Skip to main content

Anggaran Daerah Dipotong 25%! Siap-Siap Dampaknya Nyampe ke Hidup Kita

Bayangin kalau jalan yang tiap hari lo lewatin buat berangkat kuliah atau kerja tiba-tiba nggak diperbaiki lagi, atau puskesmas di kampung lo jadi makin sepi tenaga medis. Kedengeran serem, kan? Nah, ini bisa jadi kenyataan kalau polemik soal penurunan Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) di RAPBN 2026 beneran kejadian.




TKDD: Urat Nadi Daerah, Kok Malah Dipotong?

TKDD itu ibarat power bank buat daerah. Dari sinilah duit buat pembangunan jalan, sekolah, layanan kesehatan, sampai gaji perangkat desa ngalir.

Tapi masalahnya, di RAPBN 2026, pemerintah cuma ngasih Rp650 triliun. Padahal tahun 2025 outlook-nya Rp864,1 triliun. Artinya? Turun hampir 25%! 😱

Dan jangan salah, ini bukan angka di atas kertas doang. Kalau duitnya seret, ya otomatis pembangunan di daerah bisa ke-freeze.


Kenapa Dipotong?

Pemerintah bilang, banyak anggaran daerah sekarang langsung dikelola kementerian/lembaga pusat. Katanya sih biar lebih efisien. Tapi, pertanyaannya: efisien buat siapa? 🤔

Di lapangan, pemotongan ini bisa bikin:

  • Jalan rusak makin lama diperbaiki

  • Puskesmas kekurangan dana

  • Program bantuan sosial berkurang

  • Desa susah ngembangin program mandiri


DPR Ribut, Pemerintah Didesak Cari Jalan Tengah

Nggak heran kalo fraksi-fraksi di DPR langsung bersuara, terutama PDI Perjuangan. Mereka minta pemerintah kasih kompensasi dari belanja pusat biar pembangunan daerah nggak mandek.

Fraksi lain juga bilang, jangan cuma mikirin konsolidasi fiskal (alias ngehemat biar defisit nggak jebol), tapi lupa kalau daerah bisa jadi korban.


Pemerintah Punya Alasan, Tapi Daerah Siap?

Oke, kita ngerti pemerintah pengen jaga defisit, apalagi ekonomi global lagi nggak stabil. Tapi kalau semua beban dipindahin ke daerah, ya berat juga. Apalagi nggak semua daerah punya “mesin duit” yang kuat.

Jakarta mungkin bisa hidup tanpa TKDD besar. Tapi gimana dengan daerah-daerah yang masih bergantung penuh sama transfer dari pusat? Jangan-jangan bukannya makin mandiri, malah jadi stagnan.


Harus Ada Jalan Tengah

Kalau beneran dipotong, pemerintah wajib siapin strategi biar nggak jadi bom waktu. Misalnya:

  • Kasih insentif fiskal buat daerah yang kreatif ningkatin PAD (Pendapatan Asli Daerah).

  • Bikin program khusus biar layanan dasar kayak sekolah, kesehatan, dan bansos tetap jalan.

Dan yang paling penting, DPR jangan cuma teriak-teriak di rapat. Harus kasih solusi konkret yang bisa dijalankan.


Jadi, Apa Artinya Buat Kita?

Pemotongan TKDD ini bukan cuma drama politik di Senayan. Ujung-ujungnya, kita yang ngerasain. Dari akses jalan, layanan publik, sampai harga kebutuhan sehari-hari bisa kena imbas.

Kalau pemerintah nggak nemuin jalan tengah, bisa jadi jurang antara kota besar dan daerah makin lebar. Dan itu sama aja kayak bikin Indonesia jalan pincang.


👉 Jadi, menurut lo, pemerintah beneran niat bikin daerah mandiri, atau ini cuma strategi “irit-iritan” yang ujungnya nyusahin rakyat?

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...