Demam AI masih melanda dunia. Di banyak negara—Indonesia hingga Amerika Serikat—semua bicara artificial intelligence atau akal imitasi (AI). Dari aplikasi di ponsel hingga robot pelayan dan barista di kedai kopi, tak lepas dari sentuhan AI.
Di dalam pesawat dari SFO menuju Hong Kong, tiba-tiba terlintas ide menulis. Perjalanan itu memang lama, 14 jam. Banyak waktu untuk merangkai ide penulisan tentang artificial intellegence atau akal imitasi (AI).
Saya memang baru saja mengikuti Dreamfest 2025, ajang di San Francisco yang diselenggarakan Salesforce, raksasa dunia penyedia layanan customer relation management (CRM), data cloud, hingga robotics.
Dreamfest 2025 menjadi ajang yang menampilkan lompatan besar dunia teknologi. Selama 4 hari di Moscone Center, banyak hal yang membuka wawasan. Setidaknya membuat saya takjub dengan teknologi AI.
Di event itu, berbagai inovasi kecerdasan buatan (AI) diperkenalkan, memperlihatkan bagaimana teknologi ini kian terintegrasi dalam bisnis dan kehidupan sehari-hari.
Pameran di area Campground Dreamfest menegaskan keunggulan AI dalam berbagai bentuk, mulai dari robot anjing Boston Dynamics, robot humanoid yang mampu berinteraksi secara emosional, agentic AI untuk layanan pelanggan, hingga penerapan teknologi AI pada mobil balap Formula One—semuanya menunjukkan percepatan pesat menuju era kolaborasi manusia dan mesin.
AI memang mempesona. Tren global kini ke arah penggunaan AI untuk banyak hal, meskipun sebenarnya sudah dimulai sedekade silam. Atau jangan-jangan kita di Indonesia yang tak sadar telah tertinggal?
Marc Benioff, pendiri dan CEO Salesforce mengatakan ajang 'pacu jalur' teknologi canggih AI dimulai dengan adanya layanan Cloud yang mendunia sejak 1999.
Kemajuan teknologi terlihat lagi di 2006 dengan masifnya penggunaan mobile devices. Pada 2010, dunia digenggam dalam teknologi social media. Di 2016, teknologi Predictive AI menjangkiti dunia. Sedekade selanjutnya di akhir 2025, Agentic AI adalah era baru. "Ini bukan the next technology, ini the next revolution," ujar Benioff.
Layaknya teknologi, Agentic AI membuat peran akal dan olah tubuh manusia 'tak lagi repot'—istilah yang lebih halus untuk mengganti kata 'invalid'.
Bayangkan selama 25 tahun terakhir sejak Larry Page dan Sergey Brin mendirikan dan memperkenalkan Google, umat manusia tak lagi repot. Ketik saja di mesin pencari di ponsel dan ‘Mbah Google’ akan menjawab semuanya.
Sundar Pichai, CEO Google dan Alphabet Inc., bercerita ke Marc Benioff di sesi Conversation di ajang Dreamforce itu, dia punya pengalaman pribadi.
Pada 1999, Pichai—yang lebih sibuk meneliti teknologi semikonduktor—terkesima dengan layanan internet Google, penantang Microsoft Bill Gates, raksasa peramban Internet Explorer yang mendominasi 90% pangsa pasar dunia saat itu.
Baru pada 2004, Sundar Pichai bergabung dengan Google. Kini sejak 2019, Pichai dipercaya Larry dan Sergey untuk menjadi orang nomor satu di Google dan Alphabet.
Bagi Pichai, teknologi AI adalah Ultimate Expression. Ini bisa berarti bahwa AI adalah puncak dari kemajuan ilmiah dan teknologi, cerminan dari kecerdasan dan kreativitas manusia itu sendiri, atau alat untuk menciptakan personalisasi dan efisiensi yang paling tinggi.
Sepertinya ‘Mbah Google’ semakin tua. Geraknya kesulitan dengan gaya generasi Alpha.
Sundar Pichai tak mau begitu. Pengembangan teknologi memang tak boleh dihambat oleh silo-silo dan egosentris. Dia merombak gaya Google.
