Skip to main content

Shortfall Pajak 2025, Salah Siapa?

Kontraksi penerimaan pajak yang terus berlanjut hingga paruh kedua tahun ini menempatkan pemerintah pada situasi yang kurang nyaman.

Realisasi hingga September yang baru mencapai 62,4% dari outlook atau 59,2% dari target APBN 2025 menunjukkan pelemahan yang jauh lebih dalam dibandingkan dengan perkiraan awal. Jika tren ini berlanjut, shortfall bukan hanya tak terhindarkan, tetapi juga berpotensi melebar dari prediksi 5,1% yang disampaikan pemerintah beberapa bulan lalu.

Kita melihat tantangan ini bukanlah bentuk kegagalan, tetapi sebagai sinyal korektif yang perlu direspons dengan langkah lebih berani. 

Kinerja hingga Oktober akan menjadi penentu, apakah pemerintah mampu menahan pelemahan, atau justru harus mengakui bahwa pendapatan negara berada di bawah bayang-bayang risiko fiskal yang lebih serius.

Beberapa jenis pajak strategis masih menunjukkan performa lemah. PPN dalam negeri dan PPh nonmigas belum menunjukkan titik balik seiring konsumsi yang belum sepenuhnya pulih, tekanan pada sektor manufaktur, serta perlambatan ekspor yang menekan basis pajak. 

Sementara itu, PPh migas terus menghadapi tekanan akibat harga energi global yang bergerak tidak menentu. Ini menandakan bahwa sumber penerimaan yang selama ini menjadi penopang belum memiliki daya dorong yang cukup.

Pemerintah telah mengaktifkan enam program quick win yang diinisiasi Menteri Keuangan untuk memperbaiki penerimaan dalam jangka pendek. 

Namun, realisasi program tersebut tampaknya belum menunjukkan dampak signifikan terhadap angka agregat. 

Digitalisasi proses, intensifikasi wajib pajak eksisting, serta pemanfaatan data lintas kementerian memang berjalan, tetapi belum mampu menghasilkan lonjakan yang bisa menutup pelemahan struktural di lapangan.

Kita menilai bahwa strategi jangka pendek saja tidak cukup. Pemerintah perlu menyiapkan langkah tambahan berupa optimalisasi kepatuhan sektor-sektor bernilai tambah tinggi, perluasan basis pajak yang realistis, serta harmonisasi kebijakan yang memberi kepastian bagi dunia usaha. 



Tentu, pemerintah perlu pula mengupayakan transparansi mengenai kebijakan ini agar publik dan pelaku ekonomi dapat mengukur arah kebijakan fiskal hingga akhir tahun.

Dari sisi fiskal, shortfall yang lebih lebar akan menekan ruang belanja dan meningkatkan tekanan pada defisit. Pemerintah memang masih memiliki bantalan melalui pembiayaan, tetapi ruang tersebut tidak boleh digunakan tanpa perhitungan matang. Credibility fiscal stance menjadi kunci menjaga kepercayaan pasar.

Kinerja shortfall 2025 boleh jadi bisa dipandang sebagai peringatan dini bagi kinerja penerimaan pada 2026. Dengan prospek ekonomi global yang belum stabil, potensi penerimaan tahun depan harus dihitung secara konservatif. 

Kita menyadari bahwa tantangan fiskal tak akan ringan, tetapi disiplin kebijakan, eksekusi program perpajakan yang efektif, serta dialog terbuka dengan dunia usaha akan menjadi fondasi penting memasuki tahun anggaran berikutnya.

Kita berharap pemerintah dapat memanfaatkan sisa bulan tahun ini untuk mengambil langkah-langkah yang lebih terukur dan berdampak. Menghadapi awan shortfall pajak, keberanian untuk melakukan koreksi dan konsistensi implementasi menjadi syarat utama menjaga ketahanan fiskal Indonesia.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...