasi pabrik kaca otomotif perseroan.

Menurut Wakil Direktur Utama Asahimas Tjahjana Setiadhi, tanah yang dibeli senilai Rp69,5 miliar itu akan digunakan untuk perluasan pabrik perseroan. "Sumber dana transaksi diambil dari kas internal dan tidak akan berpengaruh terhadap operasional perseroan," katanya beberapa waktu lalu.
Kim Eng menilai ekspansi peningkatan kapasitas yang dilakukan oleh Asahimas merupakan bagian dari upaya antisipasi pertumbuhan penjualan mobil dalam negeri. "Namun, kami tidak akan memasukkannya sebagai faktor ekspansi kapasitas sebelum konstruksi pembangunan pabriknya terealisasi tahun depan," ujar Adi.

(please read Bisnis Indonesia daily)

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...