Skip to main content

Hati Besar dari India, Dil walon ka Dilli

 Azis Armand— Wakil Direktur Utama dan CEO Group Indika Energy (INDY)—langsung mengenakan jaketnya, sesaat kami baru turun dari pesawat dan mendarat di Bandar Udara Internasional Indira Gandhi. “Udaranya dingin,” katanya.

Seusai menyelesaikan urusan keimigrasian, saya yang ikut dalam rombongan kunjungan bisnis INDY ke India, keluar menuju tempat parkir. Udara di pagi pukul 6 itu memang dingin. Di aplikasi AccuWeather, suhu udara di New Delhi berkisar 11-22 derajat celcius.

Selama empat hari di New Delhi pertengahan Desember 2022, kami berkesempatan berkenalan dengan mitra INDY yang mengembangkan bisnis pembangkit listrik tenaga surya terintegrasi.

Kesibukan tampak nyata di Bandara Indira Gandhi ini yang terletak di Delhi Barat, 16 kilometer barat daya di pusat kota New Delhi. Orang lalu lalang. Padat. Namanya juga bandara, pikir saya. Mungkin ini musim libur di akhir tahun.

Mobil jemputan mengantar kami ke Hotel Taj Palace di South West Delhi sekitar 10 km dari bandara. Hotel ini mewah. Fasilitasnya lengkap layaknya hotel bintang lima.

Di lobi dekat meja resepsionis, ada foto-foto para pemimpin negara yang pernah berkunjung ke Taj Palace. Foto Presiden Joko Widodo pun ada ketika tiba di Taj Palace. Sayangnya tidak ada keterangan waktunya.

Di sela-sela pertemuan bisnis hari itu juga, kami pun menyempatkan diri untuk berkunjung ke beberapa lokasi wisata di sekitara New Delhi.

Salah satu lokasi yang kami kunjungi adalah Humayun’s Tomb atau Humayun ka Maqbara. Situs ini, kesan pertama saya, adalah bangunan berwarna merah yang megah dan cantik luar biasa, sangat luas dan besar. Luasnya kira-kira bisa menyaingi Lapangan Monas di Jakarta.

Situs ini merupakan makam raja muslim Maharaja Mughal Humayun. Makamnya memang begitu besar dan mencolok. Saya jadi teringat Taj Mahal di kota Agra.

Hampir mirip memang cerita makam raja-raja di India ini. Jika Taj Mahal dibuatkan oleh sang raja dan dipersembahkan untuk istrinya tercinta, maka sebaliknya, Humayun ka Maqbara justru dibangun oleh sang permaisuri untuk sang suami.

Humayun’s Tomb dibangun oleh istri pertama Humayun Bega Begum (Haji Begum) pada 1569-1570. Bangunan ini dirancang oleh Mirak Mirza Ghiyas, seorang arsitek Persia yang dipilih oleh Bega Begum.

Didekat gerbang putih arah pintu masuk, terdapat gerbang Arab Sarai yang berarti losmen atau hunian. Ketika makam Humayun dibangun, Bega Begum mendatangkan ratusan imam dan juga ahli kaligrafi batu dari Jazirah Arab.

Di bangunan-bangunan yang berada di kompleks dengan kebun-kebun bunga yang menawan ini, terdapat kaligrafi yang terlukis di di bagian atas gedungnya.

Bahkan jika diperhatikan lebih jauh ada dua simbol six-pointed star di atas gerbang masuk makam tersebut. Konon, simbol tersebut merupakan rujukan dari segel Nabi Sulaiman yang biasa digunakan sebagai simbol agama dan budaya yang umum di banyak negara Islam hingga muncul Israel pada 1948.

Sebagai tujuan wisata, tempatnya memang ramai dikunjungi turis. Tiket masuknya sekitar 35 rupee bagi warga India dan untuk turis asing dikenakan 550 rupee atau lebih dari satu juta rupiah. Mahal itu relatif, memang.

Selepas dari Humayun’s Tomb, kami masih sempat melewati India Gate atau Gerbang India, salah satu monumen nasional yang terletak di jantung kota New Delhi.

Mengacu pada Wikipedia, India Gate dirancang Sir Edwin Lutyens. Aslinya gerbang ini dikenal dengan nama "Tugu Peringatan Perang Seluruh India", dan menjadi markah tanah penting di Delhi yang memperingati pengorbanan 90.000 tentara India Britania yang tewas membela Imperium Britania di India pada Perang Dunia I dan Perang Inggris-Afghan III.

Sayangnya kami tak sempat untuk melihat lebih dekat bangunan yang terbuat dari patu pasir merah dan batu granit tersebut.

Besoknya, salah satu tujuan wisata di New Delhi adalah Dilli Haat. Ini merupakan pasar tradisional mingguan (disebut haat), dan menawarkan pertunjukan budaya dan berbagai masakan khas India. Boleh jadi Dilli Haat ini merupakan surga belanja bagi turis yang ingin mencari oleh-oleh dengan harga terjangkau.

