Skip to main content

Payment ID: KTP-nya Transaksi Digital, Siap atau Belum?

 

Bayangin kalau setiap transaksi yang kamu lakukan—mau belanja online, bayar kopi, atau kirim uang ke teman—punya nomor identitas khusus. Nah, itulah ide di balik Payment ID yang lagi digodok Bank Indonesia.




Apa Itu Payment ID?

Sederhananya, Payment ID adalah kode unik (9 karakter) yang akan jadi “KTP” untuk semua transaksi digital kamu. Kode ini terhubung sama:

  • NIK (Nomor Induk Kependudukan)

  • Face recognition (pengenalan wajah)

  • Biometrik (sidik jari, dll.)

Kalau sistem ini jalan, semua riwayat pembayaran kamu bisa dilacak—tentunya dengan izin kamu—mulai dari rekening bank sampai dompet digital.

Buat Apa?

Bank Indonesia bilang Payment ID punya beberapa manfaat:

  1. Mencegah penipuan – jejak digital transaksi lebih jelas.

  2. Tepat sasaran – bantuan sosial bisa disalurkan ke orang yang benar-benar berhak.

  3. Analisis keuangan – bank atau fintech bisa menilai kemampuan bayar kamu lebih akurat (ini penting kalau mau kredit atau pinjaman).

  4. Percepat proses KYC – nggak perlu isi data berulang kali di setiap layanan keuangan.

Bagaimana Cara Kerjanya?

  1. Lembaga keuangan (bank, fintech, dll.) minta akses data kamu.

  2. BI kirim notifikasi ke kamu → kamu setuju atau nolak (consent).

  3. Kalau setuju, data transaksi kamu dibuka ke pihak yang berwenang.

  4. Semua proses lewat sistem aman dan terhubung ke data Dukcapil + data sosial ekonomi.

Kapan Mulainya?

Saat ini Payment ID lagi tahap uji coba buat satu hal dulu: memastikan bantuan sosial nontunai lebih tepat sasaran. Targetnya:

  • 2027 → tahap awal (dipimpin BI)

  • 2029 → tahap terintegrasi lebih luas

Keuntungan Besar

OJK (Otoritas Jasa Keuangan) optimis Payment ID akan bikin sistem kredit lebih pintar dan inklusi keuangan lebih luas. Artinya, makin banyak orang bisa dapat akses ke layanan keuangan resmi.

Tapi… Ada Tantangannya

Menurut pakar kebijakan publik, Achmad Nur Hidayat, Payment ID ini seperti api—bisa menghangatkan, tapi juga bisa membakar.
Masalah yang perlu diwaspadai:

  • Kebocoran data – sejarahnya, data WNI sudah sering bocor.

  • Penyalahgunaan data – kalau tidak ada aturan ketat, bisa disalahgunakan.

  • Privasi – semua transaksi ada dalam satu pintu, risiko jika jatuh ke tangan yang salah.

Negara lain sudah pernah ngalamin:

  • India → data biometrik 1 miliar orang bocor (2018)

  • China → sistem skor sosial digunakan untuk mengontrol perilaku warga

Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?

  1. Perkuat regulasi – UU Perlindungan Data Pribadi harus benar-benar ditegakkan.

  2. Siapkan keamanan digital kelas atas – biar nggak gampang dibobol.

  3. Edukasi publik – masyarakat harus tahu haknya dan cara melindungi data pribadi.

Kesimpulan

Payment ID adalah ide cerdas yang bisa bikin sistem keuangan Indonesia lebih rapi, aman, dan cepat. Tapi seperti teknologi lain, ini butuh pondasi hukum dan keamanan yang kuat sebelum dipakai massal.
Kalau nggak, yang tadinya mau jadi solusi malah bisa jadi masalah baru.

💬 Pertanyaannya sekarang: Kita siap belum?

2024 → Peluncuran konsep di BSPI 2025–2030

2025 → Uji coba untuk bantuan sosial nontunai

2027 → Tahap awal implementasi (BI-led)

2029 → Tahap integrasi penuh ke berbagai sektor



Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...