Skip to main content

Aturan LTV, Bukan Sekadar Helaan Nafas

Suaranya tenang dan tanpa emosi, Perry Warjiyo tegas mengatakan, “ Aturan ini baru bab pertama, nanti ada kelanjutannya!”.

Adegan itu bukanlah bagian dari pidato politik atau pun pernyataan politik yang disampaikan PerryWarjiyo di depan kami para wartawan sejumlah media nasional. Pria kelahiran Sukoharjo-Solo 54 tahun silam itu berbicara dalam konteks aturan perbankan. Semua mahfum dan tersenyum.

Perry, Deputi Gubernur Bank Indonesia terpilih pada 19 Maret 2013 itu, memang menjelaskan soal kebijakan loan-to-value ratio (LTV) .

Ketentuan itu merupakan aturan rasio antara nilai kredit maksimum yang dapat diberikan bank terhadap nilai agunan pada awal pemberian kredit untuk pemilikan rumah (KPR) dan minimum uang muka atau down payment terhadap kredit kendaraan bermotor (KKB) yang berlaku pada Juni 2012.

Pengaruh ketentuan LTV memang signifikan memberikan dampak terhadap kondisi penyaluran kredit konsumsi dari bank serta penyerapannya di sektor riil.

Permintaan kredit kendaraan langsung limbung, tetapi dampak terhadap kredit properti ternyata hanya sementara. Apa pasalnya? Mari kita lihat datanya.

Selama 2011, akselerasi kredit rumah dan kendaraan cukup tinggi jika melihat KPR yang melonjak 33,12% dan KKB yang 32,6%. Namun, BI melihat kualitas kreditnya berpotensi bermasalah.

Rasio non-performing loan (NPL) untuk KPR terutama untuk tipe di atas 70 meter persegi cenderung di atas rata-rata historisnya. Begitu pula dengan KKB yang NPL-nya 2% atau di atas rerata historisnya di level 0,6%.

Sejak beberapa tahun terakhir, semua orang berlomba-lomba membeli rumah. Ada yang karena kebutuhan primer, dan tak sedikit yang membeli bukan untuk dihuni tetapi diinvestasikan kembali. Booming harga properti di segmen menengah ke atas ( tipe > 70 m2) bisa membuat harga rumah
tipe kecil kian mahal dan tak terjangkau.

Nah, aturan rasio LTV memang menyasar segmen tipe > 70 m2, baik rumah tapak, rusun ataupun apartemen yang cenderung dijadikan investasi.

Aturan selalu memberikan celah. Ketentuan LTV yang didasarkan SE BI No.14/10/DPNB tanggal 15 Maret 2012 itu ternyata memberikan masa transisi hingga berlaku efektif per Juni 2012.

Bankir tentu saja memanfaatkan masa tiga bulan tersebut. Pertumbuhan KPR tipe >70m2 selama periode Maret –Juni 2012 melonjak dari posisi 38% (yoy) menjadi 50% (yoy). Bahkan pertumbuhan kredit apartemen meroket dari 32% (yoy) menjadi nyaris 90% (yoy).

Setelah Juni hingga September 2012, saat aturan LTV mulai diterapkan, adjusment pertumbuhan pun terjadi. Pertumbuhan KPR tipe > 70 melambat ke 43% dan kredit apartemen hanya 70%.

Namun, data itu hanya helaan nafas sejenak bagi para bankir. Selama kuartal IV 2012, kredit properti kembali berkibar, terutama segmen KPR tipe > 70m2.

Dari data BI terlihat rerata rasio LTV untuk KPR/KPA pada 56 bank penyalur kredit properti mencapai 68%. Rumah besar laris manis kembali.

Tak pelak, berdasarkan rencana bisnis bank (RBB) 2013 dari 10 bank yang mencatatkan pertumbuhan KPR tertinggi, mayoritas bank tetap berencana untuk meningkatkan pembiayaan KPR untuk tipe >70m2.

Bagi Perry Warjiyo, kondisi tersebut memang bisa dimengerti. “Semua orang memang membutuhkan rumah dan tak ada aturan yang langsung mencapai tujuan. Kami akan mengkaji kembali apakah aturan tersebut nanti akan melihat status rumah, apakah rumah pertama, kedua atau investasi, dan lainnya.”

DP kendaraan

Lain lagi ceritanya di segmen kredit kendaraan bermotor. Aturan LTV bagi kendaraan disyaratkan mengandung down-payment (DP) minimal 25% untuk roda dua dan uang muka kredit roda empat (non produktif) sebesar 30%.

Survei BI pada Desember 2012 menghasilkan data sebanyak 42,3% responden bank dan 63% responden perusahaan leasing menyatakan kredit kendaraan langsung anjlok, terutama untuk roda dua atau motor.

BI juga melakukan survei terhadapi tiga produsen mobil (Toyota, Nissan dan Suzuki) yang memiliki pangsa pasar 51,6% dan tiga produsen sepeda motor (Kawasaki, Honda, dan Yamaha) yang mengusai 93,4%.

Keenam korporasi itu mencatatkan pola pembelian melalui kredit yang cukup besar yaitu 68% dari total penjualan mereka.

Dua produsen motor terbesar langsung menyatakan aturan LTV membuat penjualan seluruh tipe motor anjlok. Begitu pula dengan dua produsen mobil yang menyatakan penjualan mobil dengan harga kurang dari Rp150 juta langsung turun drastis.

Hanya satu dari masing-masing produsen mobil dan motor yang masih melakukan observasi dan tetap optimistis karena daya beli masyarakat yang dinilai masih cukup kuat dan baru berdampak kepada perusahaan setelah 1 tahun penerapan.

Pada Desember 2012, dari data BI, kredit kendaraan roda dua tumbuh negatif sebesar -27,7%, dibandingkan dengan Desember 2011 yang positif 4%. Adapun kredit mobil per Desember 2012 tumbuh 4,5% atau anjlok dari posisi sama 2011 sebesar 62,2%.

Bagi para produsen kendaraan bermotor, target laba dan untung tetap harus dikejar. Mereka bersiasat dengan memberikan subsidi DP, meluncurkan produk yang lebih murah, potongan harga dan hingga meningkatkan kualitas layanan jual.

Namun, bagi Perry Warjiyo dan bank sentral, aturan LTV tetap akan disesuaikan kembali jika hasil penilaian cenderung memperlihatkan potensi NPL yang mengkhawatirkan. Layak disimak bab-bab selanjutnya mengenai kiprah aturan LTV ke sektor riil.
Hasil survei Bank Indonesia 404 responden rumah tangga & 96 perusahaan properti & otomotif
selama November-Desember 2012

Alasan dampak aturan LTV belum dirasakan responden:

- Kriteria sudah disesuaikan 54,5%
- Permintaan masih tinggi 31,8%
- Peningkatan pelayanan 18,2%
- Penurunan suku bunga 13,6%
- Lainnya 9,1%

Strategi responden meminimalkan dampak aturan LTV:
- Meningkatkan pelayanan 76,1%
- Meningkatkan promosi 63,0%
- Turunkan suku bunga 19,6%
- Meningkatkan hubungan ke developer 2,2%
- Meningkatkan hubungan ke dealer 2,2%

(fahmi.achmad@bisnis.co.id)

Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...