Skip to main content

wartawan pensiun?

Pensiun Dini 100 Wartawan Senior AS
Oleh A. Jafar M. Sidik
Jakarta, (ANTARA News) - Lebih dari 100 reporter, editor, fotografer dan jurnalis lainnya yang bekerja pada suratkabar terkemuka AS, Washington Post, menerima paket pensiun dini yang ditawarkan manajemen koran yang dikenal dengan inisial "The Post" ini.
Pewarta Frank Ahrens, dalam The Post edisi Jumat (23/5) melaporkan, pensiun dini ditempuh untuk mengurangi beban operasi bisnis meski nantinya kekuatan kerja redaksi (newsroom) berkurang 10 persen dari jumlah yang ada sekarang.
Selama dua dekade terakhir ini, sirkulasi dan pendapatan iklan The Post menyusut sehingga perusahaan terpaksa menawari wartawan dan karyawannya untuk pensiun dini, tapi The Post tak mau memilih opsi pemutusan hubungan kerja secara sepihak.
Pada 1999, The Post meraup pendapatan operasional sebesar 157 juta dolar AS, tapi pada 2007 anjlok menjadi 66 juta dolar AS, sementara total sirkulasi yang pada 1993 mencapai 830 ribu eksemplar kini berkurang menjadi 638 ribu eksemplar.
Sejumlah figur terkenal di koran itu, termasuk para penerima anugerah jurnalisme tertinggi AS, Pulitzer, menyatakan akan pensiun dini.
Mereka itu antara lain spesialis liputan perang Thomas E. Ricks, penulis "feature" Linton Weeks, suami istri spesialis masalah internasional John Ward Anderson dan Molly Moore, dan kritikus film peraih Pulitzer, Stephen Hunter.
Sejumlah jurnalis top lainnya belum memutuskan pensiun dini, namun beberapa minggu ke depan mereka segera mengikuti 100 koleganya itu. Mereka ini diantaranya wartawan politik peraih Pulitzer, David Broder dan kolumnis olahraga yang juga penyiar stasiun televisi khusus olahraga ESPN, Tony Kornheiser.
"Sejak setahun lalu aku sudah menduga tak akan lagi menjadi kritikus film. Aku menempuh langkah yang tak bisa dilakukan The Post yaitu memecat diriku sendiri karena aku sudah terlalu tua," kata Stephen Hunter.
Hunter menyebut film-film sekarang yang tak lagi menarik untuk dikritisi karena banyak memuat efek digital adalah alasan ia menerima tawaran pensiun dini.
Sejumlah wartawan senior lain berencana pensiun dini di periode berikutnya. Termasuk di kelompok ini adalah redaktur "gaya hidup" Deborah Heard, kolumnis ekonomi keuangan Maralee Schwartz dan Tony Reid, redaktur wisata KC Summers, dan kritikus buku Marie Arana.
Para pegawai The Post nonredaksi juga ditawari pensiun dini tapi tak diketahui jumlahnya. Program pensiun dini ini sendiri ditawarkan hanya pada wartawan atau karyawan yang telah berusia 50 tahun ke atas atau minimal bermasa kerja lima tahun.
Tenggat waktu aplikasi pensiun dini jatuh pada 15 Mei 2008, tapi manajemen The Post sudah memasukkan lebih dari 200 nama dalam daftar program pensiun dini.
Wartawan dan karyawan yang setuju menerima paket pensiun dini akan memperoleh kompensasi yang sesuai dengan senioritasnya.
Yang tertua dan terlama bekerja akan mendapatkan uang pensiun sebesar total pendapatan bulanan selama dua tahun (24 bulan) dan dibayarkan segera setelah pegawai dinyatakan pensiun.
Paket pensiun dini kali ini adalah yang ketiga setelah langkah serupa ditempuh pada 2003 dan 2006. Jumlah wartawan The Post pernah mencapai puncaknya pada 2003 sebanyak 908 orang, tapi sekarang berkurang menjadi 780 orang berstatus wartawan tetap. Pascaprogram pensiun dini, jumlah wartawan akan menjadi 700 orang.
DaringProgram pensiun dini memberi kesempatan The Post untuk membenahi lagi organisasi keredaksiannya tanpa harus mengurangi kenyamanan para pembacanya.
"Tak ada rencana menghilangkan kolom atau mengurangi frekuensi penerbitan. Rasionalisasi lebih berpengaruh pada bagaimana kami harus mengorganisasikan liputan," kata Pemimpin Redaksi Philip Bennett.
Apa yang dilakukan The Post umum terjadi pada industri media AS yang dewasa ini terus menurun pendapatannya seperti juga dialami saingan utama The Post yakni New York Times yang telah beberapa kali merasionalisasi pasukan kerjanya.
Untuk mengatasi tekanan ini, para eksekutif media massa menjadi semakin tajam melihat Internet sebagai alternatif menyelamatkan bisnis media, bahkan internet sudah dipandang sebagai suratkabar masa depan.
Kombinasi edisi "daring" (dalam jaringan atau online) dan cetak akan menjamin perusahaan media tetap untung, demikian mereka berasumsi.
Laporan American Journalism Review (AJR) edisi April/Mei 2008 memperkuat keyakinan industri media AS untuk beralih ke internet.
Mengutip laporan pakar, jurnal berisi kajian jurnalisme di AS ini menguraikan fakta-fakta berbalikan antara pendapatan media edisi cetak versus pendapatan edisi daring.
Menurut AJR, tigapuluh tahun lalu 71 persen orang dewasa AS membaca suratkabar, sepuluh tahun lalu telah berkurang menjadi 59 persen, dan kemudian menyusut lagi pada 2007 menjadi 48 persen. Sebaliknya, sampai Desember 2007, pengakses laman-laman berita telah mencapai 63 juta orang. Google malah menyebut 133 juta orang.Sementara itu, pendapatan iklan berita edisi daring meningkat 20 persen menjadi 773 juta dolar AS di kuartal ketiga 2007 terhadap priode sama tahun 2006. Sebaliknya, pada priode sama, pendapatan iklan edisi cetak anjlok sembilan persen.(*)COPYRIGHT © 2008

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...