Jika beberapa waktu lalu, kita bertanya tentang sesuatu di Google, dia akan memberikan banyak link berita dari media seluruh dunia. Ini menciptakan rezim SEO (search engine optimation) atau optimasi mesin pencari.
SEO pun jadi currency di era digital marketing. Media masa berlomba menjadi nomor satu di peringkat SEO. Data hits dan klik berita yang paling banyak adalah alat menjual yang paling laku bagi media massa.
Tetapi semua itu kini tak lagi sama.
Sundar Pichai—dengan gaya kepemimpinan yang tenang, inklusif, dan berfokus pada produk—mengembangkan teknologi predictive AI dalam mesin pencari. Dia menjadi AI sebagai inti dari hampir semua produk Google.
Mesin pencari Google juga berubah. Ketika kita googling sesuatu, maka yang diberikan Google adalah ringkasan informasi. Tak lagi daftar link berita yang kita dapat. Rezim digital marketing pun berubah dari SEO menjadi GEO (generative engine optimization).
GEO berfokus pada cara konten dikenali, dipahami, dan disampaikan oleh mesin pencari berbasis AI generatif, sedangkan SEO lebih menekankan pada kata kunci dan backlink.
Media massa kelabakan. Mereka pindah mencari pelanggan melalui penikmat media sosial. Jumlah follower pun didapuk menjadi the new currency (lagi).
Perubahan teknologi memang cepat. Google pun memakai agentic AI yang membuat layanan tak lagi hanya berupa browser dan mesin pencari. Sejumlah proyek seperti DeepMind (penelitian AI) dan keberadaan Waymo (mobil otonom tanpa pengemudi) menjadi andalan Google.
"Saya lihat mungkin lebih dari 500 Waymo sudah wara-wiri di jalanan San Francisco," kata Benioff.
Bagi Benioff, agentic AI menghadapi dua isu besar. Trust dan PHK massal di dunia kerja. Masuk akal dong bahwa dua hal itu jadi tantangan besar.
Tkonologi canggih bagaikan pisau tajam di dua sisi. Satu sisi membantu tangan manusia mengiris dan membelah olahan bahan makanan.
Sisi lainnya, AI membuat manusia tak perlu tangan. Peran manusia pun terpotong mesin AI. Robot cerdas tak banyak tingkah polah dan efektif serta (konon) efisien.
Tetapi tentu saja kita tidak begitu saja percaya dan yakin akan kinerja AI. Sesuatu yang terlihat sempurna itu adalah hal yang kurang manusiawi. “Gak natural,” kata mereka.
Belum lagi, soal tenaga kerja. Banyak yang khawatir, buruh pabrik tak lagi dapat upah bekerja. Bahkan pekerja kantoran seperti Anda dan saya bisa terdisrupsi, dilindas Agentic AI. Ini suatu keniscayaan dan kekhawatiran nyata.
Di Dreamforce 2025, isu-isu ini dicari jalan keluarnya. Diskusi para pakar memang intens. Transformasi tenaga kerja di era agentic, boleh jadi adalah suatu keharusan dan kepastian.
Masa depan dunia kerja sedang menapaki babak baru yang disebut sebagai era agentic—era di mana manusia dan kecerdasan buatan (AI) bekerja berdampingan dalam satu ekosistem produktivitas.
Pesan ini mengemuka dalam panel “A Team for the Agentic Era” di ajang Dreamforce 2025, yang menampilkan Denise Dresser, CEO Slack, dan Natalie Scardino, President & Chief People Officer Salesforce.
Dalam diskusi tersebut, keduanya menegaskan bahwa ukuran kinerja dan skala bisnis di masa depan tak lagi ditentukan oleh jumlah tenaga kerja, melainkan oleh ‘kecerdasan’ yang dimiliki organisasi.
“The new currency for scale and growth is intelligence,” ujar Dresser. “Pertanyaannya bukan lagi bagaimana kita bekerja, tapi dengan siapa kita bekerja—karena kini manusia akan bekerja bersama agen (AI).”
Sementara itu, Scardino menggambarkan bagaimana Salesforce telah menggunakan agent internal untuk menyederhanakan pekerjaan repetitif. Di unit layanan pelanggan, AI kini menangani jutaan permintaan secara otomatis.
