Skip to main content

Pilih Mana Iconnet, Indihome, Gasnet, Firstmedia, Biznet, atau Moratelindo?

Tulisan ini terbit di Bisnis Indonesia.


Please visit and read https://bisnisindonesia.id/ untuk mendapatkan informasi mendalam, terkini dan terpercaya.




"Di mana ada listrik, di situ ada Iconnet. Itu tekad kami," kata Zulkifli Zaini, Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Kalimat tegas Zulkifli itu sebagai penanda bahwa PLN serius menggarap bisnis internet. 
Sebagai badan usaha milik negara (BUMN) yang mengurusi layanan listrik, PLN terjun ke bisnis internet melalui anak usahanya PT Indonesia Comnets Plus (ICON+).  
Melalui anak usahanya tersebut, BUMN setrum ini melahirkan produk layanan internet broadband full fiber optic. Layanan dengan nama Iconnet ini secara resmi diluncurkan oleh PLN pada 31 Mei 2021. Brand tersebut sebelumnya dikenal dengan nama Stroomnet. 
Keseriusan PLN menggarap jasa penyediaan internet di luar bisnis intinya, bukanlah hasil kebijakan mendadak.  
Visi menjadi PLN sebagai perusahaan terkemuka tak hanya memasok listrik dan menerangi Indonesia, membuat manajemen selalu menyiapkan inovasi terbaru. 
Setiap tahun, mengutip situs resminya, puslitbang PLN menyelenggarakan program yang mampu memberikan value creation terhadap bisnis PLN untuk menciptakan inovasi yang fresh dari dunia akademis kemudian dikembangkan menjadi sebuah produk prototipe dan digunakan oleh masyarakat umum. 
Tahun 2021 ini, BUMN listrik ini mengadakan ajang inovasi dengan nama PLN Innovation & Competition in Electricity (ICE). Tak hanya kendaraan listrik, boleh jadi, layanan internet juga hasil dari inovasi manajemen PLN. 
Tak mau tanggung, PLN menargetkan dapat meraih 20 juta pelanggan yang menggunakan jasa layanan internet Iconnet hingga 2024. Adapun jumlah pelanggan PLN saat ini adalah lebih dari 79 juta. Potensi yang sangat besar, tentunya. 
Bagi Zulfikli Zaini dan manajemen PLN, keberadaan Iconnet menjadi strategi diversifikasi usaha perusahaan untuk jangka panjang, dengan melihat prospek pasar digital yang terus berkembang di Indonesia. 
Ekspansi akan dilakukan ke seluruh pelosok Indonesia yang telah memiliki jaringan listrik PLN. Jaringan end-to-end serat optik tersebut akan menjamin kelancaran pertukaran informasi sesuai dengan kebutuhan pelanggan, mulai dari internet andal, cepat, dan sesuai dengan keekonomian masyarakat. 
Karena itu, Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PT PLN (Persero) Bob Saril optimistis dapat bersaing dengan penyedia layanan internet fixed broadband lainnya.  
Keberadaan gardu dan tiang listrik milik PLN yang telah memiliki jaringan fiber optic merupakan suatu keunggulan kompetitif yang saat ini sulit untuk disaingi penyedia layanan internet lainnya. 
Dengan keterjangkauan jaringan yang begitu luas, realibilitas penanganan masalah internet Iconnet harusnya lebih optimal ketika terjadi gangguan layanan. 
Untungnya lagi bagi PLN, pemanfaatan aset gardu induk PLN dapat menekan beban investasi untuk perluasan penetrasi pasar Iconnet.  
Keuntungan lain bagi Direktur Utama ICON+ Yuddy Setyo Wicaksono adalah pemanfaatan big data PLN, serta analisis geospasial untuk melakukan pemetaan target pelanggan hingga tingkat mikro sebagai upaya perluasan jaringan ke seluruh pelosok Indonesia. 
Dengan segala keunggulan tersebut, Iconnet berani bersaing dari sisi harga dan paket promosi yang jadi pembeda dengan provider lainnya. 
Dengan harga Rp202.100, pelanggan dapat memasang layanan Internet Iconnet dan mendapatkan harga spesial untuk tambah daya listrik listrik mulai dari 2.200 VA sampai dengan 11.000 VA. 
 
