Pemerintah punya target ambisius: bikin 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sampai akhir 2025. Keren? Iya. Tapi bahaya juga kalau nggak hati-hati.
Koperasi itu sejatinya bukan cuma tempat minjem duit. Ini institusi ekonomi sosial yang harus dibangun dengan fondasi kuat—manajemen yang rapi, SDM yang paham, dan sistem yang nyambung ke pasar nyata. Tanpa itu? Ya tinggal tunggu waktu aja koperasi-koperasi ini jadi ‘cangkang kosong’ atau lebih parah: jadi tempat kredit macet.
📌 Masalahnya? Kita mau bikin 80 ribu koperasi dalam waktu kurang dari setahun! Coba pikir, bikin 1 koperasi aja butuh pembinaan, pelatihan, dan infrastruktur. Gimana 80 ribu?
Kalau langsung digelontorin dana dari bank-bank BUMN (BRI, Mandiri, BNI) sampai Rp3 miliar per koperasi, tanpa persiapan matang, bisa-bisa kita bikin krisis kredit versi baru. Kayak déjà vu proyek-proyek infrastruktur zaman dulu yang jor-joran tapi banyak yang mangkrak.
🚨 Solusinya?
Daripada kejar kuantitas, lebih masuk akal kalau kita fokus ke kualitas. Caranya?
✅ Bangun koperasi sekunder — semacam holding koperasi yang berisi koperasi-koperasi primer yang udah terbukti sehat.
✅ Kolaborasi sama bank BUMN — misalnya BRI fokus ke koperasi pertanian, Mandiri ke sektor jasa dan dagang, BNI ke industri kecil-menengah.
✅ Skema ini bikin pembiayaan lebih aman — karena disalurkan ke koperasi yang udah punya track record dan anggota yang aktif.
Model begini bukan ide ngawang. Rabo Bank di Belanda, Desjardins di Kanada, dan OP Group di Finlandia udah buktiin. Mereka tumbuh dari koperasi desa, jadi lembaga keuangan besar tanpa ninggalin akar gotong royongnya.
🚀 Apa yang Harus Dilakuin Sekarang?
🔹 Stop bikin koperasi karena kejar target.
🔹 Perkuat koperasi yang udah ada.
🔹 Upgrade manajemen dan jejaring pasarnya.
🔹 Jangan cuma ceremonial launching—tapi bangun ekosistem jangka panjang.
😵 Kalau Dipaksakan?
Target 80 ribu koperasi bisa jadi blunder ekonomi dan jadi beban baru buat sistem keuangan nasional. Ujung-ujungnya, bukan rakyat yang merasakan manfaat, tapi malah trauma dengan kata “koperasi”.
---
✊ Intinya?
Koperasi itu penting. Tapi harus dibangun dengan logika profesional dan berkelanjutan. Bukan sekadar proyek politik atau branding program.
Indonesia nggak kekurangan semangat gotong royong. Yang kurang? Konsistensi, keberanian, dan strategi yang tahan banting. Yuk, bangun koperasi keren, bukan koperasi karbitan.
---
Kalau kamu suka konten kayak gini, jangan lupa share dan kasih opini kamu di kolom komentar. Kita perlu ngobrolin masa depan ekonomi rakyat dengan cara yang realistis dan cerdas.

Comments