“Itu membuat staf kami bisa fokus pada pekerjaan bernilai lebih tinggi, seperti konfigurasi kode atau penanganan langsung dengan pelanggan,” ujar Scardino.
Hasilnya, sekitar 30% proses interaksi pelanggan kini diselesaikan oleh agen digital.
AI juga digunakan dalam tim penjualan untuk membantu mengidentifikasi peluang pasar dan mengelola pipeline secara otomatis. “ini membebaskan tenaga kerja dari kerja administratif yang berlebihan,” tambah Scardino.
Dresser menjelaskan Slack kini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sistem operasi untuk seluruh proses bisnis. “Kami telah melihat lebih dari 100.000 aplikasi AI berjalan di Slack. Masa depan kolaborasi bukan lagi aplikasi yang terpisah, tapi platform yang memusatkan manusia, data, dan AI dalam satu tempat,” katanya.
Dalam pandangan Scardino, transformasi AI bukan sekadar adopsi teknologi, tapi perubahan mendasar pada struktur pekerjaan. Salesforce memperkenalkan kerangka “4R”: redesign, reskill, redeploy, dan reinvent. “Setiap peran, dari HRD hingga penjualan, kini sedang didesain ulang,” katanya.
Tentu penjelasan Dresser dan Scardino seperti menebalkan 'ancaman' bagi tenaga kerja konvensional ya?
Menjawab pertanyaan tentang peran SDM di era AI, Scardino menegaskan bahwa fungsi tenaga manusia harus berubah total dari administratif menjadi strategis.
“Peran HR sekarang adalah menghapus birokrasi. Semua produk yang kami buat—dari Career Connect hingga Employee 360—bertujuan memberi ruang bagi manajer untuk fokus pada hal-hal talenta dan inovasi,” katanya.
Dia juga memperkenalkan Workforce Innovation Team dan Ethical Use Council di Salesforce, yang berfungsi memastikan penerapan AI sesuai prinsip etika dan privasi. “Kami memiliki panduan jelas; hanya karena Anda bisa, bukan berarti Anda harus,” tegasnya.
Dresser mengakui kekhawatiran banyak pihak terhadap potensi kehilangan pekerjaan akibat AI. Namun baginya, pandangan itu keliru. “AI bukan penghapus pekerjaan, tapi pengungkit produktivitas. Ini sama seperti kemunculan spreadsheet dulu—bukan menghapus akuntan, tapi membuat mereka lebih bernilai,” jelasnya.
Salesforce sendiri tengah mendorong reskilling besar-besaran. Dengan platform Trailhead dan CareerConnect, seluruh karyawan mendapat akses pelatihan dalam 10 keterampilan masa depan, termasuk literasi data, arsitektur AI, prompt engineering, dan desain percakapan.
Bagi Dresser dan Scardino, keberhasilan AI bergantung pada kepercayaan atau Trust. Salesforce, kata Scardino, menjadi “customer zero” bagi produk-produknya sendiri. “Kami mencoba semuanya dulu di internal, melihat sisi baik dan buruknya. Transparansi adalah bagian dari tanggung jawab kami,” ujarnya.
Dresser menambahkan, pengembangan produk Slack tetap mempertahankan sisi manusia. “Anda bisa menyalin kode Slack, tapi tidak bisa meniru rasa yang ditimbulkan ketika Anda menggunakannya. Kami percaya desain yang manusiawi akan menjadi pembeda utama di masa depan.”
Bagi Dresser, AI itu sebagai pendamping, bukan pengganti.
“Saya membayangkan masa depan di mana setiap orang memiliki digital twin—asisten pribadi berbasis AI yang membantu belajar, bekerja, bahkan mendukung penyandang disabilitas. Ini bukan tentang menggantikan manusia, tapi memperkuat kemanusiaan itu sendiri.”
Arah baru industri teknologi memang menantang. Boleh jadi AI tak begitu menyeramkan seperti kekhawatiran banyak orang.
Mengintegrasikan AI mungkin bukan sebagai alat tambahan, melainkan mitra kolaboratif yang mendefinisikan ulang makna kerja, produktivitas, dan nilai manusia di era digital.
Jadi, sudah AI-kah Anda?







Comments