Skip to main content

Jetstar Asia Pamit: Akhir Era Tiket Murah Intra-Asia

Tepat 31 Juli 2025 mendatang, langit Asia Tenggara akan kehilangan satu suara yang familiar: deru mesin Airbus A320 bermerek Jetstar Asia. Maskapai berbiaya rendah asal Singapura ini mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan seluruh operasinya secara permanen, menandai berakhirnya perjalanan 21 tahun mereka menjelajahi rute-rute regional di Asia Tenggara.


Pengumuman itu datang bukan dari kabin pilot, tapi dari markas besar Qantas Group di Australia, pemilik utama jaringan Jetstar. Jetstar Asia bukan hanya sekadar maskapai murah—bagi banyak pelancong Indonesia, ia adalah tiket menuju petualangan murah meriah ke Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, bahkan Jepang.

Kini, cerita itu akan menjadi bagian dari masa lalu.

Dari Harapan Jadi Penghematan

Jetstar Asia memulai operasinya pada tahun 2004, menyasar pasar yang waktu itu belum terlalu ramai: pelancong muda yang ingin menjelajah Asia Tenggara tanpa membuat kantong bolong. Dengan konsep low-cost carrier (LCC) yang agresif, Jetstar menjadi pelopor perjalanan hemat dari Singapura ke kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali.

Tapi seiring waktu, biaya mulai menumpuk, pesaing makin banyak, dan Jetstar Asia semakin tertekan. Dalam pengumuman resminya, Qantas menyebutkan bahwa biaya operasional meningkat hingga dua kali lipat, khususnya karena harga layanan bandara yang kian melonjak dan harga sewa serta suku cadang pesawat yang tak lagi murah. Belum lagi dampak panjang pandemi yang memukul industri penerbangan global.

“Dengan berat hati, kami akan menghentikan operasi Jetstar Asia mulai 31 Juli 2025,” ujar juru bicara Qantas. “Keputusan ini bukan tentang kegagalan, tapi tentang efisiensi dan strategi jangka panjang.”

Penumpang Setia, Cerita Tak Terlupa

Bagi banyak penumpang, Jetstar Asia bukan cuma maskapai. Ia adalah bagian dari momen penting hidup mereka: honeymoon murah ke Phuket, perjalanan kerja ke Kuala Lumpur, atau liburan keluarga ke Universal Studios Singapore.

“Saya masih ingat, 2017 saya backpacking dari Jakarta ke Tokyo lewat Singapura. Jetstar-lah yang bawa saya ke sana dengan harga Rp600 ribu,” kenang Dimas, seorang travel blogger asal Yogyakarta. “Mendengar mereka tutup seperti kehilangan sahabat lama.”

Jetstar Asia memang memiliki loyalitas tersendiri di kalangan pelancong muda, turis hemat, hingga pekerja migran. Tak heran, banyak yang menganggap kepergian mereka bukan sekadar restrukturisasi bisnis, tapi juga kehilangan “ikon” transportasi regional.

Indonesia: Bertahan di Langit yang Sama

Indonesia sendiri merupakan pasar yang penting bagi Jetstar Asia. Bandara Soekarno-Hatta, Ngurah Rai Bali, dan Juanda Surabaya adalah titik sibuk mereka. Tapi kabar pamit Jetstar bukan akhir segalanya.

Industri penerbangan di Indonesia justru sedang menunjukkan kebangkitan. Pasca-pandemi, jumlah penumpang terus meningkat. Maskapai domestik seperti Citilink, Super Air Jet, dan Lion Air Grup mendominasi langit dengan berbagai rute dan harga kompetitif. Citilink bahkan telah membuka kembali rute-rute regional ke Kuala Lumpur dan Bangkok.

Namun, Indonesia tetap menghadapi tantangan yang tak kecil:

• Harga avtur yang fluktuatif

• Kapasitas bandara yang belum merata di luar Jawa

• Ketergantungan pada pesawat leasing

• Kondisi keuangan maskapai yang rapuh pasca-COVID-19

Kepergian Jetstar Asia bisa menjadi peringatan dini. Bahwa mengoperasikan maskapai bukan sekadar soal menjual tiket murah, tapi tentang strategi bisnis yang adaptif terhadap tekanan global: dari bahan bakar, kurs rupiah, hingga regulasi keselamatan penerbangan.

Qantas: Fokus ke Pasar Domestik

Lantas ke mana 13 pesawat Airbus A320 Jetstar Asia akan pergi? Qantas akan mengalihkan armada tersebut ke pasar domestik Australia dan Selandia Baru. Menurut pernyataan resmi, pesawat-pesawat itu akan memperkuat Jetstar Airways dalam menghadapi lonjakan permintaan di dalam negeri.

Dengan kata lain: Jetstar Asia ditutup bukan karena tidak dibutuhkan, tapi karena ada pasar yang lebih menguntungkan.

Itulah dinamika dunia penerbangan hari ini. Setiap keputusan bisnis adalah langkah catur global. Dan Jetstar Asia—meski ikonik—harus dikorbankan demi langkah yang lebih menguntungkan.

Apa yang Harus Dilakukan Penumpang

Bagi kamu yang sudah terlanjur membeli tiket Jetstar Asia untuk keberangkatan setelah 31 Juli 2025, tenang saja. Maskapai menjanjikan:

✔ Refund penuh bagi seluruh tiket setelah tanggal tersebut

✔ Komunikasi langsung melalui email dan aplikasi resmi Jetstar

✔ Opsi transfer ke rute Jetstar Airways (Australia) bila tersedia

Selain itu, Jetstar Airways (di Australia) dan Jetstar Japan tetap beroperasi seperti biasa. Jadi jangan tertukar—yang tutup hanyalah Jetstar Asia yang berbasis di Singapura.

Antara Langit dan Harapan

Akhir Jetstar Asia adalah gambaran nyata bahwa dunia penerbangan, seindah apapun misinya, tetap tunduk pada kalkulasi bisnis. Tapi yang tak bisa dihitung adalah kenangan yang mereka tinggalkan—di boarding pass lusuh, koper kabin yang pernah dibanting kasar, atau senyum pramugari di pagi buta menuju destinasi impian.

Bagi pelaku industri, ini adalah waktu yang tepat untuk berkaca. Bahwa tak ada tempat untuk stagnasi. Bahwa efisiensi bukan pilihan, tapi keharusan. Dan bahwa industri penerbangan Indonesia pun harus mulai mengatur strategi jangka panjang jika tak ingin bernasib sama.

Jetstar Asia pamit. Tapi langit tetap luas. Dan masih banyak yang ingin terbang lebih tinggi—jika mereka bisa belajar dari cerita ini.

✈ Selamat jalan, Jetstar Asia. Terima kasih sudah membawa kami melintasi awan dan mimpi. Kini giliran langit lain yang menjadi rumahmu.

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...