Skip to main content

Pemda Cari Cuan: Pajak Naik, Warga Menjerit! (Belajar dari Kasus Pati)

Pernah nggak sih kamu merasa tiba-tiba tagihan pajak di rumah melonjak kayak harga tiket konser Coldplay? Nah, ternyata bukan cuma kamu yang heran—ini sedang terjadi di banyak daerah di Indonesia. Bahkan di Pati, Jawa Tengah, sampai ada drama “Bupati vs Rakyat” gara-gara kebijakan pungutan pajak yang bikin warga protes habis-habisan.



Fenomena ini bukan sekadar iseng-iseng cari duit. Ada alasan serius di baliknya: APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) lagi “kering”. Pemerintah daerah butuh uang untuk membiayai program, gaji pegawai, infrastruktur, sampai layanan publik. Dan inilah saatnya mereka mengeluarkan jurus kreatif—atau kadang kontroversial—untuk menutup kekurangan itu.


UU HKPD: Aturan Baru, Pajak Lebih Fleksibel

Salah satu “biang kerok” perubahan ini adalah lahirnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, atau akrabnya disebut UU HKPD.

Singkatnya, UU ini memberi local taxing power lebih besar buat pemda. Artinya, pemerintah daerah sekarang punya kewenangan lebih luas untuk:

  • Menentukan tarif pajak dan retribusi daerah.

  • Membuat skema pungutan baru (asal sesuai aturan).

  • Mengatur strategi pendapatan supaya daerahnya nggak terlalu bergantung ke dana pusat.

Kalau dulu daerah lebih banyak “nunggu kiriman” dari pemerintah pusat, sekarang mereka bisa lebih mandiri—tentu saja dengan risiko warga bakal lebih sering dengar kata “naik” di surat pajak.


Kasus Pati: Bupati vs Warga

Di Pati, kebijakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) bikin heboh. Banyak warga mengeluh tarifnya melonjak tajam. Beberapa bahkan sampai menggelar aksi protes.
Bupati berdalih: semua ini demi meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), membiayai pembangunan, dan menjalankan amanat UU HKPD. Tapi warga merasa kebijakan ini mendadak, kurang sosialisasi, dan tidak mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat pasca-pandemi.

Fenomena ini menggambarkan dilema klasik desentralisasi fiskal: di satu sisi daerah butuh uang untuk maju, di sisi lain beban pajak bisa bikin masyarakat tercekik.


PBB di Daerah Lain Juga Melonjak

Pati bukan satu-satunya. Di beberapa kota dan kabupaten, tarif PBB ikut meroket. Bahkan ada yang sampai 200% kenaikannya. Alasan klasiknya sama: meningkatkan PAD.
Masalahnya, kenaikan ini seringkali dianggap tidak seimbang dengan kualitas layanan publik yang diterima warga. Jalan masih berlubang, lampu jalan mati, tapi pajak naik—kombinasi yang bikin netizen langsung nyinyir di medsos.


Kreatif vs Ngebut

Sebenarnya, mencari sumber pendapatan kreatif itu nggak salah. Bahkan, dalam konsep UU HKPD, daerah didorong untuk berinovasi. Misalnya:

  • Mengembangkan potensi wisata dan menarik retribusi dari tiket masuk.

  • Mengoptimalkan aset daerah seperti gedung atau lahan yang bisa disewakan.

  • Membuat event besar yang mendatangkan sponsor dan wisatawan.

Masalahnya, beberapa pemda memilih jalur ngebut: langsung menaikkan pajak tanpa transisi atau edukasi publik. Akhirnya, bukan pemasukan yang lancar, tapi konflik yang membesar.


Anak Muda Harus Peduli

Buat kamu yang masih mikir “Ah, itu urusan orang tua yang punya rumah,” sadar nggak sih kalau efeknya bisa nyampe ke generasi kita? Kenaikan pajak dan retribusi bisa bikin harga properti naik, biaya sewa melonjak, bahkan ongkos usaha jadi lebih mahal.
Kalau anak muda nggak ikut mengawasi kebijakan daerah, jangan heran kalau suatu hari kita “dipaksa” bayar ini-itu tanpa ngerti asal-usulnya.


Transparansi adalah Kunci

Pemda boleh kreatif, tapi harus transparan. Masyarakat mau kok bayar pajak, asal jelas manfaatnya. Jangan cuma minta duit, tapi pembangunan dan pelayanan publiknya nggak kelihatan.
Kasus Pati adalah wake-up call bahwa UU HKPD memang membuka peluang besar untuk daerah, tapi cara eksekusinya harus peka terhadap kondisi warga. Kalau nggak, yang naik bukan cuma PAD, tapi juga tensi sosial.


💬 Coba Jawab Jujur!
Kalau kamu ada di posisi kepala daerah, cara kreatif apa yang bakal kamu pilih untuk nambah pendapatan daerah?

  • 🏞️ Kembangkan wisata & event daerah

  • 🏢 Sewa aset daerah untuk bisnis

  • 🛠️ Optimalkan pajak tapi bertahap

  • 🪄 Cari sponsor & kerjasama swasta

  • ❌ Stop dulu, fokus perbaiki layanan publik

📊 Polling Cepat:

Setuju nggak kalau PBB naik asal layanan publik benar-benar membaik?

  • ✅ Setuju, asal transparan

  • ❌ Nggak setuju sama sekali

  • 🤷 Tergantung kondisi daerahnya

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...