Siang ini di bulan Mei 2025, jalan tol Janger--sebutan untuk ruas jalan tol Jakarta-Tangerang--begitu ramai. Padat. Macet. Merayap. Penuh dengan truk-truk besar.
Seteringat saya, truk-truk besar dari kawasan industri di Banten dan truk-truk barang dari Pulau Sumatra akan membanjiri tol Janger sejak pagi dari arah Merak ke Jakarta. Biasanya, Selasa adalah hari padat di tol Janger menuju Jakarta.
Setiap Selasa, selepas dari pintu tol Karawaci di Km 21, kepadatan langsung merayap hingga exit Tomang Jakarta Barat. Sepanjang 21 kilometer itulah tingkat kesabaran Anda diuji.
Di 2025 ini sebenarnya sudah jauh lebih baik. Bayangkan bertahun-tahun lalu ketika masih ada gerbang tol terpusat di Karang Tengah Tangerang di Km 10. Macetnya luar biasa. Apalagi pembayarannya masih manual. Harus sabar dunia akhirat.
Pintu tol Karang Tengah resmi ditutup pada pukul 00.00 WIB, Sabtu (9/4/2017).
Gerbang Tol Karang Tengah Dihapus, Tarif Jadi Murah atau Mahal? - Bisnis Liputan6.com
Gerbang tol ini seringkali menjadi biang keladi kemacetan mengingat gerbang tol ini merupakan gerbang tol utama yang melayani sejumlah tujuan sekaligus seperti Jalan Tol Tangerang-Merak yang mengarah ke pelabuhan Merak, Jalan-Tol Tangerang-Serpong yang mengarah ke Serpong dan Bintaro serta Jalan Tol Prof Dr Sedyatmo yang mengarah ke Bandara Soekarno Hatta.
Kemacetan bisa ditekan dengan penutupan Gerbang Karang Tengah karena mekanisme pembayaran tolnya berada di pintu keluar tujuan. Apalagi sekarang pakai kartu pembayaran ataupun stiker Flow, dan teknologi nirsentuh lainnya.
Gerbang Tol Karang Tengah Resmi di Tutup - Kata Kota
Untuk yang berasal dari Jakarta yang hendak keluar di Tangerang maka pembayaran berada di loket pintu keluar, sedangkan yang hendak masuk (pintu tol Tangerang), maka pembayaran tol berada di pintu masuk.
Adapun pintu tol yang telah disediakan oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk. yakni pintu tol Tangerang, Karawaci, Alam Sutera, Cikupa dan Bitung.
Sekarang, pernahkah Anda bayangkan berapa sih keuntungan dari bisnis jalan tol yang begitu ramai, padat, macet?
berapa sih profit dari bisnis yang ongkang-ongkang kaki saja, duitnya masuk sendiri? Orang bahkan rela membayar untuk kemacetan?
Mari kita lihat sejarah jalan tol di Indonesia.
Jalan tol pertama di Indonesia adalah Tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi) yang diresmikan pada tahun 1978. Saat itu, tarifnya ditetapkan sebesar Rp13/km untuk mobil sedan dan Rp20/km untuk truk.
Saat ini, tarif Tol Jagorawi telah mengalami penyesuaian, meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dalam hasil pencarian. Sebagai perbandingan, tarif tol termahal saat ini mencapai Rp 170.500 untuk ruas Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung (Trans Sumatra).
Penolakan Awal terhadap Pembangunan Jalan Tol
Proposal pembangunan jalan tol pertama kali diajukan oleh Raden Sudiro (Wali Kota Jakarta) pada 1955, tetapi ditolak oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS). Alasan penolakan meliputi:
- Kekhawatiran mengganggu lalu lintas.
- Dianggap mirip pajak kolonial yang tidak sesuai dengan semangat kemerdekaan.
Pembangunan baru direalisasikan pada 1973 setelah kemacetan parah di Jakarta, dan Tol Jagorawi selesai pada 1978.
Jumlah dan Panjang Jalan Tol di Indonesia (2025)
Hingga Mei 2025, total panjang jalan tol di Indonesia mencapai 2.893,02 km, tersebar di lima pulau:
Jawa: 1.782,47 km
Sumatra: 941,75 km
Kalimantan: 97,27 km
Sulawesi: 61,46 km
Bali: 10,07 km.
Sebanyak 73 ruas tol dikelola oleh 52 Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).
Ruas Tol Termurah dan Termahal
Termahal:
Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung (Rp 170.500 untuk golongan I).
Tol Balikpapan-Samarinda (Rp 125.500).
Termurah:
Tidak disebutkan secara spesifik dalam hasil pencarian, tetapi tol dengan tarif rendah umumnya berada di Pulau Jawa, seperti Tol Jagorawi yang memiliki struktur tarif historis lebih rendah.
Pemilik Jalan Tol di Indonesia
Pemilik jalan tol terdiri dari konglomerat swasta dan BUMN:
Swasta:
- Jusuf Hamka (PT Citra Marga Nusaphala Persada): Tol Cawang-Tanjung Priok, Depok-Antasari, dll.
- Anthoni Salim (PT Nusantara Infrastructure): Tol layang MBZ, dll.
- William Soerjadjaja (Astra Tol Nusantara): Tol Tangerang-Merak, Cikopo-Palimanan, dll.
BUMN:
PT Jasa Marga, PT Hutama Karya, dan PT Waskita Karya mengelola mayoritas tol, seperti Tol Trans Jawa dan Trans Sumatera.
Kebijakan Pemerintah tentang Tol dan Tarif:
1. Penyesuaian Tarif:
Diatur dalam PP No. 15/2005 dan revisinya, dengan pertimbangan inflasi, biaya operasi, dan kelayakan investasi.
Kenaikan tarif dilakukan setiap 2 tahun jika Standar Pelayanan Minimal (SPM) terpenuhi. Contoh: 22 ruas tol akan naik tarif bertahap Mei-Desember 2025.
2. Kontrol Kualitas:
BPJT menunda kenaikan tarif jika BUJT gagal memenuhi SPM (keamanan, kenyamanan, keselamatan).
Ekspansi Infrastruktur:
Target tambahan 203 km tol baru pada 2025, termasuk Tol Binjai-Langsa dan Solo-Yogyakarta.
So dengan konsesi hingga puluhan tahun, siapa yang dapat cuan tebal dari bisnis jalan tol?
Gen Alpha; "Lewat sini, bayar elu!! jalan eyang gw nih"



Comments