BIKIN KEKI 
 
Soal harga, PLN memang siap adu murah. Penyedia jasa internet lain pun bisa keki. Kita lihat saja perbandingan dengan layanan serupa dari sesama BUMN, yaitu Indihome milik PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. 
Di layanan paket untuk 10 Mbps, Iconnet berani mematok Rp185.000 per bulan, atau di bawah harga dari Indihome yang dikenakan Rp199.000 per bulan 
Di layanan kecepatan tertinggi, Iconnet menawarkan harga Rp427.000 per bulan untuk 100 Mbps. Lagi-lagi itu menggoyang penawaran Indihome dengan kecepatan sama 100 Mbps yang harganya mencapai Rp1,2 juta per bulan. 
Boleh jadi, Iconnet akan menjadi pesaing potensial. Namun, saat ini, pangsa Indihome milik Telkom masih dominan. 
Sepanjang kuartal I/2021, IndiHome membukukan pendapatan senilai Rp6,3 triliun atau tumbuh 25% secara tahunan. Ada sekitar 133.00 pelanggan baru Indihome selama kuartal I/2021, sehingga total pelanggan mencapai 8,15 juta pada akhir Maret 2021 atau naik 12,3% yoy. 
Adapun, rata-rata pendapatan yang dibukukan dari pelanggan atau ARPU, mencapai Rp266.000, naik Rp4.000 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp262.000. 
Kue pendapatan yang begitu besar memang menggiurkan. Apalagi penerapan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) membuat kebutuhan terhadap akses internet secara kualitas dan kuantitas meningkat pesat. 
Tak hanya PLN dan Telkom, perusahaan pelat merah lainnya yaitu PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGN juga memiliki bisnis internet di bawah PT Telemedia Dinamika Sarana. 
PGN yang kini menjadi sub holding gas PT Pertamina (Persero) tersebut memiliki brand untuk produk internetnya bernama Gasnet. Meski disebutkan sudah berusia 7 tahun, PGN membutuhkan promosi yang massif agar Gasnet lebih akrab di telinga masyarakat. 
Di ranah swasta, provider internet memang sudah banyak. Layanan mereka juga andal dan reliable. Namun, harus diakui factor infrastruktur masih menjadi handicap penyedia jasa internet swasta. 
Perusahaan seperti PT Link Net Tbk. dengan brand First Media terus melakukan ekspansi untuk perluasan layanan. Saat ini layanan First Media telah menjangkau wilayah Jabodetabek, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Malang, Bali, Medan dan Batam. 
LinkNet juga mencoba peruntungan di wilayah Serang dengan target 40.000 residensial melalui kerja sama dengan PT Marga Mandalasakti atau Astra Tol Tangerang- Merak.  
Jika PLN dan Telkom punya jaringan sendiri, Firstmedia mencoba jalur jalan tol milik Astra. Kira-kira begitu persaingannya. 
Peluang itu juga ditangkap PT Jasa Marga (Persero) Tbk. melalui anak usahanya PT JMRB yang akan menyediakan layanan backbone infrastruktur teknologi informasi berupa fiber optic di lahan jalan tol. Namun, Jasa Marga belum akan terjun ke bisnis internet secara langsung. 
Perusahaan lainnya seperti PT Supra Primatama Nusantara (Biznet Networks) dan PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo) dengan brand Oxygend.id. juga berlomba memperluas jaringan dan meningkatkan kualitas layanan. 
Semakin banyak pemain, tentu akan kian baik pula pasarnya. Harga bersaing, permintaan pun masih cukup besar. 
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan dalam 5 tahun terakhir, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) oleh rumah tangga di Indonesia menunjukkan perkembangan yang pesat. 
Jumlah penduduk yang menggunakan telepon selular terus meningkat dan pada 2019 mencapai 63,53% dari total populasi. 
Pertumbuhan penggunaan telepon selular ini diikuti pula oleh kepemilikan komputer 18,78% dan kepemilikan akses internet dalam rumah tangga sebesar 73,75%. 
Namun, tingkat akses pelanggan terhadap jaringan internet tetap hanya mencapai 13,59% atau setara dengan 9,3 juta pelanggan rumah tangga dari total 68,7 juta rumah tangga yang telah terlewati kabel serat optik atau terlayani akses home pass. 
Dari sisi cakupan, jaringan kabel serat optik yang ada juga masih rendah. Cakupan jaringan serat optik hingga ke kecamatan, dengan parameter optical distribution point (ODP), hanya mencapai 35,71% dari total kecamatan 7.175 atau 2.672 kecamatan. 
Tentu kehadiran Iconnet PLN, Indihome Telkom, Gasnet, Firstmedia, Biznet, Moratelindo harus mampu meningkatkan penetrasi layanan internet tetap di masyarakat. Semakin bertambah provider internet, akan berdampak bagi peningkatkan kualitas layanan. 
Bisa jadi krisis pandemic Covid-19 ini merupakan katalisator yang melahirkan perilaku bisnis yang baru agar jasa usaha tetap survive. Mau dikatakan latah ataupun ikut-ikutan sih boleh-boleh saja, tetapi di mana ada inovasi, di situ ada peluang bisnis. 

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...