Skip to main content

Berharap Berkah dari Merger 3 Bank Syariah

Tulisan ini terbit di Bisnis Indonesia.


Please visit and read https://bisnisindonesia.id/ untuk mendapatkan informasi mendalam, terkini dan terpercaya.


Tiga bank syariah milik pemerintah telah bersepakat untuk melakukan penggabungan usaha atau merger. Ketiganya—PT Bank BRIsyariah Tbk. (BRIS), PT Bank Syariah Mandiri (BSM) dan PT Bank BNI Syariah (BNIS)— akan menjadi satu bank pada 1 Februari 2021.
Bank hasil merger akan memiliki modal dan aset yang kuat dari segi finansial, sumber daya manusia, sistem teknologi informasi, maupun produk dan layanan keuangan untuk dapat memenuhi kebutuhan nasabah sesuai dengan prinsip syariah.
Maklum saja, bank tersebut nantinya ditunjang oleh lebih 20.000 orang karyawan yang tersebar di 1.200 cabang dan didukung dengan 1.700 jaringan ATM di Tanah Air. 
Dengan total aset yang akan mencapai Rp214,6 triliun dan modal inti lebih dari Rp20,4 triliun, bank hasil merger ini punya target dan ambisi yang tidak main-main. Kekuatan finansial itu bisa membuat bank hasil merger akan masuk ke dalam jajaran 10 bank terbesar di Indonesia dari sisi aset.
Tak hanya itu, bank syariah tersebut—tetap menjadi perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan ticker code BRIS— ditargetkan masuk dalam daftar 10 bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar.
Rencana besar tersebut tentu saja sangat layak untuk didukung semua pihak. Kita ingin layanan perbankan, baik konvensional dan syariah, bisa menjadi solusi yang komprehensif bagi semua segmen nasabah.
Kita mau perbankan syariah tiap tahun terus bertumbuh dan lajunya secepat saudara tuanya di sektor konvensional. Saat ini penguasaan pangsa pasar perbankan syariah masih saja kecil. Baru akhir 2019, perbankan syariah bisa sedikit keluar dari jebakan pangsa pasar 5%.
Tak hanya postur perusahaan yang besar dan kuat modal, perbankan syariah juga harus berupaya keras meningkatkan kualitas layanannya.
Di era saat ini yang penuh dengan aspek layanan digital, kantor fisik bank mungkin tak akan lagi berkembang secara masif seperti dulu.  
Namun, kebutuhan akan layanan perbankan sejatinya tak akan surut. Orang tetap memerlukan peran bankir dan jasa layanan keuangan. Di situlah kita harapkan bankir-bankir syariah aktif memainkan peran mereka.
Saat ini semua pihak berlomba-lomba memperkuat layanan digital untuk memudahkan mereka menggapai keinginan dan kebutuhan nasabah. 
Semua transaksi yang berbasis digital menjadi kultur bisnis baru, yang dapat memberi manfaat kepada bank dan nasabahnya. Karena itu, kekuatan layanan digital pun harus dikuasai oleh bank syariah jika ingin dapat berkompetisi dengan bank lain. 
Upaya untuk mencapai hal tersebut sebenarnya sudah terlihat dari visi dan misi dari bank-bank syariah yang beroperasi saat ini. Semua bank syariah ingin terlihat sebagai bank modern yang menjangkau dan memenuhi seluruh kebutuhan nasabah.
Segmen nasabah kini juga semakin meluas. Kaum milenial kian melek jasa keuangan. Kebutuhan mereka akan pembiayaan, baik untuk kegunaan konsumer maupun usahanya meningkat cukup pesat.
Kita ingin bankir-bankir syariah cekatan dan gesit untuk menangkap banyak peluang saat ini. Kekuatan populasi muslim di Indonesia yang begitu besar adalah satu hal positif. Namun, bagi masyarakat, kelengkapan dan keterjangkauan terhadap layanan bank adalah kebutuhan mutlak. 
Untuk itu, keberadaan bank yang besar dan kokoh dengan modal yang kuat harus bisa menjadi berkah bagi industri perbankan syariah. Postur yang besar, harus dimanfaatkan bank syariah hasil merger untuk meningkatkan penguasaan pangsa pasar.
Dengan penetrasi aset syariah yang terus menguat, Indonesia harus bisa menjadi sebagai salah satu pusat keuangan syariah global pada tahun depan.
Tentu yang terpenting, kita ingin melihat bank syariah dengan kapasitas terbesar tersebut mampu memberikan banyak manfaat kepada masyarakat sekaligus berkontribusi meningkatkan perekonomian negeri ini.

Comments

monyet said…
JACKPOT yang besar hanya di AJOQQ :D
WA : +855969190856

Popular posts from this blog

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...

Ini syarat menjadi pemain sepak bola

Sepak bola itu tak sekedar olah raga menendang bola. Ini olahraga yang full body contact. Menjadi pemain bola tentu ada syaratnya.. bagi saya, seorang pemain bola tentu dimulai dari HATI. Semuanya memang dari hati, kalau hati sudah cinta sama sepak bola, apapun dilakukan. syarat nomor dua, tentu saja BAKAT. tak semua pemain sepakbola menjadi peraih gelar FIFA best player of the year. Pele, Maradona, Ronaldo plontos, Zinedine Zidane, Cristiano Ronaldo, Lionel Messi tak lahir setiap tahun. Syarat nomor tiga, wajib adalah FISIK. Tubuh yang sehat fisik luar dalam lebih diutamakan. Tak perlu menjadi pemain yang setinggi saya (185 cm) untuk menjadi pemain bola andal. Toh Lionel Messi jadi pemain terbaik dunia dengan tinggi 20 cm lebih rendah dari saya. Dulu ada kiper Meksiko terkenal Jorge Campos, dia termasuk pendek tapi bermain di Piala Dunia dengan apik. Bek belakang Paolo Cannavarro hanya 170 cm, terlalu pendek untuk centre back, tapi toh Cannavarro kapten Azurri kala juara dunia 2006, y...