Skip to main content

'Menghela Nafas' Nikel

Di tengah ambisi Indonesia menjadi pusat pengolahan dan pemasok utama produk nikel dunia, rantai pasok komoditas strategis ini kembali menghadapi tantangan. Sejumlah smelter menghentikan sementara operasinya, membuat pasokan bijih menumpuk di lokasi tambang tanpa kepastian penyerapan. 



Situasi ini memperlihatkan rapuhnya keseimbangan antara kapasitas produksi hulu dan daya serap industri pengolahan di hilir.

Sejak larangan ekspor bijih nikel diterapkan pada 2020, seluruh pasokan bergantung sepenuhnya pada kemampuan smelter domestik. Kebijakan ini, meski strategis dalam mendorong penghiliran, tidak sepenuhnya diiringi pembangunan ekosistem yang utuh. 

Akibatnya, ketika satu simpul dalam rantai pasok terganggu, efek rambatannya cepat menjalar hingga menekan penambang, kontraktor, hingga tentunya penerimaan negara.

Kita mencatat bahwa tekanan terbesar saat ini berada pada pelaku tambang. Harga nikel global tengah lesu, biaya operasional meningkat, dan opsi penyerapan terbatas karena keterbatasan kapasitas smelter. Penumpukan stockpile yang dibiarkan berlarut bukan saja mengganggu arus kas pelaku usaha, tetapi juga berpotensi memicu masalah lingkungan dan sosial di wilayah pertambangan.

Pemerintah merespons dengan menerbitkan PP No. 28/2025 yang membatasi investasi smelter baru yang hanya memproduksi produk antara seperti NPI, FeNi, nickel matte, maupun MHP. 

Langkah ini diarahkan untuk memperdalam rantai nilai sehingga Indonesia tidak berhenti pada produk setengah jadi, melainkan mendorong tumbuhnya industri produk akhir seperti material baterai dan komponen kendaraan listrik.

Kita mendukung arah kebijakan ini. Namun, konsistensi implementasi serta kejelasan peta jalannya perlu diperkuat. Penghiliran tidak boleh berhenti sekadar membangun pabrik, melainkan membangun pasar, teknologi, dan kemampuan industri domestik untuk menyerap produk antara menjadi barang bernilai tinggi.

Tentu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk mengatasi penumpukan bijih saat ini tanpa melemahkan semangat penghiliran.

Kita memandang bahwa solusi strategis harus mencakup sejumlah hal. Pertama, penguatan koordinasi produsen dan smelter melalui mekanisme penyerapan jangka menengah yang terukur. Kedua, percepatan pembangunan smelter yang menghasilkan produk akhir bernilai tambah tinggi, termasuk dukungan teknologi dan pembiayaan yang berpihak. Ketiga, kejelasan roadmap penghiliran yang memberikan sinyal konsisten kepada investor, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Nilai tambah adalah tujuan utama penghiliran. Namun nilai tambah tidak tercipta bila rantai pasok tersendat. Indonesia harus memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil bukan hanya menambah kapasitas industri, tetapi juga memperkuat daya tahan ekonominya.

Kita percaya, dengan tata kelola yang kuat, penghiiran nikel tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, tetapi juga memberi manfaat berkelanjutan bagi pekerja, daerah, dan penerimaan negara. Momentum ini tidak boleh hilang.

Comments

Popular posts from this blog

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...

Ini syarat menjadi pemain sepak bola

Sepak bola itu tak sekedar olah raga menendang bola. Ini olahraga yang full body contact. Menjadi pemain bola tentu ada syaratnya.. bagi saya, seorang pemain bola tentu dimulai dari HATI. Semuanya memang dari hati, kalau hati sudah cinta sama sepak bola, apapun dilakukan. syarat nomor dua, tentu saja BAKAT. tak semua pemain sepakbola menjadi peraih gelar FIFA best player of the year. Pele, Maradona, Ronaldo plontos, Zinedine Zidane, Cristiano Ronaldo, Lionel Messi tak lahir setiap tahun. Syarat nomor tiga, wajib adalah FISIK. Tubuh yang sehat fisik luar dalam lebih diutamakan. Tak perlu menjadi pemain yang setinggi saya (185 cm) untuk menjadi pemain bola andal. Toh Lionel Messi jadi pemain terbaik dunia dengan tinggi 20 cm lebih rendah dari saya. Dulu ada kiper Meksiko terkenal Jorge Campos, dia termasuk pendek tapi bermain di Piala Dunia dengan apik. Bek belakang Paolo Cannavarro hanya 170 cm, terlalu pendek untuk centre back, tapi toh Cannavarro kapten Azurri kala juara dunia 2006, y...