Skip to main content

wartawan bodrex ala Sofyan Lubis

http://www.antara.co.id/arc/2009/2/4/wartawan-bodrex-sofyan-lubis/


04/02/09 20:27

Wartawan Bodrex Sofyan Lubis



Jakarta (ANTARA News) - Sebutan "wartawan bodrex" alias wartawan gadungan yang bertujuan memeras nara sumber sudah populer di masyarakat. Namun, tidak banyak orang yang tahu mengapa disebut "bodrex" layaknya merek salah satu obat sakit kepala.

Ternyata, wartawan senior Sofyan Lubis secara gamblang menuturkan keberadaan mereka."Mereka disebut 'wartawan bodrex' karena kalau mendatangi narasumber sasarannya selalu beramai-ramai, seperti 'pasukan bodrex' di iklan obat sakit kepala," kata Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) periode 1993-1998 itu dalam peluncuran bukunya yang bertitel "Wartawan? Hehehe" di Jakarta Media Center (JMC), Rabu.

Alumni International Institute for Journalism (IIJ) Berlin, Jerman, pada 1972 tersebut mengemukakan bahwa sepengetahuannya "wartawan bodrex" mulai muncul tahun 1980-an, dan mereka biasa berkumpul di seberang Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat di Jalan Gajah Mada. Tepatnya, mereka berkumpul di Hotel Paripurna, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta.

"Di saat redaksi media massa mengadakan rapat liputan di kantor masing-masing, 'wartawan bodrex' pun rajin rapat di Hotel Paripurna untuk menyusun strategi siapa saja calon korban mereka," ujar Ketua Dewan Penasehat PWI Pusat periode 2008-2013 tersebut.

Hebatnya, menurut Sofyan Lubis, "wartawan bodrex" banyak yang rajin membaca dan berinvestigasi. Tujuannya, mereka menjadi lebih mudah mendapatkan "korban" dengan memantau berbagai berita kasus.

"Kalau korban sudah didapat, mereka pun mendatangi secara beramai-ramai, seperti iklan sakit kepala. Pasukan bodrex datang jreng jreng," katanya, yang ditimpali tawa sejumlah tokoh pers, masyarakat yang hadir di acara peluncuran buku.

Sofyan Lubis pun dalam bukunya menulis, saat dia menjabat Ketua PWI Jakarta Raya (Jaya) dan PWI Pusat rajin memerangi keberadaan "wartawan bodrex" dengan melibatkan pihak keamanan, Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya maupun Komando Daerah Militer (Kodam) Jaya.

Sayangnya, menurut dia, pasca-reformasi keberadaan "wartawan bodrex" kian sulit diberantas lantaran PWI tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi profesi pers.

"Mereka berlindung di balik ketentuan bahwa bukan anggota PWI, sehingga PWI tidak bisa mengambil tindakan. Bahkan, mereka ada yang menyatu untuk mendirikan organisasi atau media massa tanpa status badan hukum yang jelas," katanya.

Apalagi, Sofyan Lubis mencatat, saat ini ada sekira 28 organisasi pers nasional.

Buku "Wartawan? Hehehe" adalah bunga rampai dari berbagai anekdot Sofyan Lubis pribadi maupun kumpulan naskah wartawan lain yang disuntingnya, dan disajikan bergaya tulisan santai.

"Namun demikian, Sofyan Lubis mampu menyajikan gaya penulisan khas, yakni santai yang bisa dianggap serius karena menceritakan pula mengenai latar belakang dari peristiwa," kata�Margiono, Ketua Umum PWI Pusat periode 2008-2013.

Margiono menambahkan, "Ini bukan hal mudah. Ini bisa jadi yang ikut mempengaruhi gaya koran Pos Kota yang dipimpinnya. Pak Sofyan Lubis mampu menyajikan berita dengan gaya bahasa sederhana, dan mudah dipahami siapa pun, terutama masyarakat biasa." (*)

COPYRIGHT © 2009

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...