Skip to main content

Samurai biru, Restorasi & Kompetisi sepak bola




Namanya Mutsuhito Meiji, umurnya 15 tahun saat terpilih sebagai pemimpin terbesar Jepang sejak Jimmu Tenno yang membuat Jepang memiliki tonggak sejarah untuk selalu bangkit menjadi bangsa yang besar.

Jepang pernah menjadi bangsa yang begitu miskin dengan ciri khas negara agraris pada abad 16 yang dipimpin shogunat klan Tokugawa. Setidaknya alur sejarah itu bisa terlihat kalau anda menonton The Seven Samurai karya sutradara Akira Kurosawa.

Selama 250 tahun, negeri para samurai itu terisolasi dari dunia luar hingga muncul Laksamana Matthew C. Perry yang memaksa Jepang membuka pelabuhan mereka untuk kapal-kapal barat dan perjanjian tarif impor yang merugikan.

Kaisar Meiji naik tahta dengan dukungan anak-anak muda berpikiran maju seperti Ito Hirobumi yang menjadi perdana menteri pertama dan Saigo Takamori, yang keduanya baru berusia 30-an tahun. Mereka punya tantangan membangun negara dalam waktu singkat.

Caranya? mereka mengacu Meiji Charter Oath 1868, bahwa pengetahuan akan dicari ke seluruh penjuru dunia dan dasar-dasar kekaisaran akan diperkuat. Dan gelombang orang Jepang pun menyerbu pusat kemajuan peradaban Amerika, Inggris, Prancis hingga Jerman.

Hasilnya dalam dua dekade, Jepang berhasil memiliki konglomerat (zaibatsu) yang berpikiran modern seperti Furukawa Ichibei, raja tembaga yang memiliki Fuji electric dan Fujitsu, lalu Iwasaki Yataro pendiri perusahaan Mitsubishi, dan Shibusawa Eiichi pendiri Dai Ichi Bank.

Pola zaibatsu itu tetap muncul meski negaranya pernah diguncang gempa bumi dahsyat maupun kehancuran bom atom akibat perang dunia. Namun kini kita mengenal Akio Morita (Sony), Konosuke Matsushita (Panasonic), Toyoda Sakichi (Yoyota), dan tentunya Soichiro Honda (Honda).

Bagi Jepang, tidak ada yang instan untuk mencapai kemajuan dan kejayaan, perlu waktu dan kerja keras. Tak hanya soal bisnis, olah raga pun demikian, seperti membangun cerita sukses mereka di sepak bola.
Sebelum 1990-an, nyaris tak ada yang tahun Jepang memiliki kompetisi sepak bola yang maju bercirikan industrialis. Negeri Matahari Terbit itu baru memiliki kompetisi sepak bola J-League sejak 1992.

Sebelum era J-League, para pemainnya pun belumlah profesional, dan mereka lebih semi amatir. Klub-klub yang ikut kompetisi pun boleh dikatakan adalah anak asuhan konglomerasi seperti Mitsubishi, Yamaha, Nissan, dll.

Jepang sebenarnya dulu begitu tertarik dengan kompetisi sepak bola Indonesia. Sistem Galatama dan Divisi Utama PSSI merupakan salah satu kajian serius yang diminati JFA, federasi sepak bola Jepang.

Ricky Yacobi, striker era 1980-an dari Arseto Solo, pada Juli 1989 dikontrak klub Matsushita Jepang dengan nilai nyaris Rp100 juta. Kala itu dia langsung bergabung dengan Matsuhita yang uji coba dengan timnas Thailand. Namun, Ricky tak mampu beradaptasi dengan udara dingin di Jepang. Hanya empat pertandingan yang sempat dia ikuti—dengan satu gol sempat dicetak.

Jepang tak malu mencoba banyak strategi, mulai dari program naturalisasi pemain seperti Ruy Ramos, mendatangkan pelatih asing Arsene Wenger untuk melatih Nagoya Grampus Eight, hingga mensponsori Hidetoshi Nakata bermain di Perugia Serie-A Italia.

Namun, seperti Restorasi Meiji, revolusi total melanda J-League. Kompetisi menjadi industri tersendiri dan zaibatsu memang tetap menjadi nama klub, tetapi manajemen klub dan para pemain menjadi profesional murni dari sisi finansial dan bisnis.

Hasilnya, Jepang dengan timnas Samurai Biru-nya kini menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola di dunia. Dalam peringkat FIFA, Jepang berada di posisi 19 dunia, dan merekalah yang menjadi pemuncak di level Asia, di atas Australia, Korea Selatan dan Iran.

Bahkan timnas putri Jepang menjadi juara dunia 2011 mengalahkan Amerika Serikat, Jerman dan Prancis yang selama ini mendominasi.

Cerita serupa memang mirip dengan upaya federasi sepak bola Inggris, melakukan revolusi total dan menghasilkan Premiere League sejak 1992. Baik J-League dan Premiere League bisa menjadi contoh sukses bagaimana liga profesional dibentuk dengan proses yang panjang.

Secara bisnis dan kedua kompetisi juga menjadi yang terbaik dan tengah mencari keberuntungan tak sekedar mencetak tim nasional yang tangguh tetapi juga meraih gelar seperti Spanyol dengan La Liga-nya.

Bagaimana dengan Indonesia? sepertinya kita juga membutuhkan Restorasi PSSI, toh kita punya zaibatsu dan konglomerasi yang mau memainkan dananya.

Comments

Popular posts from this blog

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...

Ini syarat menjadi pemain sepak bola

Sepak bola itu tak sekedar olah raga menendang bola. Ini olahraga yang full body contact. Menjadi pemain bola tentu ada syaratnya.. bagi saya, seorang pemain bola tentu dimulai dari HATI. Semuanya memang dari hati, kalau hati sudah cinta sama sepak bola, apapun dilakukan. syarat nomor dua, tentu saja BAKAT. tak semua pemain sepakbola menjadi peraih gelar FIFA best player of the year. Pele, Maradona, Ronaldo plontos, Zinedine Zidane, Cristiano Ronaldo, Lionel Messi tak lahir setiap tahun. Syarat nomor tiga, wajib adalah FISIK. Tubuh yang sehat fisik luar dalam lebih diutamakan. Tak perlu menjadi pemain yang setinggi saya (185 cm) untuk menjadi pemain bola andal. Toh Lionel Messi jadi pemain terbaik dunia dengan tinggi 20 cm lebih rendah dari saya. Dulu ada kiper Meksiko terkenal Jorge Campos, dia termasuk pendek tapi bermain di Piala Dunia dengan apik. Bek belakang Paolo Cannavarro hanya 170 cm, terlalu pendek untuk centre back, tapi toh Cannavarro kapten Azurri kala juara dunia 2006, y...