Skip to main content

Lapangan Pekerjaan Tambah Banyak di 2022?

Tulisan ini terbit di Bisnis Indonesia.


Please visit and read https://bisnisindonesia.id/ untuk mendapatkan informasi mendalam, terkini dan terpercaya.


Kondisi perekonomian nasional semakin memperlihatkan pemulihan yang kian nyata, setidaknya dalam 3 bulan terakhir. Penanganan pandemic Covid-19 yang kian baik oleh pemerintah dan partisipasi masyarakat turut memberikan andil terhadap pemulihan ekonomi.

Sejumlah indicator pun mengonfirmasikan adanya laju positif seperti survey Bank Indonesia yang memperlihatkan kinerja penjualan eceran meningkat secara bulanan pada Desember 2021 didorong permintaan masyarakat yang meningkat.

Bahkan Survei Konsumen Bank Indonesia mengindikasikan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat pada Desember 2021. Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang berada pada area optimis. 

Optimisme yang tetap kuat ditopang oleh persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini yang meningkat. Peningkatan tersebut terutama berkaitan dengan persepsi konsumen terhadap penghasilan saat ini dan ketersediaan lapangan pekerjaan.

Kita melihat dan menangkap keinginan dari masyarakat saat ini bukanlah sekadar catatan dan pernyataan bahwa ekonomi nasional mulai meningkat. 

Salah satu wujud nyata dari denyut perekonomian adalah ada korelasi yang positif dengan ketersediaan lapangan pekerjaan dan penyerapan tenaga kerja yang selama 2 tahun terakhir begitu terpuruk.

Selama pandemic Covid-19 ini, banyak perusahaan dan tempat kerja yang harus menutup usahanya. Dampaknya, banyak pekerja yang harus kehilangan pekerjaan. Ada pekerja yang berusaha berwirausaha, tetapi banyak pula yang terpuruk menjadi pengangguran.

Manufaktur sebagai sebagai salah satu sector ekonomi pun sangat diandalkan untuk kembali beroperasi optimal dan mampu menyerap jutaan pekerja. 

Maklum saja, kontribusi industri manufaktur terhadap produk domestic bruto pada kuartal III/2021 sebesar 17,33%, atau masih menjadi yang tertinggi di antara sektor ekonomi lainnya. 

Keterpurukan sector manufaktur pada 2020 ketika pandemic Covid-19 mulai berlangsung, memang sangat dalam. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan jumlah tenaga kerja pada 2020 terpangkas 1,71 juta orang dari 19.14 juta menjadi 17,43 juta pekerja.

Pada 2021, sector industry yang secara perlahan mulai bangkit membuat penyerapan  tenaga  kerja  meningkat sebanyak  1,2  juta  orang. Hasilnya jumlah tenaga kerja di sektor industri saat  ini  menjadi  18,64 juta orang.

Pada 2022 ini, Kemenperin menargetkan serapan  tenaga  kerja  sebanyak  2,2 juta orang menjadi 20,84 juta  orang.  Hal  itu  seiring  dengan upaya pemerintah untuk memacu investasi sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan.

Tahun ini, target  investasi  berkisar Rp300 triliun hingga Rp310 triliun pada 2020, naik dari  proyeksi  realisasi  2021  yang senilai  Rp280  triliun  hingga  Rp290  triliun.

Kita sependapat dengan keinginan pemerintah agar pemulihan  sektor  industri  yang  sedang  berlangsung  harus  juga  diiringi  dengan  peningkatan  kompetensi dari para pekerja untuk  meningkatkan  daya  saing.

Harapan idealnya adalah pekerja yang berkualitas akan mampu mendorong tujuh sektor  industri  utama  dalam  agenda Making Indonesia 4.0, yakni  industri  makanan  dan  minuman, tekstil dan busana, otomotif,  kimia,  elektronika,  farmasi,  serta  alat  kesehatan.

Ketujuh sektor ini memberikan kontribusi sebesar 70% dari  total  PDB  manufaktur,  65% ekspor manufaktur, dan menyerap 60% pekerja industri.

Dari sisi kesejahteraan, penerapan aturan upah minimum tahun ini yang masih menjadi polemic di beberapa daerah, haruslah segera terselesaikan.

Kita berharap ada upaya negosiasi antara pemerintah, pengusaha, dan para serikat pekerja untuk mencapai titik temu yang relative menguntungkan semua pihak. Tidak bisa semua kemauan dapat diterima semua pihak.

Keberlangsungan usaha tempat bekerja dan kesejahteraan pekerja merupakan dua titik yang harus terus diupayakan untuk mencapai keseimbangan, demi kebangkitan ekonomi nasional yang diharapkan semua pihak.


(https://koran.bisnis.com/read/20220114/245/1488894/editorial-optimisme-penyerapan-tenaga-kerja)

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...