Skip to main content

Indonesia Gaspol di Meja Perundingan!

Dua Kesepakatan Dagang Besar yang Bisa Bikin Ekspor & Investasi Melejit



---

🔥 Amerika Nyaris Tarik Rem Darurat, Tapi Indonesia Punya Jurus US$34 Miliar!

Tarif impor 32% dari AS? Nyaris terjadi! Tapi Presiden Prabowo langsung tancap gas diplomasi dan berhasil “membeli” ruang negosiasi lewat komitmen investasi jumbo: US$34 miliar.

Dari angka ini, sebagian besar untuk energi dan pertanian AS—taktik cerdas buat win-win deal.

Langkah ini bukan cuma transaksi dagang, tapi strategi geopolitik yang bikin Indonesia tampil sebagai pemain penting.

📌 Highlight:

- US$15,5 miliar buat beli energi AS

- Investasi Indorama & Danantara di AS: US$8 miliar

- Industri mineral (nikel, feronikel, bauksit) dapat nafas segar dari tekanan tarif

- Daya tawar Indonesia di sektor transisi energi makin kuat

---

🌍 Eropa Akhirnya Luluh: IEU-CEPA Rampung Setelah 19 Kali Negosiasi!

Setelah 19 putaran negosiasi panjang, Indonesia dan Uni Eropa sepakat buka pintu ekspor lebih lebar.

Perjanjian IEU-CEPA bikin banyak produk Indonesia bebas bea masuk ke pasar Eropa yang bernilai triliunan rupiah.

Produk yang akan ngebut ekspornya:

- Kelapa sawit (dengan syarat lingkungan)

- Kakao, kopi, kayu, tekstil, perikanan, hingga alas kaki

Tapi ada catatan penting — Eropa punya aturan superketat soal deforestasi (EUDR). Kalau Indonesia nggak siap dari hulu (verifikasi, sertifikasi, dan pengawasan lingkungan), peluang bisa lepas dari genggaman.

---

⚙️ Manufaktur & Teknologi Nasional Siap Go Global

IEU-CEPA juga bikin produk manufaktur Indonesia lebih kompetitif.

Dengan penghapusan tarif, industri alas kaki, elektronik, dan tekstil bisa ekspansi besar-besaran.

Perusahaan global seperti L'Oreal dan Unilever pun makin percaya dengan pasar RI. Investasi dari sektor energi terbarukan & teknologi diprediksi bakal ikut berdatangan.

---

✊ Kesepakatan Sudah Di Tangan, Tapi PR Kita Masih Panjang

Dua kesepakatan ini bukan akhir, justru titik awal.

Kalau Indonesia mau benar-benar untung, ada beberapa kunci penting:

- Reformasi struktural jalan terus

- Regulasi disederhanakan

- Iklim usaha dipermudah

- Sertifikasi & pengawasan lingkungan diperkuat

Tanpa itu, potensi tinggal jadi potensi.

---

🚀 Dunia Sudah Buka Pintu. Sekarang Giliran Kita Melangkah Lebih Jauh.

Diplomasi ekonomi Indonesia sedang panas-panasnya.

Kini tinggal bagaimana pemerintah, pelaku usaha, dan kita semua bisa memanfaatkan momentum ini untuk membangun ekonomi nasional yang lebih tangguh dan berdaya saing.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...