Saya baru tahu bahwa tiga pasar Dilli Haat di Delhi. Pertama, yaitu The original 6 acre Dilli Haat berlawanan INA Metro Station (Garis Kuning) di Delhi selatan, didirikan pada 1994.

Kedua, yaitu The 7.2 acre Dilli Haat dekat Netaji Subhash Place Metro Station (Red Line) di Pitampura, di Delhi utara, didirikan pada 2008. Yang terbaru dan terbesar adalah 9,8 acre Dilli Haat di Lal Sain Mandir Marg di Janakpuri, dekat Stasiun Metro Tikak Nagar (Blue Line), di Delhi barat. Diresmikan pada awal Juli 2014.

Waktu dua jam ternyata sangat berlalu begitu cepat ketika kami ‘cuci mata’ di Dilli Haat yang dekat INA Metro Station.

Ada ungkapan untuk menggambarkan kota Delhi. Dil walon ka Dilli. Artinya Delhi adalah milik orang-orang yang berhati besar. Boleh jadi ungkapan tersebut menggambarkan orang-orang Delhi yang ramah dan santun.

Namun, di kota New Delhi, hati besar memang diperlukan ketika Anda berkendara. Mobil dan kendaraan lain seperti bajaj, melaju dengan cepat. Bunyi klakson saling sahut-sahutan.

Bunyi klakson bagi sebagian orang di negara lain boleh jadi mengganggu. Namun di India, setidaknya dari penjelasan sopir kami, bunyi klakson tidak ditanggapi negatif. Boleh jadi suara klakson hanyalah pertanda agar sopir berhati-hati ada kendaraan lain. So, memang perlu hati besar ya.

Hari ketiga, kami menuju lokasi eksotis lainnya, yaitu Taj Mahal di kota Agra. Sopir wisata yang setia menemani kami mengatakan jarak dari New Delhi ke Agra cukup jauh dan bisa memakan waktu hingga 3 jam berkendara.

Apalah arti 3 jam? Kami pun berkendara menuju Agra. Kali ini, kami melewati jalan tol. Tentu saja suasananya tidak sebising di jalanan New Delhi. Bunyi klakson nyaris tak terdengar.

Tiba di dekat lokasi, Soni pemandu wisata telah menunggu kami. Bagi turis, memang disarankan untuk menggunakan jasa pemandu.

Di lokasi sebelum masuk kompleks Taj Mahal, puluhan orang dengan tanda khusus pemandu menanti para turis yang ingin menggunakan jasa mereka.

Ada mobil golf dengan kapasitas 20 orang yang bisa digunakan dari tempat parkir mobil dan bis, untuk menuju ke gerbang masuk Taj Mahal. Tentu saja mobil golf tersebut berbayar dan antre. Siapa cepat dia dapat duduk.

Untungnya pemandu wisata kami telah mempersiapkan segala urusan terutama tiket untuk rombongan kami. Penjagaan memang ketat. Polisi bersenjata laras panjang dengan mata tajam mengawasi semua pengunjung.

Di pintu masuk, pemeriksaan pun ketat. Botol air, hingga korek api dan rokok tak akan lolos dari pemeriksaan polisi. Syukurnya, barang-barang tersebut boleh dititipkan di konter penitipan dan nanti dapat diambil kembali.

Taj Mahal memang lebih luas dan megah. Seperti di Candi Borobudur, turis yang datang begitu banyak. Sinar matahari dilingkupi udara dingin dan kering tak dipedulikan. Kegiatan potret-memotret begitu ramai.

Tukang jasa foto pun panen. Beragam gaya dan lokasi sudut favorit dikuasai oleh mereka. Ada yang menawarkan 2.000 rupee dan kita akan mendapatkan satu album dengan beragam gaya. Macam-macam tawarannya, tetapi spotnya memang indah.

Di samping kiri dan kanan Taj Mahal di masjid yang masuk ke dalamnya pun harus memiliki tiket tersendiri. Namanya juga tempat wisata.

Di dalam Taj Mahal, kita diwajibkan menggunakan plastik alas kaki yang menutupi sepatu. Penjaganya pun galak bersenjata api laras panjang.

Di dalam makam, kita akan mendapati para penjaga akan menyinari batu marmer pualam yang berwarna merah, biru, hijau dan kombinasi, dengan senter kecil mereka. Kegiatan ini seakan ingin menunjukkan bahwa warna-warna tersebut bukan dicat, melainkan warna asli dari marmer yang ditempelkan dan direkatkan menjadi satu.

Kaligrafi ukuran besar diukir dengan begitu indahnya di dinding bangunan Taj Mahal. Siapa sangka, wujud cinta Crazy Rich Zaman Old begitu fantastis diungkapkan melalui bangunan yang begitu indah.

Sebagai negara yang eksotis, India layak masuk daftar destinasi wisata Anda. Mereka punya kebudayaan dan situs-situs budaya yang menopang pariwisatanya. Tentu akan semakin indah, jika kita berkunjung ke sana dengan hati besar.

 


https://koran.bisnis.com/read/20230128/464/1622269/india-hati-besar-dari-india 

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...