Skip to main content

Newsweek, Keniscayaan & Daun Kelor


Teknologi mengubah segalanya. Dunia seperti kembali berubah menjadi selebar daun kelor. Mungkin begitu perspektif yang bisa dipakai melihat peta media massa di dunia saat ini.

Adalah Newsweek yang bikin heboh pekan ini.

"Era cetak majalah dengan tinta akan berakhir di Newsweek pada 31 Desember 2012," kata editor Newsweek, Tina Brown, seperti dikutip Huffington Post, 18 Oktober 2012.

Kalimat Tina Brown bukan berarti majalah itu menjadi almarhum. Jurnalis never die, they just transform... (fade away? nggak tau deh)

Newsweek mengambil langkah untuk beralih menjadi Majalah Digital. yaa Digital.. tanpa kertas... hanya layar LCD dari beragam gadget di tangan Anda.

Gratis? tentu tidak... bayar dong... mana ada di dunia ini gratisan!

Kok bisa beralih ke Digital? Yaa bisa dong! namanya juga usaha.

Maklum saja selama 12 tahun terakhir, seperti dilansir Tempo.co, oplah majalah Newsweek terus menurun. Catatan Biro Audit Sirkulasi pada tahun 2000 lalu, penjualan Newsweek berada di angka 3.134.046 lembar. Tujuh tahun kemudian oplahnya mulai sedikit turun menjadi 3.128.391. Pada semester satu 2012, penjualannya hanya tinggal 1.527.157 eksemplar.

Newsweek bukan satu-satunya majalah Amerika yang oplahnya naik-turun. Berikut penjualan Time, New Yorker, Bloomberg Businessweek, Forbes, dan the Economist berdasarkan data yang dikumpulkan Biro Audit Sirkulasi berdasarkan perbandingan antara semester satu tahun 2011 dan tahun 2012.

1. Time. Dari angka 3.298.390 turun ke 3.276.822.
2. Newsweek. Dari oplah 1.519.492 ke angka 1.527.157.
3. New Yorker. Beroplah 1.047.260 dan merosot ke angka 1.043.792.
4. Bloomberg Businessweek. Oplahnya naik dari 932.568 ke 993.267 eksemplar.
5. Forbes. Oplahnya turun dari 930.897 ke 923.848 eksemplar.
6. The Economist. Dari angka 844.766, oplahnya naik ke 847.313.

Meskipun oplahnya ikut turun seperti Newsweek, tapi Time belum berniat mengakhiri majalah cetaknya. Menurut editor manajer Time, Richard Stengel, Time telah memiliki segala aspek yang dibutuhkan bisnis majalah.

Sedangkan menurut editor Newsweek, Tina Brown, bisnis percetakan dengan tinta serta kertas tidak lagi relevan bagi majalah pada saat ini. Sebab, biaya kertas semakin mahal.

Dia berpendapat bahwa era digital akan membantu perkembangan Newsweek. Dengan format digital, Newsweek dapat menggapai banyak pembaca di seluruh dunia. "Apalagi sudah banyak orang menggunakan telepon seluler pintar untuk mengakses informasi," ujar Brown.

Namun, kata editor digital Adversiting Age, Michael Learmonth, media berpenampilan non-cetak belum tentu mudah merekrut pembaca. Apalagi majalah itu disajikan dalam bentuk berbayar. "Sebab, ada jutaan media yang menawarkan informasi secara cuma-cuma, tidak berbayar," kata Learmonth dalam ABC News, Kamis, 18 Oktober 2012.

Nah, bagi saya semua yang dikatakan itu adalah; Keniscayaan.


Anak saya pun sudah saya belikan gadget 7 inci untuk maen game n lihat Internet..ah Dunia kini terangkum dalam layar selebar daun kelor.


Comments

Popular posts from this blog

A Story of Puang Oca & Edi Sabara Mangga Barani

Mantan Wakapolri M. Jusuf Mangga Barani mengaku serius menekuni bisnis kuliner, setelah pensiun dari institusi kepolisian pada awal 2011 silam. Keseriusan itu ditunjukan dengan membuka rumah makan seafood Puang Oca pertama di Jakarta yang terletak di Jalan Gelora Senayan, Jakarta. "Saya ini kan hobi masak sebelum masuk kepolisian. Jadi ini menyalurkan hobi, sekaligus untuk silaturahmi dengan banyak orang. Kebetulan ini ada tempat strategis," katanya 7 Desember 2011. Rumah makan Puang Oca Jakarta ini merupakan cabang dari restoran serupa yang sudah dibuka di Surabaya. Manggabarani mengatakan pada prinsinya, sebagai orang Makassar, darah sebagai saudagar Bugis sangat kental, sehingga dia lebih memilih aktif di bisnis kuliner setelah purna tugas di kepolisian. Rumah makan Puang Oca ini menawarkan menu makanan laut khas Makassar, namun dengan cita rasa Indonesia. Menurut Manggabarani, kepiting, udang dan jenis ikan lainnya juga didatangkan langsung dari Makassar untuk menjamin ke...

Preman Jakarta, antara Kei, Ambon, Flores, Banten dan Betawi

BERDIRI menelepon di pintu pagar markasnya, rumah tipe 36 di Kaveling DKI Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Umar Ohoitenan Kei, 33 tahun, tampak gelisah. Pembicaraan terkesan keras. Menutup telepon, ia lalu menghardik, “Hei! Kenapa anak-anak belum berangkat?” Hampir setengah jam kemudian, pada sekitar pukul 09.00, pertengahan Oktober lalu itu, satu per satu pemuda berbadan gelap datang. Tempat itu mulai meriah. Rumah yang disebut mes tersebut dipimpin Hasan Basri, lelaki berkulit legam berkepala plontos. Usianya 40, beratnya sekitar 90 kilogram. Teh beraroma kayu manis langsung direbus-bukan diseduh-dan kopi rasa jahe segera disajikan. Hasan mengawali hari dengan membaca dokumen perincian utang yang harus mereka tagih hari itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba Hasan membentak pemuda pembawa dokumen. Yang dibentak tak menjawab, malah melengos dan masuk ke ruang dalam.Umar Kei, 33 tahun, nama kondang Umar, tampak terkejut. Tapi hanya sedetik, setelah itu terbahak. Dia tertawa sampai ...

PREMAN JAKARTA: Siapa bernyali kuat?

Saya paling suka cerita dan film tentang thriller, mirip mobster, yakuza, mafia dll. Di Indonesia juga ada yang menarik rasa penasaran seperti laporan Tempo 15 November 2010 yang berjudul GENG REMAN VAN JAKARTA. >(http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html) TANGANNYA menahan tusukan golok di perut. Ibu jarinya nyaris putus. Lima bacokan telah melukai kepalanya. Darah bercucuran di sekujur tubuh. "Saya lari ke atas," kata Logo Vallenberg, pria 38 tahun asal Timor, mengenang pertikaian melawan geng preman atau geng reman lawannya, di sekitar Bumi Serpong Damai, Banten, April lalu. "Anak buah saya berkumpul di lantai tiga." Pagi itu, Logo dan delapan anak buahnya menjaga kantor Koperasi Bosar Jaya, Ruko Golden Boulevard, BSD City, Banten. Mereka disewa pemilik koperasi, Burhanuddin Harahap. Mendapat warisan dari ayahnya, Baharudin Harahap, ia menguasai puluhan koperasi di berbagai kota, seperti Bandung, Semaran...